Showing posts with label resep bebas gluten. Show all posts
Showing posts with label resep bebas gluten. Show all posts

Saturday, January 30, 2016

Angsio Kepiting ala Mamaw

Bahan:
1 kg kepiting (3 ekor ukuran sedang)
4 bawang merah, iris halus
3 bawang putih, geprek, cincang halus
1/2 bawang bombay ukuran kecil, cincang halus
1-2 tomat merah, potong 8
1 cabe merah, potong 1 cm
1 bawang daun, potong 2 cm
2 cm (seruas jempol) jahe, BAKAR, iris tipis
1 telur ayam, kocok lepas atau 3 sdm tepung maizena
3-4 sdm kecap manis
3-4 sdm saus tiram
600 cc air (saya bikin buanyak sausnya, kalo mau dikurangin, porsi bumbu dikurangin juga)
Garam
Merica
Gula pasir
3 sdm minyak goreng

Cara:
1. Kepiting dibelah 2, bersihkan, geprek capitnya.
2. Tumis berurutan: bawang merah, bawang putih, 2 menit kemudian jahe, 2 menit kemudian bawang bombay, setelah layu dan harum masukkan tomat, daun bawang, cabe (karena saya mau gak pedes, jadinya cabe saya masukkan belakangan dan bijinya dibuang. Kalo mau pedes, banyakin cabenya dan dimasukkan lebih awal).
3. Setelah bumbu mateng, masukkan kepiting, aduk-aduk supaya bumbu merata, lalu biarkan sekitar 10 menit sambil ditutup (diungkep). Kalo udah wangi dan kepiting mulai berwarna merah, masukkan air, aduk supaya matengnya kepiting merata.
4. Setelah seluruh kepiting berwarna merah merata, masukkan garam, merica, gula pasir, kecap manis, saus tiram. Koreksi rasa.
5. Kentalkan kuahnya dengan memasukkan telur (udah dikocok lepas ya) perlahan-lahan sambil diaduk. Atau boleh juga pakai tepung maizena yang dilarutkan dengan sedikit air.
Udah deh.

Masih nangkring di kompor, aye bukan foodie blogger yang fotonya cantik2 sih :P
Yang penting bukan hoax ya ;)


Note:
1. Cara membersihkan kepiting:
Kepiting ditelentangkan, dibelah jadi 2. Buang bagian mulut, penutup perutnya, sama insang yang kotor. Kalo insang yang bersih dibiarkan. Insang bikin kaldu kepiting jadi gurih, jadi jangan dibuang semua. Sikat lumpur yang melekat di cangkang pake sikat gigi bekas. Geprek capit dengan ulekan.

2. Cara memilih kepiting:
Kepiting betina punya penutup perut berbentuk setengah lingkaran, sedangkan yang jantan penutup perutnya berbentuk segitiga. Kalo saya sih suka kepiting betina, dagingnya lebih banyak dan kadang ada telurnya. Pilih kepiting yang berat, yang ringan kopong, dagingnya sedikit.
Sekedar catatan, bu mentri Susi Pudjiastuti udah melarang penangkapan kepiting telur, untuk menjaga kelestariannya di alam. Jadi saya udah gak pernah lagi nyari kepiting telur, asal betina aja, kalo kebeneran dapet sedikit telur ya syukur ;)

3. Kepiting harus dibeli dalam keadaan hidup. Kepiting yang udah mati berlendir (konon, saya sih gak pernah dapet kepiting mati atau ditinggal mati kepiting yang belum diolah :P) dan tidak bisa lagi dikonsumsi. Sebaiknya setelah dibelah dan dibersihkan, kepiting cepet2 diolah supaya masih fresh.

4. Kalo mau sausnya sedikit, airnya jangan banyak-banyak dan porsi bumbu boleh dikurangi. Bumbu di resep ini buat air 600 cc, banyak yah? Soalnya my hubby doyan banget kuah sausnya, jadi saya masakin banyak2 kuahnya, sampe bentukannya hampir setengah sup :P  Maklum, sayang banget sih sama suami, jiakakak...

5. Jahe-nya HARUS dibakar dulu SEBELUM diiris ya, soalnya di sinilah rahasia kelezatannya (tsaah). Udah baek2 dibagi rahasia dapur, kudu diturutin dong ah (maksa).
Saya sih bakarnya dengan cara ditusuk pake pisau, bakar pake api kecil kompor gas sekitar 3 menitan. Jangan bakar seudah diiris, soalnya jadi susyeh lah :)

Pertama belajar masak ini diajarin mertua tercinta. Setelah tinggal di Makassar, makan angsio di RM Apong dan termehek-mehek keenakan, saya modifikasi sedikit resep warisan mertua.
Menurut suami sih uenaaak banget, beda tipis sama yang di RM Apong *nyengir sombong, wakaka*

Selamat nyoba ya...
Resep ini sepesial saya tulis buat A, my long time hopeng dalam rangka janjian mau tukeran resep kepiting ;D

Wednesday, January 20, 2016

Diagnosis dan Apa yang Harus Dilakukan? Part 2

Sekarang saya mau share tentang terapi (dikit) dan diet buat para ortu yang anaknya baru didiagnosis sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) (misalnya ASD – Autism Spectrum Disorder, AD(H)D – Attention Deficit (Hyperactivity) Disorder, SPD – Sensory Processing Disorder, Asperger Syndrome (sejenis autisme yang high functioning), dan sejenisnya.

Ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya yang terbatas, saya bikin sesimpel mungkin buat membantu para ortu yang baru saja memulai perjuangan membesarkan ABKnya. Untuk keterangan yang lebih mendetail silakan baca2, browsing, atau konsultasi dengan terapis masing-masing ya.


TERAPI

1. Terapi Okupasi (Occupational Therapy / OT)
Termasuk di dalamnya: Sensori Integrasi (SI)

2. Terapi Wicara (Speech Therapy)

3. Terapi ABA (Applied Behavioral Analysis)

4. Terapi Perilaku (Behavioral Therapy), misalnya CBT (Cognitive Behavioral Therapy)

5. Ada juga terapi-terapi lain yang lebih khusus, tergantung aliran yang dianut psikolog/dokter konsultan masing-masing.
Di antaranya: Floortime (ini dianut psikolog anak saya), metoda Glenn Doman (yang ini udah ada patennya sendiri, dan bersifat umum bukan cuma buat ASD, tapi juga buat anak-anak dengan brain injury lain seperti cerebral palsy, Down Syndrome, dll), juga terapi-terapi tambahan kaya Dolphin Therapy, yoga, dan lain-lain.

6. BIT (Biomedic Intervention Therapy) – ini lebih ke arah diet daripada terapi fisik
Yaitu pendekatan terapi dengan pengaturan pola makan (diet eliminasi dan rotasi), pemberian suplemen vitamin, mineral dan enzim yang membantu pencernaan.

Buat masing-masing terapi ini saya gak jelasin lebih lanjut ya, browsing aja.

Basically kalo buat ASD sih terapi utamanya ABA, SI dan Speech Therapy (karena anak2 dengan ASD kebanyakan mengalami gangguan komunikasi).
Kalo buat anak-anak yang hiperaktif atau gangguan koordinasi, umumnya diberi program Terapi Okupasi (SI) dan Terapi Perilaku.
Ada baiknya juga konsultasi BIT dilakukan sejak awal, supaya bisa segera mulai dengan diet yang bener.


DIET

1. Gluten Free (GF)
Pantang makan makanan yang mengandung gluten (protein dari terigu, gandum, oat, semolina/pasta).
Pada ABK, banyak terdapat gangguan metabolisme di mana badan mereka gak bisa mencerna gluten dengan baik. Pada orang biasa pun gluten sudah diakui kurang bagus buat pencernaan, jadi sebisa mungkin sebaiknya dihindari. Pada ABK khususnya ASD gluten tidak tercerna dengan baik, sehingga membentuk zat yang disebut gluteomorfin. Gluteomorfin ini efeknya seperti morfin, memunculkan banyak perilaku aneh pada anak ASD, seperti ketawa-ketawa gak jelas, mengepak-ngepakkan tangan, dan sebagainya.

2. Dairy Free (DF) – ada juga yang menyebut Casein Free (CF)
Pantang susu dan turunannya, seperti keju, krim, yogurt. Efeknya di badan ABK mirip sama gluten. Pencernaan para ABK juga orang biasa yang kayak gini sering disebut “Leaky Gut Syndrome” atau usus “bocor”. Silakan google buat keterangan lengkapnya ya.

3. Sugar Free (SF)
Pantang gula pasir.
Kalo dietnya superketat, gula merah, gula palem (gula semut), maple syrup, molasses, madu, nectar (nektar dari bunga atau pohon palem) juga ikutan dipantang.
Kalo dietnya superduper ketat bin edun, pemanis modern kayak stevia (pemanis alami dari daun stevia) atau “No Sugar” (saya lupa isinya apa) juga ikut dipantangin.
Gula jagung (ada tuh merk yang terkenal banget, mengklaim sebagai pemanis sehat? BOHONG sodara2!), sama aja ga sehatnya.
Pemanis buatan seperti aspartame, sakarin sih jangan dibahas ya, itu bukan pemanis sodara2, tapi RACUN.
Hindari juga permen yang mengandung zat-zat ini ya. Pesan saya buat ortu yang anak2nya “normal” atau ibu2 hamil, hati2 dengan permen karena BUANYAK banget (hampir semuanya malah) yang mengandung zat racun. Banyak permen yang mencantumkan peringatan di kemasannya, menyatakan bahayanya buat anak balita atau ibu hamil, tapi tulisannya sekecil kuman, nyaris gak kebaca (mungkin cuma kebaca ama segelintir emak2 freak macem saya yang suka melototin kandungan produk2 sampe jereng wkwkwkw...). Kalo lagi iseng cobain deh baca kemasan permen, you’ll be surprised and freak out too!

