Showing posts with label hubby. Show all posts
Showing posts with label hubby. Show all posts

Monday, May 25, 2015

For the First Time

Saya lanjutin postingan lop setori ya.
Kalo mau baca kisah awalnya, silakan ke sini.

Jadi siapa orang yang waktu itu lagi saya doain?

Alkisah beberapa minggu itu ceritanya saya lagi ngecengin seseorang. Seperti saya bilang tadi, status jomblo ngenes bikin saya galau, jadinya begitu nemu bachelor yang eligible dikit langsung deh ngebet bin kebelet. Waktu itu juga ada temen yang ngomporin dan memfasilitasi dengan gencar, jadinya bikin saya makin gimana gitu.

Namanya co-ass tuh ya, stressnya banyak, jadi kalo ada bahan buat seru-seruan langsung disambut dengan gegap gempita. Tau sendiri dong, gebetan kan bikin hidup lebih berwarna, hahaayy... :D  Nah gebetan serius-serius-engga itulah yang lagi saya doain. Urusan pasangan hidup buat saya adalah masalah yang amat sangat penting, dan sejak ABG saya udah terbiasa untuk doain and cerita sama Tuhan segala rasa yang ada di dada (hoek...) sampe hal-hal yang paling sepele sekali pun. Jadi dibawa dalam doa tidak sama dengan jatuh cinta atau gimana gitu.

Setelah sepakat saling mendoakan, saya dan Ivan menjalani hari-hari seperti biasanya. Gak pake perjanjian didoain berapa lama, pokoknya sampe saya yakin aja bahwa emang dia beneran pasangan hidup yang Tuhan sediain buat saya. Bener-bener serius ya, kaya diajak kawin aja wkwkwk....

Beberapa minggu berjalan, saya ajak Ivan kenalan ama ortu saya.
Begini ceritanya:

***
(Note: Mr. Sut = Papa Lia; Mrs. Sut = Mama Lia)

“Rumahnya di mana?” tanya Mr. Sut.

Sang pemuda yang bernama Ivan itu berpikir keras dengan groginya. “Eee.... eee... di.... mana itu ya........ eee....... Lupa, Oom...” jawabnya sambil tersenyum putus asa, keringat bertetesan di pelipisnya.

Mrs. Sut tak bisa menyembunyikan senyum geli, dan berusaha memalingkan wajahnya. Lia Sut yang welas asih berhasil meredam tawa di balik hembusan nafasnya yang hanya sedikit terlalu keras. Beruntung tidak terlontar suara semburan yang tidak sopan.

Mr. Sut tak bergeming, menatap dingin sedikit bingung. “Lupa?! Ah...! Masa alamat sendiri bisa lupa?!”
Mr. Sut seolah tak menyadari tatapan berbingkai kacamata tebal di bawah alis matanya yang nyaris tak nampak itu cukup untuk meluluhlantakkan nyali seorang pemuda yang tengah berusaha merebut hati putrinya. Belum lagi kumisnya yang melintang rapi, yang disemirnya dengan rajin semenjak uban mulai bermunculan. Seulas senyum kecil di bibir tipisnya yang dimaksudkan untuk sedikit melenturkan suasana rupanya tidak banyak membantu.

Keringat di pelipis si pemuda menetes lagi. Dan lagi. Ini lebih menyeramkan daripada yang dia perkirakan sebelumnya. Syukur tadi dia sudah menyempatkan diri untuk buang air kecil sebelum datang kemari. Kalau tidak... bisa terkencing-kencing pula... Duh. Kukira dia cuma bercanda waktu memperingatkan bahwa papanya galak. Kalau saja Lia lebih menekankan keseriusan informasi itu, sesalnya dalam hati.

Dengan susah payah, Ivan mengumpulkan fokus dan memeras otak mengingat-ingat alamat rumahnya. Tak berhasil. Akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk tidak jaim. Lagipula melupakan alamatnya sendiri sudah merusak segala imej yang ingin dibangunnya. “Saya bener-bener lupa Oom... grogi...” katanya sambil tersenyum memelas.

“Memangnya baru pindah rumah? Udah berapa lama tinggal di sana?” tanya Mr. Sut yang selalu kritis dan logis, mencoba memahami sudut pandang pemuda itu.

“Udah lama kok Oom... Nggak baru pindahan. Saya nggak inget nama jalannya rumah saya. Saya inget jalan di sisi kanannya itu jalan A, sisi kirinya jalan B, sebelah sananya jalan C, tapi saya nggak inget rumah saya di jalan apa...." jawabnya.

“Ooo... Ya sudah,” timpal Mr. Sut datar, sambil mengalihkan pandangannya ke layar TV yang menyiarkan berita sore.

“Saya pamit dulu, Oom... Saya mau ajak Lia keluar sebentar, boleh Oom?” tanyanya sambil harap-harap cemas.

“Ya udah. Ati-ati,” jawab Mr. Sut memutuskan untuk sedikit basa-basi dan berbelas kasihan.