Nah 3 pantangan di atas ini biasanya digabung dan disebut diet GFDFSF, jadi pantangan utama buat ABK, khususnya ASD.

Pantangan lainnya:

4. Pewarna, pengawet, dan penyedap
Pewarna itu meliputi SEMUA makanan/minuman/obat yang berwarna. Simpel. Tapi mengejutkan wkwkwk... karena ternyata cokelat pun kebanyakan diberi pewarna loh, campuran warna merah, biru dan kuning. Jadi bukan dari bubuk cokelat doang. Es krim vanila yang warnanya “putih” itu banyak diberi pewarna kuning, dalam jumlah kecil. Permen, segala sesuatu yang “rasa stroberi” (termasuk susu), minuman2 yang tidak bening, saus botolan, margarin/mentega, sampe syrup obat-obatan atau tablet vitamin C dan tablet/kapsul/kaplet obat warna warni lainnya SEMUA-MUANYA pake pewarna.
Pengawet ada di semua processed food seperti makanan/minuman kemasan (kaleng maupun kotak), sosis dan sejenisnya, saus2 botolan, biskuit2 dan sebagian besar makanan yang ada di lorong cemilan di supermarket mengandung pengawet. Juga sebagian besar roti atau kue basah komersil.
Penyedap yaitu MSG, dan kaldu2 komersil, semua keripik komersil, dan kawan-kawannya (udah cukup jelas lah ya).

5. Makanan yang mengandung fenol/salisilat.
Baca di http://www.tacanow.org/family-resources/phenols-salicylates-additives/ buat penjelasannya. Artikel ini jelas banget dan enak dibaca, tapi in English ya.
Kalo itu masih kurang, ini ada satu lagi: https://healingautismandadhd.wordpress.com/diet-2/phenolssalicylates/

Banyak ABK yang badannya gak bisa mencerna makanan yang banyak mengandung fenol dan salisilat, seperti: tomat, apel, kacang tanah, pisang, jeruk, coklat (kakao), anggur merah/hitam.
Obat yang mengandung salisilat seperti parasetamol juga perlu dihindari.
Tapi, good news nya, ada enzim yang bisa membantu mencerna fenol dan salisilat.

Nah diet dari 1-5 ini sering disebut juga diet Feingold. Diambil dari nama Benjamin Feingold, seorang dokter yang di tahun 1960an udah nemu banyak anak dengan gejala autisme. Trus dr. Feingold nemu juga kaitan antara makanan tertentu dengan perilaku hiperaktif pada anak-anak. Maka dia mencetuskanlah diet Feingold ini, yang udah terbukti membantu banyak banget anak ASD dan juga ADHD.

6. Alergen khusus yang anak kita alergi, misalnya telur, atau kacang.
Ini mah udah jelas lah kudu dihindarin ya. Kesadaran masing-masing aja :)
Ada juga orang yang menganggap remeh alergi, kalo efeknya ringan, misalnya cuman bikin sedikit kembung atau sedikit gatel2. Yah terserah masing-masing aja sih mau dihindarin apa enggak.

7. Buah-buahan yang mengandung kadar gula tinggi kadang-kadang juga memunculkan perilaku aneh pada anak ASD, seperti buah duku, kelengkeng, mangga.

8. Pantang kedelai dan turunannya (tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, dll).
Kedelai ini masih kontroversial, ada yang ngotot bagus, ada yang ngotot gak bagus.
Yang saya tau, bayi kurang dari 6 bulan sebaiknya jangan diberi susu soya, karena badannya belum bisa mencerna susu soya.
Kalo anak saya sih masih mengonsumsi kedelai (tempe, tahu) dalam jumlah terbatas

Selain pantangan2 ini, idealnya makanan dan minuman yang boleh dikonsumsi pun perlu di-ROTASI, artinya dikonsumsi maksimal sekali dalam 5 hari. Jadi kalo hari Senin makan sayur A misalnya, maka sayur A baru boleh dimakan lagi hari Sabtu.

Udah puyeng belum, ibu2 / bapak2?
Buat yang baru pertama belajar soal diet, PASTI puyeng, jangan berkecil hati ya. Kalo gak puyeng artinya udah berenti baca dan kabur kali heheheh....

Tenang.... tarik napas dulu, trus lanjut baca ya... ^___^
Walopun jalan tampak terjal, kita banyak temennya kok, yuk sama-sama mendaki, “pelan pelaaann sajaaaa....” (bayangkan saya nyanyi niru mbak Tantri Kotak)

Sebelum saya kasih contoh menu diet, saya mau ingetin satu hal dulu.
Untuk memulai diet, penting banget agar kita bersikap REALISTIS.

Daripada kewalahan sendiri pengen lakuin semua yang ideal, trus ujung2nya frustrasi sendiri, yuk kita pilih dengan realistis dan rasional, mana yang bisa langsung dikerjakan, mana yang dicatet dulu buat jadi PR, dan nanti diterapkan sambil jalan, kalo situasi udah memungkinkan.
Perjalanan membesarkan ABK itu bukan lari SPRINT, tapi MARATHON.
Jadi penting buat siapin stamina supaya tahan sampe garis finis (yang masih jauh entah di mana itu), jangan digas pol di awal tapi sebentar aja udah melempem.

Pengalaman pribadi udah konsultasi kesana kemari dan ketemu berbagai macam ahli, gabung di grup dan ketemu berbagai macam emak2, sejujurnya saya justru suka frustrasi setelah konsultasi atau ketemu emak2 yang “inspirasional” :)
Rasa tidak mampu dan inadequate langsung membanjir.
Saya kagum sekaligus lelah liat para bunda hebat di luar sana, yang perjuangannya wow. Sedangkan saya kok masih berkutat di hal-hal yang tampaknya remeh.
Mereka berjuang terapi dan diet dengan ketekunan, semangat dan tekad membara dalam dada, bak pelari maraton olimpiade, sedangkan saya kok cuman ngesot di tempat doang (udah ngesot, di tempat pula wkwkwk... boro-boro maraton).

Pernah juga saya disindir soal diet di grup, sengatnya aduhai pedih sekali, sampe 2 hari kemudian baru saya bisa menitikkan airmata. 2 hari sebelumnya saya cuma bengong bengong bingung, kenapa dari orang yang senasib sepenanggungan justru keluar judgement yang lebih dahsyat daripada judgement dari orang-orang yang tidak mengalami apa yang saya alami.

Makanya saya bilang, setiap grup punya filosofinya masing2.
Grup dengan aliran diet ketat cenderung bersikap tegas (bahkan ekstrim) soal diet. Grup dengan aliran terapi cenderung mencela mereka yang menggunakan obat-obatan. Makanya penting supaya kita saling menghargai, gak usah menghakimi, karena apa yang baik dan cocok buat orang lain belum tentu cocok buat kita.

So, it’s all normal kalo abis konsultasi/evaluasi atau sharing atau dapet pengetahuan baru trus kita ngerasa frustrasi. Tarik napas panjang, tenangkan pikiran, kuatkan hati, dan lanjutkan perjuangan. Jadikan kritik sebagai cambuk buat kita maju, bukan jadi akar pahit.

Ini saya buatkan contoh diet yang mudah2an cukup ideal lah buat anak ASD. Diet ini meliputi GFDFSF, tanpa telur (karena banyak yang alergi telur juga), tanpa seafood (karena kandungan merkuri yang tinggi), rendah fenol/salisilat, dengan rotasi, termasuk rotasi karbohidrat (nasi ikutan dirotasi).

Ini cuma contoh aja ya, supaya yang masih gelap bener jadi rada terang dikit...
Untuk memudahkan, menu ini dibuat per satu minggu, jadi berulang terus setiap minggunya. Kalo mampu silakan bikin menu rotasi per 5 hari, variasinya lebih banyak, tapi lebih ribet.

Kalo ada kesalahan silakan hubungi saya, I’m open for correction.
Saya sendiri gak terlalu pengalaman soal diet/menu karena anak saya gak perlu diet seketat ini.

Tambahkan atau kurangi jenis makanan sesuai dengan kebutuhan anak Anda ya, yaitu dengan cara eliminasi (pantang makanan yang dicurigai menimbulkan reaksi negatif selama beberapa waktu, sampe reaksi itu hilang. Kemudian coba berikan lagi, untuk melihat reaksinya. Kalau muncul lagi reaksi negatif yang sama, berarti makanan tersebut harus dipantang. Penerapannya jauh lebih susyeh daripada penjelasan ini hehehe)

Tabelnya gak berhasil saya aplot, jadi screenshot aja ya hueheheh...



Yah ini menu yang cukup “edun” ya.
Tapi saya pernah liat contoh menu yang lebih edun lagi, sampe minyak gorengnya pun dirotasi :O *beneran kagum*

Sekali lagi, jangan dibawa frustrasi ya.
Gak semua kok harus diet kayak begini, dan gak selamanya.

Ada yang diet ketat selama 2 tahun, terus dalam perkembangannya semua OK dan gak perlu diet lagi. Ada yang diet superketat selama 2 tahun tapi gak ada perbaikan, akhirnya stop diet, dan lambat laun membaik juga dengan terapi dan bertambahnya umur si anak.

Kebanyakan anak setelah besar bisa ngenalin sendiri makanan2 apa yang harus dia hindari. Anak saya udah sampe di tahap ini, dia mulai bisa ngenalin badannya terasa “gak enak” setelah dia makan makanan tertentu.

Sebenernya saya sendiri bingung dengan menu di atas, anaknya apa mau ya makan sesuai menu kayak gini... Tapi buat ABK yang memang dietnya harus benar2 ketat, tekad ortu memang kudu sangat sangat kuat, sampe2 harus rela liat anak kelaparan berhari-hari sampe akhirnya mau juga makan apa yang disediain, saking udah lapernya. Semakin dini diet ini diterapkan, semakin tinggi tingkat keberhasilannya, karena anak belum kenal makanan2 yang gak sehat.

Semakin ketat diet, tentunya nutrisi buat badan anak juga semakin kurang ya. Makanya untuk mengantisipasi kurang gizi, dibarengi dengan asupan suplemen. Kalo aliran dr. Feingold sih setelah anak mencapai kemajuan tertentu, sedikit demi sedikit makanan-makanan yang dipantang mulai diberikan lagi, tentu dengan hati-hati ya (mulai dengan yang paling “aman” jangan langsung jublek kasih segambreng roti keju), supaya jangan malah mundur kondisinya.

Banyak konsultan yang gak ikut aliran diet, karena si anak bisa kurang gizi. Yang beraliran diet berpendapat bahwa kalo anak ini gak bisa mencerna makanan tertentu, dimakan juga percuma, malah jadi racun buat badannya.

Mana yang bener?

Dua-duanya bener, tergantung anaknya. Lagi-lagi dibutuhkan hikmat kita sebagai ortu, untuk pilih pendekatan yang mana yang cocok dan bawa kemajuan buat kondisi anak kita masing-masing. Trial and error. Coba satu metoda, evaluasi hasilnya. Kalo hasilnya gak seperti yang diharapkan, gak usah disesali, dan move on ke metoda yang lain.

Trial and error memang makan waktu, terkadang sampe ngabisin golden period. Kalo dah gitu, kita orangtua dirundung rasa bersalah kenapa dulu gak gini, seandainya aja dulu begini, begitu.

Pengalaman pribadi lagi ya.

Seudah 5 taun lebih berjuang, baru-baru ini saya gabung di grup, dan baru ngerti pentingnya diet ketat. Kebetulan anak saya tipe yang banyak alergi dan butuh diet.
Selama ini udah diet, kurang lebih dietnya mirip-mirip diet Feingold lah. Tapi dengan pengetahuan baru yang didapat, rundingan dengan suami, dan banyak pertimbangan, kami sepakat buat memperbaiki diet yang udah berjalan.

Awalnya saya agak menyesali sih, kok baru tau grupnya sekarang, pas anak saya udah umur 8 th.
Tapi terus saya juga disadarkan Tuhan, bahwa He makes NO MISTAKES.

Sekian lama saya berdoa minta komunitas, masa iya Tuhan gak dengar? Tentu Dia dengar. Kenapa Tuhan gak kasih saya masuk grup dari dulu? Only He knows :)

Waktu-Nya selalu TEPAT, gak pernah kecepetan, gak pernah telat. So THIS IS the perfect time. Mungkin kalo dari dulu saya terapin diet ketat, entah apa yang terjadi. Saya bisa bayangkan banyak hal baik dan ga kalah banyak hal buruk yang mungkin terjadi. Yang penting, sekarang ini Dia tunjukin jalan ke sini, maka saya ngikut.
Kenapa sekarang bukannya dari dulu, dan kenapa ke sini bukannya ke sana, biarlah itu jadi bagiannya Tuhan.
Bagiannya saya percaya aja, dan nurut sama pimpinan Tuhan.
Because this battle is His, not our own.
Satu hal lagi saya ingin ingatkan, Tuhan bilang dalam Mazmur 127:3,

“Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah.”

Anak-anak kita tentu sangat kita kasihi dan sangat berharga, tapi jangan jadikan mereka sebagai mamon atau berhala kita. Tuhan udah titipkan mereka kepada kita, tentu kita harus bertanggung jawab. Tapi jangan sampai perjuangan membesarkan ABK (dan anak2 lain) menyita seluruh tenaga, pikiran, dan prioritas kita, sampe Tuhan, suami, anak-anak lain terabaikan.
I hope this long post helps, ngasih pencerahan dan bukan perunyaman wkwkwkw....

Tetap semangat ya, ibu2/bapak2!
God will walk us through, TRUST Him!

NB. Silakan kirim email atau post comment kalo ada pertanyaan atau koreksi yang membangun (harap maklum, saya suka susah balesin comment, terkendala koneksi internet yang terbatas).
Tapi maaf ya, saya tidak akan melayani debat kusir perbedaan pendapat, dah mau lahiran nek, gak sempet ngurus yang begituan ;)

Friday, December 12, 2014

DIET!

Udah 3 bulanan ini kami menerapkan pola diet baru buat D, juga buat keluarga kami. Buat D karena berkaitan dengan “alergi” atau makanan-makanan yang “offensive” buat D, dan buat kami karena solidaritas :|

Jadi, sekitar 4-5 bulan lalu si D dites BIOTEK. Testnya di Jakarta, daerah Pluit. Jadi diambil darah 3 tetes doang dari ujung jari, terus dites makanan-makanan apa yang “menumpuk” di badannya D, yang gak kecerna dengan baik. Makanan-makanan ini sebagian adalah makanan yang harus dihindari, atau harus dirotasi, alias gak boleh dimakan saban hari. Idealnya, satu jenis makanan yang “gak numpuk” di dalam badan, hanya boleh dimakan sekali dalam kurun waktu 4 hari. Dan makanan yang “udah numpuk” alias titernya tinggi di dalam darahnya, kudu dihindari. Ada yang udah tinggi banget titernya, dan kudu dipantang sama sekali selama 6 bulan, baru setelah itu dites ulang untuk liat perkembangannya. Kalo masih tinggi ya kudu dipantangin terus, tapi kalo menurun, berarti makanan tersebut bisa dimakan lagi, dengan dirotasi setiap 4 hari sekali.

Kedengerannya rumit ya? Yah lumayan.
Saya orang yang gak bisa mikirin menu seminggu ke depan. Saya emang gak tiap hari ke pasar, sekali ke pasar saya nyetok daging-dagingan, buat masak A, B, C gitu aja. Gak kepikir bahwa hari senin saya mau masak A sama X, sama Y, hari selasanya saya masak B, W, Z. My brain just doesn’t work that way. Pernah nyoba bikin menu mingguan. Pas nyampe pasar liat bahan-bahan yang bagus dan lagi murah, saya bingung sendiri karena menu yang udah susah payah saya susun jadi kacau balau gara-gara diubah-ubah -.-‘
So, saya ini tipe orang yang hampir tiap hari butuh tukang sayur. Pagi-pagi saya baru mikir hari ini mau masak apa, sesuai stok yang ada di kulkas, yang ngga ada ya saya kudu mendadak beli.

Nah sejak diet rotasi 4 harian ini, saya mau gak mau terpaksa bikin menu, at least buat 4 hari, karena pada hari ke-5 kan udah bisa berulang ya. Hm. Cara yang bagus buat expand my capacity, in terms of daily cooking.

Puyeng?
Engga terlalu puyeng ya?

Tapi simak dulu dong pantangannya:
1. BIG no-no (sama sekali engga boleh, selama 6 bulan):
telur, susu, kedelai (termasuk kecap dan semua yang mengandung kedelai), jagung, udang, tiram, timun, semangka, rebung
2. NO:
terigu/gluten, bawang daun, selada, tomat, kangkung, brokoli, kol, kembang kol, kentang, seledri, wortel, jahe, ragi, talas, stroberi, jeruk, lemon, kiwi, melon, blewah, cumi, lobster, kepiting, labu siam, paprika, dan lain-lain (yang jarang ada di Indo dan hampir gak pernah kami konsumsi juga)

Sekarang udah puyeng? :D

Daging sih cukup banyak yang bisa dimakan: ayam, babi, sapi, ikan, bahkan kodok. Tapi susahnya kalo dalam sehari si D makan 2 macem daging, 2 daging itu baru boleh dimakan lagi 4 hari kemudian, jadi dalam sehari gak boleh terlalu banyak jenis daging yang boleh dimakan. Maka buat memudahkan, saya mencanangkan “hari daging tertentu”: jadi kalo hari ini hari ayam, kita makan daging ayam, sebisanya jangan makan daging lain. Pada hari sapi, kami sebisanya makan sapi aja (plus sayuran atau lauk lain). Dan pada hari2 sapi, saya perhatiin kok sekeluarga pada gak semangat makan. Ternyata kami sekeluarga gak terlalu doyan sapi, sodara-sodara, baru nyadar, hahaha... Akhirnya hari sapi pun ditiadakan :)

Kerjaan saya sehari-hari jadinya mikirin makanaaaaannn melulu. Ngejadualin menu sambil mikir ketersediaan bahannya dan boleh engganya dimakan, nyocokin sama jadual saya sehari-hari (waktu saya gak keburu masak karena ada pertemuan ortu atau sebangsanya, saya jadi kudu masak yang simpel aja), nyocokin jadual anaknya (karena selain 3 meals, saya juga kudu sediain dan masakin cemilannya dan bekalnya ke skul), kudu juga sediain makan siang buat helper part time kami, dan makanan kalo suami bakal makan di rumah. Diri sendiri udah kelaut deh. Gak sanggup lagi mikir -.-‘ Kadang dengan hati puas karena makanan plus cemilan buat D udah aman buat seharian atau buat keesokan harinya, saya gak sadar diri sendiri belom dikasih makan @.@
Dan daripada puas hati karena berhasilnya, lebih banyakan saya bengong ngeliatin “berkas-berkas” saya dengan pikiran nge-blank gak nemu solusi.


Puyeng banget mikirin menu. Kadang udah hepi banget karena berhasil nyusun menu yang masuk akal dan ideal, eh nyampe di pasar bahan-bahan yang saya cari gak ada! Kalo udah gituh, sakitnya tuh di siniiihhhh.... #tunjuk otak.
Rasanya sepanjang hari saya bisa bolak balik ngahuleng alias ngelangut mikirin menu. Rasanya saya jauh lebih banyak mikirin menu daripada mikirin yang lain. Rasanya kaya punya berhala baru *tepokjidat*

Kemudian saya baca Matius 6:25:
Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?