“Pergi dulu ya, Pah... Mah...”, Lia pamit kepada orangtuanya.

“Permisi, Tante...”, pamit si pemuda kepada Mrs. Sut, yang dijawab dengan, “Yuk...” serta bonus senyum manis lengkap dan anggukan kepala ramah, untuk membesarkan hati pemuda malang itu.
***

Itulah kisah pertama kali Ivan ketemu sama camer, wkwkwkwk... it was hillarious and memorable. Begitu keluar rumah menuju motor, saya dan Ivan ngakak segede-gedenya, dan surprise, Ivan mendadak inget alamat rumahnya huahahahh... saya tawarin balik lagi ke dalem rumah, tapi Ivan dengan ngeri menolak dan buru-buru make helmnya, ngajak saya cabut.

Itu juga pertama kalinya kami pergi berdua, nge-date gitu ceritanya, cieehh.... Kami naik motor menuju ke mall Istana Plaza, rencananya mau beli kado buat teman yang berulang tahun, lalu kami mau mampir ke rumahnya buat ngasih kado itu.

Dalam perjalanan pulang dari mall, tiba-tiba seorang petugas polisi lalu lintas meniup peluit dan meminta kami berhenti. Yap, kami ditilang! No kidding, pikir saya... Hasn’t there been enough drama for one night?

Rupanya motor butut cinta-nya Ivan gak nyala dong lampu depannya. *tepokjidat*  I didn’t know then what I know now, that this guy is magnet for all kinds of dramas. Gak ngerti kenapa dan bagaimana, tapi kapan pun dan di mana pun, di sekelilingnya kok banyaaakkk banget cerita-cerita yang bikin jidat berkerut bingung dan mulut melongo. Kok ada ya orang model begini... oh well... menerima apa adanya itu mahal harganya, jendral! Wkwkwk...

Dan ternyata oh ternyata... SIM-nya Ivan pun udah mati, begitu juga STNK-nya. Scratch the phrase “drama magnet”, change it into “drama king”. Ckckck... saya sampe geleng-geleng kepala. Ini adalah salah satu geleng-geleng kepala saya yang pertama berkaitan dengan urusan drama, dan jelas bukan yang terakhir, hihihi... makin ke sini perasaan malah makin kenceng geleng-gelengnya -.-‘  Kadang-kadang geleng-gelengnya dengan takjub dalam arti cukup negatif, tapi sebagian besar sih takjub netral, hahaha...

He’s just one of the funniest, silliest guys ever.  Dia orang yang (pada umumnya) gak bisa jaim. Sekalinya berusaha jaim, pasti keliatan banget, dan end up ngancurin imejnya sendiri, lebih parah daripada gak jaim sekalian :D But mostly dia orang yang apa adanya, cenderung rada gak tau malu. Kepo (banget) dan sering keceplosan. Hobi nonton reality show, quiz, sampe infotainment wkwkwkw...  In these long 13 years, he has evolved into a wonderful, faithful, committed, loving husband and father that our son and I cherish and are so proud of. He loves us and takes care of us unconditionally, sacrificially. And I have been loving him more and more ever since. :)

Segini dulu ya, pemirsa... Kapan-kapan disambung lagi, kalo yang baca masih berminat ;)

Monday, May 18, 2015

When I Fall in Love

Semasa muda banget dulu (sekarang muda sedikit :P), saya termasuk orang yang rada dodol di urusan relationship. Sampe umur 20an, saya masih single binti jomblo. Bukan jojoba (jomblo jomblo bahagia), apalagi high quality jomblo, saya lebih cenderung ke arah jomblo ngenes. Jangan salah, yang naksir sih banyak banget ada lah, tapi gak pada sampe menyatakan cinta tuh.

Sobat saya sampe pernah nuduh, saya ini kelewat suka public figure (misalnya Tom Cruise, sebelom dia aneh2), sampe masang kriteria yang imposibel buat cowo di dunia nyata :O Tapi tentu aja tuduhan itu tidak benar.

Kriteria saya padahal sederhana aja loh: (1) cinta Tuhan dan (2) diterima sama ortu. Plus beberapa kriteria standar lain yang masih bisa dikompromiin, seperti tidak merokok, enak diajak diskusi, bisa ngejagain saya, suka baca dan nonton, dan kalo bisa sih sama-sama dokter supaya nyambung kalo diskusi.

Saya mulai kuliah tahun 1996. Sampe lewat masa kuliah sepanjang 8 semester, saya masih aja jomblo. Doa sampe nungging udah dilakukan. Memperluas pergaulan udah, sampe desperate minta dikenalin sama an eligible bachelor, ampuuunnn malunya kalo inget itu sekarang... @.@ Jangan ditiru ya, pemirsa cewe!