Iya ya.

Dan Matius 6:26:
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

Eh bukannya dapet pencerahan, saya malah jadi sirik sama burung-burung dan hewan-hewan. Kok enak ya, makan tinggal makan aja, gak pusing kayak saya?

Suatu ketika, pagi-pagi waktu saya lagi berpusing-pusing ria mikirin menu lagi, saya iseng sambil setel TV. Acaranya seri dokumenter berjudul “Natural Born Hunters”, alias film hewan-hewan gitu. (Ehm, iya saya emang demen nonton dokumenter hewan, kaya anak saya, dan juga kaya papa saya. Yup kami 3 generasi penggemar film hewan, hahaha...)
Anyway, di seri ini, mereka mengulas 3 jenis hewan dalam perjuangan mereka mencari makan dalam sehari itu. Ada cheetah yang berburu berulang-ulang tapi gak kunjung dapet mangsa, ada belalang yang dalam waktu singkat udah berhasil dapet banyak mangsa tapi terus dimangsa oleh hewan lain, dan lain-lain. Ternyata hewan-hewan pun kudu berjuang untuk makan, sering kali bertaruh nyawa dalam usahanya. Ternyata Tuhan memberi hewan-hewan ciptaan-Nya makanan, tapi enggak ditaruh di sarang mereka, kudu dicari dan diusahakan!
Satu-satunya tempat di mana seorang dewasa bisa dapet makanan 3x sehari gratis tanpa usaha atau meminta dalam jangka waktu yang lama adalah: di penjara :P

Setelah 2 bulanan ke mana-mana menggendong catetan menu, akhirnya saya berusaha lebih cuek. Bukan berarti dietnya disingkirin begitu aja (udah bayar berjuta-juta, mubasir juragaaann...), tapi diikutin sebisanya aja dah. Yang daftar BIG no-no sih emang beneran dipantang abis, tapi yang lain-lainnya go with the flow aja :P
Kalo gak ada pilihan yang lebih baik, ya udah lebih baik makan aja apa yang ada daripada gak makan, selama pilihan itu bukan daftar BIG no-no.
Eating healthy is good, but let’s not take it to the extreme. Setuju?

So far, BB saya dan anak saya turun sih *nangis meraung-raung*. So we are at wits end. Masih berusaha nyari balance yang sehat antara menghindari offensive foods sambil tetap feed ourselves.

Menutup posting kali ini, saya mau share resep kukis tanpa telor, tanpa susu dan tanpa terigu ini:

EGGLESS, MILKLESS, GLUTEN-FREE COOKIES
Resep diambil dari http://samayalarai-cookingisdivine.blogspot.com

Bahan:
1 1/2 cup tepung mocaf
1/2 cup butter (saya pake Barco coconut oil dimasukin ke kulkas selama 20-30 menitan)
1/2 cup tepung almond (saya pake ampas bekas bikin almond milk)
1/3 cup gula halus
1/4 sdt garam
1/2 sdt bubuk kayu manis (saya pake spekuk)
1/2 sdt vanila
1/2 sdt baking powder
3/4 sdm air (atau susu almond)
1/2 sdm tepung ubi garut (arrowroot)
1/4 sdt air perasan lemon (atau cuka apel)
3/4 sdt xanthan gum (optional)
Filling: selai rasa apa aja (optional)

Cara membuat:
1. Campur tepung mocaf, tepung almond, garam, xanthan gum, bubuk kayu manis/spekuk, vanila bubuk (kalo pake vanila cair digabungnya sama bahan cair nanti), aduk dengan whisk sampe rata betul
2. Di mangkok agak besar: kocok butter lembek (kalo pake coconut oil jangan sampe cair banget), vanila cair, gula halus, sampe rata betul. Kemudian masukkan bahan-bahan kering di nomor 1
3. Di mangkuk kecil, campurkan baking powder+air+air lemon/cuka apel+tepung garut. Larutan ini akan berbuih, segera campurkan ke adonan tepung. Uleni sampe bisa dibentuk kayak bola (dough ball). Kalo terasa terlalu lengket, taruh sedikit tepung di tangan Anda selama menguleni.
Bagi menjadi 2 dough ball, bungkus dengan plastik cling wrap, masukkan ke kulkas selama 1-2 jam, atau semalaman.
4. Saat akan memanggang, keluarkan dough ball dari kulkas, biarkan di suhu ruangan selama sekitar 20 menit. Gilas setebal kira-kira 3-5 mm, cetak sesuai selera, letakkan di tray yang dialasi kertas roti dan sedikit minyak (saya gak pake minyak tapi gak lengket tuh). Masukkan lagi tray ke kulkas sebentar kalo cookie dough terasa lembek.
5. Panaskan oven 180-200 C, panggang cookie selama 10 menit untuk tiap sisi (jadi dibalik 1x), sebelum cookie berwarna kecoklatan. Dinginkan.
6. Taburi dusting sugar, atau buat sandwich dengan mengoleskan selai di antara 2 cookies.


Gosongnya kukis saya jangan ditiru ya :P
Semoga resep ini bermanfaat...

Wednesday, July 30, 2014

Resep Japanese Cheese Cotton Cake non-gluten

Resep Japanese Cheese Cotton Cake

250 ml susu
200 gr cream cheese, suhu ruangan, dipotong-potong agak kecil (supaya cepet larut aja)
60 gr unsalted butter (saya pake Elle&Vire)
6 kuning telur
55 gr tepung mocaf atau GF flour lain*
20 gr tepung maizena
Lemon/orange zest (parutan kulit) dari 1/2 butir jeruk lemon/sunkist
Essen vanila

Adonan busa:
6 putih telur
1/4 sdt cream of tartar (optional)
130 gr gula pasir

NB: Resep diambil dari internet, saya lupa lagi dari mana, kalo ngga salah dari sini: http://krista-mocafkitchen.blogspot.com
Resep ini udah saya modifikasi sesuai selera dan kemampuan ;)

Cara membuat
1. Siapkan 2 pan. Alasi salah pan yang lebih kecil dengan baking paper, oles minyak. Didihkan air, untuk diisi ke pan yang lebih besar pada saat manggang. Jadi nanti waktu manggang, pan yang kecil harus dimasukin ke pan yang lebih besar, yang sudah diisi air mendidih. Jadi si pan kecil direndam gitu (cara ini disebut au bain marie). Sebaiknya dicoba dulu (simulasi dulu) pake air biasa, supaya tau pan yang besar harus diisi air segimana supaya gak luber atau airnya masuk ke adonan. Idealnya pan yang di dalam terendam air sampe setinggi 1/2 atau 3/4-nya.

2. Panaskan oven 150 dercel

3. Adonan pertama:
Susu + cream cheese ditim (dipanaskan di dalam baskom/mangkok yang ditaruh ke dalam panci berisi air mendidih. Caranya, air di dalam panci dididihkan dulu, setelah mendidih, kecilkan api, baru masukkan baskom berisi susu+cream cheese) sampe larut dan halus. Masukkan butter, aduk sampe meleleh, kemudian sisihkan hingga dingin.
Setelah dingin, masukkan kuning telur, aduk rata.
Masukkan tepung sambil diayak sedikit demi sedikit ke dalam adonan, aduk rata.
Masukkan zest dan vanila.

4. Adonan busa:
Kocok putih telur sampe berbusa, masukkan cream of tartar, kocok terus sampe soft peak sambil gula dimasukkan sesendok demi sesendok, tunggu sampai gula larut sebelum memasukkan sendok berikutnya. Lanjutkan mengocok sampe stiff peak (kalo mixer distop dan diangkat, ujung busa meruncing dan kaku).

5. Ambil 1/3 adonan busa, masukkan ke adonan pertama, aduk rata. Masukkan sisa adonan secara bertahap sambil diaduk balik. Hati-hati mengaduknya ya, kalo ngaduknya terlalu semangat bisa bantat nanti kuenya. Sebaiknya liat di youtube supaya tau cara mengaduk balik adonan busa yang baik.

6. Tuang adonan ke dalam pan yang sudah disiapkan, masukkan pan tersebut ke dalam pan lebih besar yang sudah diisi sedikit air mendidih. Jangan sampe luber ya.
Oven selama 50-60 menit. kalo adonan di dalam pan udah keliatan mengembang, turunkan sedikit suhu oven. Kenali oven masing-masing ya... kalo sebentar aja permukaan adonan udah keliatan kecoklatan, boleh ditutup dengan alumunium foil.
 
Setelah matang (lakukan tes tusuk, jika lidi ditusukkan ke tengah adonan dan ditarik kembali, tidak ada adonan cair yang masih melekat), dinginkan secara bertahap: mula-mula matikan oven, bukan pintu oven, tapi biarkan kedua pan tetap di dalam oven selama 10 menit. Kemudian keluarkan, dinginkan di suhu ruangan. Tunggu sampe benar-benar dingin sebelum menyimpan kue ke dalam kulkas.

Catatan: kalo bisa sih jangan pake pan yang terbuat dari aluminium (pan kaleng yang ringan dan murmer itu), soalnya bisa bocor atau air rendamannya merembes ke dalam adonan. Banyak resep yang menganjurkan supaya pan aluminium dilapis dengan aluminium foil sampe 3 lapis supaya air gak merembes, but mendingan ngemodal beli pan tanpa sambungan (yang teflon atau stainless steel, emang harganya lebih mahalan). Soalnya bikin kue ini udah ribettt, kalo kudu ngelapis2 foil lagi mah rempong banget (udah nyoba soalnya, bete deh wkwkwkwk...).

Saya belom pernah nyoba pake pan pyrex, so kalo ada yang udah nyoba please boleh share gimana hasilnya ya...

* tepung non-gluten buat bikin cake ini bisa dibikin sendiri dengan perbandingan sbb:
Tepung beras : tepung ubi garut atau arrowroot : tepung kanji = 5: 2 : 1
Atau pake tepung mocaf (modified cassava flour alias tepung singkong modifikasi).

Kue ini kalo berhasil bikinnya, teksturnya YAHUT bin edun dah... seperti kue dari taman Eden (wkwkwkkw.... ngarang banget, zaman taman Eden mana ada kue ya :P). Sebanding sama segala kerumitan bikinnya (dan harga cream cheese-nya yang lumayan itu :P).




Karena ini musim lebaran, selain ngucapin Selamat Idul Fitri buat pembaca yang merayakan, saya juga mengingatkan supaya nyoba2 masak ini jangan pas lagi kena flu babu ya hihiih.... ntar dapetnya bete dah, gagara banyak cucian :P
Buat yang terus maju pantang mundur nyoba, good luck ya!! Semoga hasilnya enak dan berkenan....

Friday, April 25, 2014

Resep GF Tiramisu ala Mamaw

Tak disangka, temen2 pada kepincut foto tiramisu gluten free yang saya posting di sosmed. Resepnya saya share di sini ya.

Sebenernya masih ada beberapa resep GF yang mau saya share, hasil berjam2 browsing and coba-coba di dapur. Kapan2 lagi ya, secara saya suka gak sempet ketak ketik di laptop nih. Dan juga udah berapa lama gak bisa ngaplot foto ke blog, huhuhu... entar dikira saya nge-hoax. No pic = hoax kan ya :S

Tiramisu sebenernya simpel gak perlu teknik2 yang gimana gitu.
Cuma RIBET binti BERABE prosesnya. Abis bikin tiramisu duileh mata saya nyalang liat segambreng perkakas bekas dipake (dan perlu dicuci tentunya T.T).

Belom lagi perjuangan karena saya kudu bikin yang non-chocolate buat si D. So, beberapa hari sebelom eksekusi, saya kudu berburu strawberry dan bikin dulu saus/selai strawberry-nya (buat tiramisu saya bikin enceran dikit, jadi saus kali ya, bukan selai?).

Abis itu besoknya bikin sponge cake dasar buat dasar tiramisu.
Pakem aslinya pake lady finger atau savoiardi, kue khas Italia gitu lah ya kalo gak salah. Lady finger bisa beli bungkusan di supermarket di kota2 besar, tapi tentu saja ber-gluten ya. Kalo gak mau pake lady finger, bisa juga diganti brownies atau bahkan biskuit or sponge cake beli jadi aja. Bisa juga pake rasa coklat. Tentu aja hasil akhirnya beda-beda ya...
Saya pilih bikin sponge cake vanila sendiri, karena si D kudu GF. Selain itu saya juga nemu resep yang tanpa pengembang kue dan lain2, so selain gula pasir, bahannya ini cake sehat abis dah, yippiieee.... (link di bawah ya)

Setelah saus stroberi dan sponge cake siap (sampe udah terancam abis dicemilin wkwkwk), baru saya ke toko bahan kue langganan, nyari keju mascarpone yang merupakan bahan khasnya tiramisu. Daaan... kejunya gak ada, huhuhu... Adanya cuma merk mihil punya, masa 250 gram keju harganya 150 rebong?! Kalo gagal bisa nangis bombay eike... T.T
Inget-inget pernah browsing ada resep tiramisu yang pake cream cheese, malah ada satu resep dari femina yang pake keju cheddar diparut. Murmer banget ya, tapi saya gak berani deh bikin yang keju cheddar, soalnya tau diri belom pinter bikin. Jangan sampe keburu ilfil duluan, layu sebelum berkembang hehehehe....
Akhirnya saya keluar dari toko menggondol cream cheese yang harganya sekitar 30 rebong saja 250 gram-nya hihihi... So, untuk diketahui, resep tiramisu saya gak pake keju mascarpone ya tapi pake cream cheese.

Enuf blah-blah-ing...
Ini memang blog ngoceh2, bukan foodie blog ataw blog per-dapur-an, jadi harap maklum kalo kebanyakan cingcongnya heheheh....

Resep GF Sponge Cake Vanilla
(Resep diambil dari blog ummufatima-mysimplykitchen.blogspot.com)

Bahan
4 butir telur
80 gram gula pasir (sesuaiin selera aja ya)
Vanila
70 gram tepung beras
30 gram tepung tapioka/kanji
50 gram butter dicairkan (atau 55 ml minyak kelapa/canola)

Cara:
* Panasin air sampe mendidih, turunkan dari kompor.
Di baskom agak besar, campurkan telur dengan gula pasir dan vanila. Naikkan baskom ini ke panci berisi air mendidih tadi (dasar baskom nyentuh airnya dikit aja ya, ga perlu sampe kerendam), terus mixer telur + gula pasir dengan kecepatan 1 sampe gula larut. Seudah gula larut, naikkan speed jadi 2, setelah 3 menit ngocok, naikkan speed mixer ke 3. Sabar2 ngemix sampe telornya ngembang ya (tandanya adonan gak jatuh pas tangkai mixer diangkat). Kalo ngga, bisa bantat entar kuenya.
Setelah adonan ngembang, keluarkan baskom dari panci air panas.
* Masukkan tepung yang udah dicampur dan diayak, mixer pelan (kecepatan 1). Setelah rata, stop mixer, masukkan butter cair, aduk pelan sampe rata (gak jelas baiknya pake mixer atau pake spatula, saya sih pake spatula aja dah).
* Tuang ke loyang (boleh pake loyang tulban (loyang bolong) diameter 18 cm), saya pake loyang kotak diameter 22 cm yang dialasin kertas roti.
* Bake 150 C selama 20 menit, kemudian turunkan suhu jadi 140 C selama 25 menit -> HARUSNYA :P Tapi oven saya sangat sulit diatur. Jadi saya panggang dalam suhu SEKITAR 150 C, dan matengnya yah sekitar 20-25 menitan xixixi... Kreativitas masing-masing ajalah ya :P
Tes tusuk biar aman (kalo gak tau tes tusuk baca resep saya sebelumnya di sini).

Now, the tiramisu.

Resep tiramisu ini saya modifikasi dari 2 resep ini: www.italian-dessert-recipe.com/the-best-tiramisu-recipe.html (ada juga resep lady fingernya) sama dari www.maverapastrysupplies.com, nyari yang simpel dan masuk akal buat saya. Soale letak kompor sama colokan listrik di dapur saya jauuuhhh, berabe bener kalo kudu ngemixer di atas kompor. Ngga ku-ku dah mikirnya...


TIRAMISU ala Mamaw
(Jadi sekitar 4 gelas ukuran 200 ml)

Bahan
1 GF sponge cake vanilla dasar (atau boleh ganti lady finger, brownies, apa aja dah suka-suka) -> ini cake nya bakal lebih, tergantung ketebalan layer cake tiramisu yang kamu bikin

* 2 kuning telur
* 40 gram gula pasir
* 1/2 sdt vanilla essence
* Rhum (saya pake merk Butterfly, enaaakkk bingitss, langganan dah laen kali pake merk ini lagi)
* 100 gram cream cheese (saya beli yang di-pack sama tokonya, padet gitu. Merk CALF atau ANCHOR. Katanya kalo merk Yummy rada cair cream cheese-nya, so saya anjurin sih pake yang padet aja kali ya)
*1 kotak whip cream cair merk Elle&Vire (isi 200 cl -> bingung2 dah, berapa ini, males ngitung wkwkw... pokonya segono aja. Kurang atau lebih dikit ga masalah kok)
*100 cc kopi hitam dicampur 2 sdm rhum -> HARUS BANGET ga boleh lupa, soalnya ini yang bikin tiramisu jadi tiramisu :)))
* Coklat bubuk (merk Van Houten) / MILO bubuk buat taburan
* Strawberry utuh atau cherry buat garnish (bisa juga pake coklat Hershey, M&M warna warni, apa aja suka2)

Cara
0. Pagi2 di hari H, bekukan 1 baskom di freezer, buat ngocok whip cream.
1. Didihkan air di double boiler atau di panci. Kalo udah mendidih, kecilkan api. Campur kuning telur + gula di panci atas double boiler, atau di baskom yang ditaruh di atas panci berisi air mendidih tadi (jadi di-steam gituh). Aduk-aduk dengan whisk, selama kurleb 8-10 menitan (sampe kental warna kuning muda). Turunkan dari api, dinginkan.
2. Kocok whip cream di baskom dingin (yang tadi di freezer), sampe kaku.
3. Ke dalam adonan telur, masukkan vanilla, 1/2 sdt rhum, cream cheese yang udah lembek di suhu ruangan, mixer sampe kental dan halus. Kemudian aduk balik whip cream ke dalam adonan telur dan cream cheese.
4. Udah selesai :) Gitu doang. Sekarang cuma tinggal nge-layer.
5. Di 1 loyang pyrex besar atau beberapa gelas/jar kaca kecil, bikin layer:
* sponge cake (segelondong atau dipotong, sesuaiin aja sama wadah yang dipake lah yauw)
* guyur cake dengan 2-3 sdm larutan kopi-rhum
* sendokin adonan krim di atasnya (atau kalo centil boleh juga krim dimasukin ke plastik, terus disemprotin gitu biar cantik, especially buat nanti layer paling atas yang keliatan di hasil akhir)
* taburin coklat bubuk/milo
* ulangi semua layer di atas sekali lagi, kali ini bikin rada rapi dan cantikan dikit deh krim sama taburan coklat bubuknya. Kalo jago bisa dibentuk2 gitu pake semprotan kayak di master chef hehehe... krim saya mah kelewat encer, mungkin pengaruh suhu udara yang mendekati 40 derajat dan kelembaban luar biasa di dapur pas bikinnya #banyak alesan
* garnish pake stroberi atau cherry
6. Dinginin di kulkas (bukan freezer) selama minimal 4 jam atau semaleman (kalo kuat, hihihi...). Konon ini penting biar tiramisu-nya “set”, whatever that means... Buat saya pribadi sih sebelom 4 jam rasa rhum-nya masih kelewat kenceng, agak mengganggu. Besoknya baru MUANTAAAPPP ^____^

Abaikan meja makan yang berantakan, fokus pada keribetan di tengah aja :)

Dalam proses nge-layer. Baru cake diguyur kopi.
Setelah bagian ini sampe selesai gak ada foto2 lagi, ribet hehehhe....

Hasil akhir my 1st round of tiramisu
2nd round, udah cocok jadi bikin lebih banyak (1 1/2 resep) :D

Dalemnya. Suwer, enaaaaakkkk bingiiittts! ^__^


Tips:
- Larutan kopinya saya bikin pake kopi hitam Kapal Api, diseduh trus disaring pake kertas saring -> pantes aja ribet ya wakakakkak, belom lagi tempo hari kopinya kurang tuh pas tengah2 bikin, nyeduh lagi dah *tepokjidat*
Bisa juga sih pake kopi instan, lebih praktis. Tapi pilih kopi yang nendang ya, jangan merk abal2 karena ini pengaruh banget ke rasa si tiramisunya nanti. Hm... mungkin menurut yang baca kopi yang saya pake termasuk abal2? Saya pilih ini karena saya en suami demen banget aromanya :)
- Saya gak terlalu suka dark chocolate, makanya taburan coklatnya saya pake MILO 1 sachet dicampur 1 sdt coklat bubuk. Kalo Milo semua kemanisan jadinya :P
- Ini resep berdasarkan lidah saya cocok, mungkin menurut beberapa orang kemanisan, sesuaiin selera masing2 ya... Tips kalo sponge cake/biskuit yang dipake udah manis, larutan kopinya jangan digulain lagi, kalo kurang manis baru kopinya dimanisin.
- Buat tiramisu yang rasa strawberry, layer coklat taburnya saya ganti saus strawberry. Inget2 juga untuk gak pake sponge cake rasa coklat, bukan apa2, takut ga akur aja rasanya :P
- Menurut pendapat pribadi sih ini creamnya enak banget, gak eneg, rasanya light gitu. Kapan2 musti nyoba yang pake keju mascarpone nih ya, pengen tau... Konon baca2 di resep kalo pake mascarpone, kalo gak terlalu doyan yang eneg, separo mascarpone-nya bisa diganti keju ricotta. Jadi misal pake mascarpone 200 gram, diganti 100 gram mascarpone + 100 gram ricotta.
- Saya bikin yang porsi satuan bukan satu loyang guede, soalnya entar ribet bin jijay kalo diambilin sepotong2. FYI hasil saya bikin 2x tiramisu ini agak lembek, kayanya kalo dibikin di 1 loyang gede bisa buyatak entar pas dimakan. Waduh itu buyatak bahasa Sunda, bahasa Indonya apa ya... berantakan jijay gitu deh hihihi....
Mungkin kalo buat loyang gede lebih cocok resep tiramisu yang pake gelatin (google sendiri yah saya gak ada referensi), hasilnya akan lebih sturdy alias tegak perkasa bisa dipotong2. Suami en saya sih lebih doyan yang creamy lembut and juicy.
- Tips tambahan: kalo mau cream layer paling atas bisa dibentuk cantik, masukin ke plastik buat ngedekor tart itu, pake spuit bintang di ujungnya, kulkasin dulu sampe rada dingin dan sedikit mengeras, ntar jadi bisa dibentuk (katanya, saya sendiri belom nyoba, next time deh).

Hasilnya? Suami sampe terpekik2 memuji dengan hebohnya wkwkwkwk.... katanya lebih enak daripada beli (belinya di mana dulu? wkwkwkw...). Niat mau nyicip sesuap doang berakhir makan setengah gelas, gak lupa diet, cuma rela berkorban aja huekekekek...

Si D awalnya makan sesuap dua, bingung dia... Simpan sisanya di kulkas. Beberapa jam kemudian dia buka kulkas, lanjut makan. Besoknya abis segelas. Besok2nya lagi dia suka buka2 kulkas, nyari tiramisu (yg udah abis) :O
Artinya dia DOYAN, sodara2! Whooppeeee!! ^__^

Selamat mencoba ya, semoga cocok dan sukses!

Kalo bisa nih, saya minta tolong please di-share hasilnya ya, saya pengen tau *kepo* :)

Wednesday, April 23, 2014

Launching: The Chronicles of GF Baking in Mamaw's Kitchen

Hellow para pembaca sekalian...

Mau share resep lagi nih hari ini.

Setelah mikir panjang pendek, beberapa bulan yang lalu akhirnya saya memberanikan diri beli oven. Oven tangkring alias oven yang buat ditaroh di atas kompor (nangkring).
Maka sejak itu, dimulailah petualangan saya manggang ini en ono :D

Waktu SMP dulu saya ikutan ketrampilan tata boga, jadi lumayan familiar lah sama urusan dapur. Sejak jadi IRT juga semakin semangat belajar masak, soalnya kan eike mau jadi ibu rumah tangga yang baik hihihih... Tapi... saya gak demen masak kue or cemilan! Sejak SMP juga udah ada tuh pelajaran baking kue, tapi saya gak demen banget lah pokoknya. Mungkin berhubungan sama kemalesan saya ngemil juga :P

But... time flies, and tau-tau sejak akhir taon lalu, kami memutuskan untuk ikutin si D diet GLUTEN FREE. Gluten itu protein lengket yang terkandung di dalam terigu, gandum. Anak-anak special needs kebanyakan badannya gak bisa mencerna gluten dengan baik, akibatnya numpuk tuh gluten (bersama dengan alergen2 lain yang beda buat tiap anak), dan bermanifestasi sebagai gangguan perilaku, tantrum, gangguan koordinasi, gangguan fokus, dan lain sebagainya. Gampangnya kalo makan gluten dan alergen, si anak jadi eror dah. Si ortu jadi sengsara hehehehe.....

Eh kepanjangan yah preambule-nya?

Langsung aja dah ini resepnya ya. Saya mau kasih 2 resep sekaligus: DONAT KENTANG NON GLUTEN (diambil dari blognya LucyWiryono) sama BANANA BREAD alias Easy Banana (Quick)Bread. Banana bread ini banyaaakkk banget resepnya di internet, silakan google sendiri. Saya dulu ngambil dari beberapa resep trus saya uji coba sendiri sampe nemu combo yang pas sama selera orang rumah. Udah nguprek2 nyari resep aslinya tapi gak ketemu, saking udah lama dan banyak banget yang saya ubah2. Maapin ya... :( ).
Yang donat gak pake oven, digoreng aja. Yang banana bread pake oven. But dua2nya gak butuh mixer. Kedua resep ini gluten free, dan kalo mau dibikin casein free (dairy free alias gak pake susu) bisa juga.


DONAT KENTANG NON GLUTEN

Bahan
2 kentang ukuran sedang, rebus dan lumatkan panas2
1 sdm butter
1 butir telur
150 gram tepung maizena (atau pake tepung non gluten lain, asal jangan pake tepung beras ya, ntar jadinya keras kayak batu)
1/2 sdt garam
1 sdt baking powder
Sedikit vanilla
1 sdm gula halus (saya nambahin sendiri nih)
Buat taburan: icing sugar / gula halus khusus buat donat, atau gula pasir biasa, bubuk kayu manis, atau apa aja sesuai selera (misal butter sama keju parut, dll)

Cara
Masukkan butter ke kentang lumat yang masih panas, aduk. Tunggu sampe agak dingin, lalu masukkan telur, tepung, gula halus, aduk rata sampe bisa dibentuk.
Bentuk donat, taruh di tray, tutup serbet bersih selama 10-15 menit sampe mengembang (katanya, tapi berapa kali saya bikin gak pernah ngembang tuh, hm.... -.-‘).
Deep fry (saya pake panci buat menggoreng, supaya gak perlu minyak banyak2).
Selagi donat masih hangat, masukkan ke kantong plastik berisi gula pasir + bubuk kayu manis, kocok2. Katanya sih kalo mau ditabur gula pasir donatnya harus didinginkan dulu. Tapi karena saya ga sabar, saya campur semua dah gula pasir, gula halus sama kayu manis :P

Yaay berhasil aplot *whoop! whoop!*
Donat lagi digoreng. Saya pake panci biar bisa deep fry sambil ngirit minyak :D

Buat suguhan kelinci percobaan tamu :)


Resep berikutnya: EASY BANANA BREAD

Bahan
4 pisang ambon ukuran besar yang kematengan (kulitnya udah kecoklatan), lumatkan
2 telur gede
3/4 cup (atau 200 cc) susu cair (atau santan, kalo mau casein free, atau bisa juga air putih)
1/4 cup (sekitar 75 cc) minyak kelapa (saya pake merk Barco atau Aroma)
1 3/4 sampe 2 cup tepung beras, ayak 
1/2 atau 3/4 cup gula pasir (boleh ditambah kurang sesuai selera)
1 sdt vanilla
1 sdt bumbu spekuk
2 sdt baking powder (saya suka kurangin jadi 1 sdt, gak papa bantat dikit mah ya :P)
1/2 sdt garam

Cara
Campur pisang lumat, telur, susu cair/santan, minyak kelapa, aduk rata.
Di baskom lain, campur tepung beras, gula, vanila, spekuk, baking powder dan garam, aduk rata (jangan males ngaduk bahan2 kering ini ya, baking powdernya kudu tercampur rata soalnya).
Campur bahan basah ke bahan kering, aduk asal nyampur aja, jangan diaduk berlebihan karena bisa bikin bantat. Masih berindilan juga gak papa.
Tuang ke loyang yang udah dioles minyak (saya pake mangkok pyrex).
Panggang 160-180 derajat C selama sekitar 30-45 menit. Kalo udah mulai mateng, lakukan tes tusuk: tusuk tengah2 kue pake tusuk gigi atau tusuk sate atau tusuk apa aja, tusuk konde juga boleh, bahkan pisau pun boleh :D  Kalo kue udah mateng, tusukan yang ditarik keluar akan bersih, gak ada adonan basah yang nempel.


GF banana bread yang si D doyan, yippiiieee... :)))

 Tips:
* Remember jangan ngaduk berlebihan. Tepung diayak biar gampang rata waktu diaduk. Ngaduk berlebihan akan bikin udara keluar dari adonan, trus adonan jadi bantat. Kue-kue GF emang cenderung lebih bantat dan lebih “ngeprul”, gimana ya jelasinnya... teksturnya walopun OK, tapi gampang berontokan gitu deh. Alhasil anak saya sih makannya jadi super duperrrrr berrrrrantakan. Oh well... GF comes with such price, I’m telling you!

* Lumatkan pisangnya sampe halus banget ya, kalo ngga nanti ada gumpalan pisang di tengah2 kuenya hehehe... kalo doyan sih gak papa. Tapi kalo mau tekstur yang merata, lumatinnya sampe halus, makanya pisangnya juga harus yang udah lembek nyaris busuk gitu xixixi... Saya lumatinnya pake garpu. Kadang kalo si D lagi pengen ikut2 masak, dia bantu ngelumatin pisang :)

* Takeran tepung segitu sesuaiin selera masing2, demen yg padet atau gak terlalu padet. Tetep jadi kok kuenya.

* Oven beda-beda, so kalo udah jalan manggang 20-30 menitan, awasin baik2 kuenya, supaya gak gosong.

Nah sekarang lanjut cerita lagi ya :P Kalo gak mau denger cerita and udah gak sabar mau masak ya gapapa juga sih, silakan aja, bebas aja hihihi....

Terinspirasi dari resep2 panggang2an dari blognya maknyak TTR (Timmy-Tiara-Rafa; seenaknya ya gue bikin singkatan heheheh...), makanya saya jadi mantep beli oven dulu. Maka panggangan saya yang pertama, yang saya pikir fool proof, adalah “garlic bread”. Gampang dong? Cuma baguette dioles butter ama garlic n mixed herbs (optional). What could possibly go wrong???
Maka dengan gagah berani saya beli baguette: tau kan, roti pentung yang keras itu tuh, yang banyak dijual di supermarket, bentuknya kayak guling ceking.

Ternyata pas oven dipanasin di atas kompor, saya tuh kudu tau ya, apinya kudu segimana untuk menghasilkan suhu yang saya inginkan. Hem... di sinilah jam terbang berbicara, sodara sodari!
Karena dulu itu “terbang” saya yang perdana, maka saya percaya aja sama termometer yang nempel di jendela oven saya, yang menyatakan suhunya sekitar 150 derajat C, padahal besi alas kompor saya udah merah membara kayak besi dipanasin di film2 silat buat bikin pedang itu.
Trus saya masukin lah baguette cantik saya, yang bertabur keju quick melt (cari yang murmer aja). Saya perhatiin baik2, kok itu keju gak kunjung melt alias meleleh ya??? Malah ujung2nya mencoklat dan tampak mengering???
Dan saya gagal mengingat2 satu detail kecil dari resep (kan udah diapalin, saking simpelnya) yang tampaknya penting, yaitu berapa lama proses pemanggangan... :P
15-20 menit kemudian saya udah ga sabar, saya keluarin tuh my dear garlic bread yang kejunya gagal melting. Setelah dingin saya cobain, dan saya gagal juga menggigitnya wakakakakka.....
Garlic bread-ku sayang KERASnya ngalahin kaca antipeluru wakakakkaka.....
Hm... kirain fool proof :P

Setelah konsultasi sama my baking guru, yaitu BFF saya yang sekarang tinggal di Holland, saya dianjurkan beli termometer oven.
Hm... duit lagi nih keluar.... bolak balik ke toko alat RT murmer tapi barang yang dicari gak kunjung nongol. Cuma ada di ACE Hardware (duh lagi2 saya meng-endorse toko ini :P). Setelah berulang kali ke ACE nungguin diskon yang tak kunjung datang, akhirnya malah datang barang sejenis yang harganya lebih mahal, maka saya memantapkan hati beli termometer oven. TIPS: kalo mau beli termometer oven, kalo bisa beli yang ada 2 macem ukuran suhu ya: Celcius and Fahrenheit, bukan apa2, biar praktis aja. Soalnya ada yang Fahrenheit doang, kan males tuh kalo kudu meng-konversi ngitung2 segala.

And then bakingan saya yang perdana adalah: BANANA BREAD. Kali ini beneran fool proof ;)
Atau itu cuma beginner’s luck? I dunno dah, pokonya sukses, and si D doyaaaaannnnnn  ^____^

Sekian dan terima kasih.

Sampe jumpa di gluten free adventure selanjutnya: GF Tiramisu ^____^ 

Saturday, January 18, 2014

Resep Saus Tomat Homemade ala Mamaw

Lagi hobi ngedapur nih, so jangan bosen ya liat postingan resep :p

Seperti saya pernah bilang, si D kan pantang makan makanan/minuman yang mengandung pewarna tuh, sedangkan dia cukup doyan saus tomat, dan emang masakan2 kan banyak banget yg pake saus tomat. Saya pernah melototin bahan2 yg terkandung di dalem saus2 tomat komersil, ada yang produsennya gak nyantumin kalo dia pake pewarna (padahal warnanya merah genjreng, masa iya ga pake pewarna ya?), ada juga yang dengan curangnya pinternya nulis "pewarna alami tartrazine no Cl.12345 (misalnya)". Saya kasih tau ya, itu NGIBUL, sodara/i, gak ada yang alami klo udah pake nomer2 gitu. Emang pewarna makanan sih mustinya aman dikonsumsi, tapi karena dah bertaun2 ngerasain sendiri efek langsung pewarna makanan terhadap perilaku anak saya, saya jadi menabuh genderang perang sama para pewarna makanan yang bukan bikinan Tuhan sendiri, termasuk di dalamnya bahan2 pewarna di obat-obatan. Maksud saya pewarna makanan bikinan Tuhan adalah yang benar2 alami, seperti merah dari tomat, cabe, buah bit, hijau dari daun2an, ungu dari ubi ungu or buah naga, dst. Itu baru alami, Mas Produsen.... yang pake nomer mah ngakunya doang alami :p
Saya jadi mikir, kalo efeknya gak langsung kerasa dan gak keliatan, trus jadi santai2 aja makanin itu warna-warni selama berpuluh2 taun, gimana ceritanya ya? *bukan nakut2in loh yaaa.... ini cuma memperingatkan :p*

Anyway, back to saus tomat. Setelah berbulan2 survei bikin saus tomat, bbrp bulan lalu saya coba bikin, tapi hasilnya mengecewakan hehehe... selain si D nan superpicky ogah nyolek, saya juga ogah wkwkwwk... gak asik dicolek soalnya. Rasanya juga yah.. begitulah... akhirnya sausnya itu cuman kepake buat masak, gak buat dicolek2.
Tapi pengalaman emang guru yang terbaik ya (cieehh..). Setelah direnungkan dan diresapi dan direncanakan baik2, akhirnya tempo hari saya berhasil bikin saus tomat yang lumayan oke. Menurut suami sih rasanya enaaakkk banget (selain karena dia suami yang baik, low maintenance, dan suportif, juga karena urusan makanan mah suami saya taunya cuma "ENAK" dan "ENAK BANGET" wkwkwk... so, klo dia udh bilang ga enak, berarti tuh makanan rasanya "OH SUNGGUH TERLALU!" wkwwkwk....). Menurut saya mah lumayan lah, bisa buat colek2, tapi klo buat masak seperti nasi goreng, saus fuyunghai mah rasanya emang muanteppp, Gan.... :)

So, cukup lah preambule-nya ya, biar ga kepanjangan. Ini dia resepnya (maap klo buat takeran mah saya emang penganut aliran "ini secukupnya, itu secukupnya" soale selera orang kan beda2 ya... yang penting sebisanya pakein semua bahan yang ditulis, mudah2an cocok di lidah ente2 semua yang nyoba):


SAUS TOMAT HOMEMADE ALA MAMAW

1 kg tomat merah, yang bagus ya, gak boleh ada yang bonyok atau hampir busuk
2 siung bawang putih, geprek, iris
1/2 bawang bombay kecil, iris dadu kecil
1 seledri iris halus
3-4 sdm cuka apel (sesuai selera masing2, kalo doyan asem silakan ditambah)
1 sdt garem (jadinya agak asin memang, tapi jangan dikurangin banget, soalnya garem ini fungsinya sbg pengawet alami)
2 sdt gula pasir (karena saya gak doyan asem, boleh aja dikurangi)
1 sdm butter buat numis (saya anti margarin karena berpewarna)
Sedikit mixed herbs (rempah2 kering botolan, banyak di supermarket, gak pake juga gak papa)


CATATAN PENTING:
Buat semua makanan yang diawetkan secara homemade, penting banget buat jaga sterilitasnya selama proses bikin dan penyimpanan. Klo tercemar, sausnya bakal jamuran atau gampang busuk. So perhatikan baik2 soal kebersihan ya. CUCI TANGAN. Blender, sendok, dan barang2 yang gak dipanasin di api sebaiknya disiram air panas dulu sebelum dipake.
Stoples kaca buat nyimpan sausnya HARUS direbus dulu selama 5-10 menit (diitung sejak airnya mendidih blubuk blubuk gitu; si stoples harus kerendam air dingin seluruhnya, baru api dinyalain ya, supaya gak pecah), dan setelah mendidih, gak boleh disentuh tangan, selain karena panas (BANGEETTT wkwkwk) juga supaya gak tercemar kuman dari tangan kita. So, pake penjepit (thong) steril yang tadi ikut direbus ujungnya aja (pemegangnya jangan direbus, ntar bingung lagi megangnya gimana wkwkwk).

Hm.. kok ribet ya? Emang ribet, namanya juga homemade :p ada harga yang harus dibayar.
Tapiii... jangan gentar dulu, kalo udah dilakonin 1-2 kali, pasti kita bisa langsung nemu selanya kok, nemu cara yang praktis buat kita masing2. Sekali lagi, pengalaman tuh guru yang yahut! :)
So, COBA AJA DULU, maju terus pantang munduuurrr!! Semangaattt!! :)

Cara membuat:
* Didihkan air kurleb 3 gelas, matikan api. Rendam tomat selama 1 menit. Pastikan tomatnya kerendam semua, klo perlu tambahin airnya atau dibagi 2x ngerendem. Klo saya mending airnya dibanyakin, biar gak 2x kerja :p
Tiriskan, panas2 kupas kulitnya (abis direndem ini jadi gampang copot kulitnya), potong 4, buang biji, cemplungin ke blender yang bersih. Konon proses ini juga bikin warna saus jadi merah cerah.
* Tumis bawang putih n bombay pake butter, masukin juga irisan seledri, kalo dah harum, masukin ke blender bareng tomat tadi. Blender sampe halus.
* Saring ke panci/wajan sambil ditekan2 kayak bikin bubur saring. Panasin di atas api, jangan gede2 apinya, tapi gak perlu terlalu kecil juga, lama entar (saya emang gak sabaran hihihi...)
* Kalo udah agak kental, masukin cuka apel, mixed herbs, garem, gula. Cicip rasanya, tambah2in apa lah yang dirasa kurang. Masak terus sampe kental, konsistensi yang bisa dicolek lah.
* Saus udah selesai, sekarang masukin ke stoples, mulai step ini bener2 KUDU HARUS secara steril ya!
* Sendokin pake sendok yang barusan dipake buat masak, atau kalo pake sendok makan, harus yang udah direbus bareng ama stoplesnya tadi. Klo udah, tutup stoplesnya tapi jangan terlalu rapet, asal mencegah kontaminasi aja (misal lalat hinggap atau kena debu). Kalo udah agak hangat, artinya tangan telanjang udah kuat megang bodi stoples berisi saus, tutup rapet2, masukin kulkas. Saya suka masih agak panas waktu saya tutupin rapet n masuk kulkas, nanti si isi stoples jadi vacuum sealed alias rapet dengan tekanan rendah di dalemnya, ini juga nambah awet si saus.

Nanti2 kalo ngambil saus, harus sendok bersih, and jangan keluar masuk, artinya ngambilnya sekali jadi aja (ini mengurangi kontaminasi n supaya awet), abis itu langsung tutup lagi stoplesnya, dan selalu simpan di kulkas ya. Konon tahan dua bulanan, asal jangan keseringan dibuka tutup.

Resep ini menghasilkan saus 100-150 cc doang, uhuk2... >_<
Namanya juga masih coba2... sekarang udah tau cocok, nanti2 klo bikin lagi saya bakal dobelin resepnya. Tapi jangan kebanyakan juga, ntar blom abis udah keburu busuk.

Stoplesnya bisa pake jar bekas selai (dulu saya belom musuhan ama pewarna :p), bisa juga beli the famous MASON JAR di ACE HARDWARE, gak mahal kok. Saya ada juga stoples kaca yang tutupnya plastik, beli di Daisho. Perlu diingat kalo tutupnya plastik gak bisa ikut direbus ya (stoplesnya juga jangan yang plastik!), paling disiram air mendidih aja. Makanya itu mason jar bagus punya emang, silakan dibeli, dan liat sendiri keungulannya (semoga ada staf ace hardware yang ngasih compliment karena saya udah promosiin produk dagangannya :p)

Ini pic nya (kalo lagi bisa ngaplot... saya pake stoples bertutup plastik dari Daisho). Oh iya jangan lupa kasih label biar tau umur si saus ya...

*duh ga berhasil ngaplot lagi... huhu... mohon maap ya... :'(*

Ayoooo bikin saus tomat homemade..! Bisa juga loh buat pamer di FB dan BB -LHO?! Ngajarin gak bener... ROFL

Update: Yaay berhasil aplot!


Tuesday, January 14, 2014

Kentang Panggang ala Mamaw ;p

Posting resep ah... ^^

Bukan mau pamer, atau ikut2an. Tapi dengan maksud melestarikan resep yang biasa saya bikin di rumah, siapa tau yang baca butuh. Secara D itu on a very specific diet: kudu bebas coklat, bebas pewarna (yup pewarna makanan pun gak bisa, juga pewarna yang sering ada di obat-obatan terutama syrup), dan bebas gluten. Dua syarat pertama udah bikin pala puyeng, tapi yang terakhir (GF alias gluten free) beneran bikin kami mati kutu. Soalnya sebagian besar cemilan kayak biskuit, kue2 bolu yang si D doyan kan terbuat dari terigu. So, bye bye cemilan praktis yang tinggal beli, selamat datang TUGAS baru: nguprek dunia maya dan cari inspirasi masakan terutama cemilan yang bisa diterima ama si D, soalnya dia itu juga picky banget, bikin urusan satu ini tambah runyam.

Kalo pengen tau soal gluten, liat di sini ya.

So, ini dia resep Kentang Panggang ala Mamaw:

1/2 kg kentang, rebus, lumat kasar aja
75 cc susu uht (saya pake ultra mini putih 125 cc, sisanya saya tenggak, kecuali klo mau dipake masak yg lain hihi... gahar amat ya maen tenggak :p soalnya saya pelupa, klo disisain bisa2 terlupakan sampe basi) - klo suka tekstur yang lebih lembek boleh ditambah, trial and error aja sesuai selera
2 siung bawang putih, geprek, iris halus
1/2 bawang bombay kecil (klo gede seperempat aja atau kurangin lagi) potong dadu kecil
1 putih telur, kocok lepas (optional, saya pake biar rada padet teksturnya, sesuai selera kami)
2 lembar smoked ham iris kasar, boleh diganti kornet, sosis, apa aja sesukanya
1 wortel, potong dadu kecil (klo mau praktis diparut aja, sy suka di dadu krn bikin ada yg crunchy)
Keju quick melt (optional)
Keju cheddar buat taburan
Mixed herb atau oregano boleh juga
Garam, lada, gula pasir sesukanya
2 sdm butter atau minyak goreng buat menumis, sama buat ngolesin loyang

1. Tumis bawang putih n bawang bombay pake butter/minyak sampe harum, masukin susu, smoked ham, wortel, bumbuin lada, garam, gula dikit, mixed herb atau oregano atau dua2nya kayak saya punya hehe...
2. Adukin sama kentang lumat tadi, masukin juga telur kocok sama kejunya. Sisain sebagian keju buat taburan.
3. Masukin ke loyang pyrex yang udah dioles minyak goreng, taburin keju cheddar.
4. Panggang 150 dercel sekitar 30-35 menit, sampe keju taburnya keemasan.

Kalo gak mau langsung dimakan, simpan aja di kulkas setelah langkah no.3, sebelom dimakan baru dipanggang. Atau bisa juga dipanggang setengah mateng dulu, suka2 aja deh.



Note: kalo pake keju quick melt doang, panggangnya ditutup alumunium foil selama 15-20 menit pertama biar kejunya lumer and gak gosong, abis itu buka cover alumuniumnya, trs panggang lagi tanpa tutup biar kejunya agak kecoklatan.

Note 2: smoked ham saya asiiiinn banget rasanya, ditambah keju jadi lebih asin lagi, so kira2 ya nambahin garem ama kejunya, jangan ekstrim wkwkwk.... (trust me, saya kenal bbrp orang yg klo doyan sesuatu bisa ekstrim banget, jd ini penting ya!! :D)

Note 3: panasin dulu ovennya sambil numis2 kalo mau langsung manggang. Soale makanan panggang2 ini praktis tapi manasin/ngebake-nya makan waktu, gak bisa ekspres.

Perlu diketahui, saya udah survei sampe mata melotot, BELOM PERNAH NEMU margarin Indonesia yang gak pake pewarna. (Kecuali mungkin mentega putih curah di pasaran, tapi saya ogah pake itu ah. FYI yang putih juga belom tentu sehat juga loh, banyak yang diputihin lewat proses yang gak sehat.) So, saya udah setaunan berenti make margarin. Kalo masak ala barat saya numis pake butter, kalo ala chinese saya pake minyak goreng. Gak demen bau dan harganya olive oil so gak pernah beli (belum). Konon minyak kelapa lebih sedikit diproses dan lebih stabil di suhu tinggi (gak jelas juga stabil apanya, trans fat nya kurang kah? Atau stabil sifatnya, gak kayak emak2 yg lagi PMS?? Hm...), so sekarang saya pake minyak kelapa buat numis2 atau goreng2. Saya tetep sedia minyak goreng biasa yang lebih murah, buat goreng krupuk or ikan or sejenisnya.. demi pengiritan :p

Oke deh segituh aja.

Yuk emak2 mari kita tinggalkan pewarna makanan/minuman dan hidup lebih sehat, anak2 lebih sejahtera, sekalian nemenin saya biar saya gak freak sendirian amat hihihi....

NB. Gak berhasil ngaplot fotonya nih huhuhu.... nyusul aja ya... tapi beneran kok ini resepnya bukan hoax ;) Fotonya biasa aja kok diambil pake HP, saya bukan foodie blogger so, foto ala kadarnya, mohon maklum ;)