Alkisah tersebutlah seorang pemuda bernama Ivan –tsaaahh...–

Pertama kali ketemu Ivan pas saya masuk kuliah dan mulai OSPEK. Dia senior 1 tahun di atas saya. Pertemuan itu buat dia sih gak berkesan apa-apa, tapi buat saya berkesan sekali. Bukan apa-apa, waktu itu kan semua mahasiswa baru disuruh ngumpulin sekian ratus tanda tangan senior, nah Ivan adalah salah satu senior yang sok-sok ngancem ntar bakal ngetes apa saya inget namanya, dan kalo pas dites saya lupa, tanda tangannya bakal dia coret. Sebagai mahasiswi nan polos dan lugu saya kena dikerjain, buru-buru saya hafalin nama dan mukanya. Yang minta dihafalin namanya bukan cuma Ivan, tapi juga beberapa orang senior lain. Jadinya saya suka pengangguran ulang-ulangin nama and muka-muka mereka, takut dites, wkwkwk..... *bener2 terlalu lugunya*
Dan tentu aja yang bersangkutan sama sekali gak inget pernah nyuruh gitu >:(

Sekian lama kuliah, kami gak bisa dibilang berteman, kenal dari jauh doang.
Zaman kami kuliah dulu, kami dibagi dalam beberapa kelas. Saya dan Ivan jarang banget sekelas, baik kuliah teori maupun praktikum.

Tahun 2000, kami bareng-bareng wisuda S1, bergelar Sarjana Kedokteran, lalu melanjutkan co-ass di rumah sakit pendidikan. Nah program co-ass ini terbagi dalam 2 rangkaian, yaitu K1 dan K2.
K1 terdiri dari stase atau rotasi di bagian yang non-tindakan (non-operatif) seperti Anak, Penyakit Dalam, Saraf, Kulit dan Kelamin, Jiwa (di rumah sakit jiwa), Radiologi.
K2 terdiri dari stase yang full tindakan, seperti Bedah, Ob-gyn, Mata, THT, Gigi dan Mulut, Forensik.
Selama menjalani stase, kami dibagi dalam kelompok-kelompok, terdiri dari 6 orang. Stase di bagian mayor (Anak, Penyakit Dalam, Ob-gyn dan Bedah) dijalani dalam 12 minggu, dan stase minor dalam 4-6 minggu.

-BTW ini mau bahas kisah cinta apa kurikulum sekolah kedokteran ya-

Semasa co-ass di K1, lagi-lagi kami gak pernah stase di 1 bagian yang sama.
Pertengahan tahun 2002, barulah kami stase bareng di bagian bedah. Waktu itu kelompok saya udah minggu ke-8 (dari 12 minggu), sedangkan kelompoknya Ivan baru masuk.

Beberapa hari sebelum masuk stase bedah, malem-malem Ivan datang ke RS, mau ngambil buku2 dan diktat2 lungsuran dari temennya yang baru selesai stase bedah. Waktu itu saya lagi jaga malam di IGD, sekitar jam 7 malem mata saya yang pake softlens iritasi, tapi kacamata dan perlengkapan lain saya simpan di ruko. Ruko adalah RUang KO-ass, letaknya di bagian belakang RS. Jarak dari IGD-ruko bedah lumayan rada jauh juga, kaki saya udah pegel akibat beraktivitas nyaris sejak subuh. Malam masih panjang jadi saya hemat tenaga, apalagi saya kalo jaga malem bawaannya suka didatengin kasus-kasus seru. Kalo biasanya jarang ada kasus bedah kepala, saya pernah dalam semalem dapet 2 kasus bedah kepala, belum termasuk kasus lainnya.

Anyway, karena ruko dikunci dan kuncinya dipegang sama ko-ass jaga (yaitu saya), datanglah Ivan ke IGD. Pas tau dia mau ke ruko dan dia bawa motor, saya seneng dong, lumayan ada tebengan. Nyampe di ruko, ternyata barang yang Ivan cari gak ada. Saya saranin dia telpon ke temennya, tapi tanpa dengan malu2 Ivan bilang pulsanya abis -.-‘

Jadi mau minjem HP en pake pulsa gue, gitu? – karena saya cewe jomblo yang berbudi luhur, saya ngomong gini dalem hati doang.
Lagi pula emang ngenes karena dulu saya ada HP tapi jarang dipake. Jarang nelpon maupun ditelpon, jarang nerima maupun ngirim sms. Telpon ke HP kan dulu masih mahal ya, jadi buat ngobrol biasanya pake telpon rumah. Pulsa HP sampe bertumpuk-tumpuk karena zaman dulu kan kudu isi pulsa sebelom tenggat waktu tertentu, supaya tetep aktif.

So, dengan manisnya saya kasih pinjem deh HP saya. Kelar itu, sekalian Ivan menuju gerbang keluar RS, saya nebeng lagi sampe IGD.

Sepertinya saat itulah Tuhan teringat kepada kami *garing* :P
Atau mungkin saat itu planet-planet berjajar segaris atau ada asteroid tabrakan di luar angkasa *lebih garing!* Wkwkwk...

Ivan bilang sih gak begitu inget malem itu, tapi herannya saya inget meskipun daya ingat saya terbilang jelek. Mungkin karena pulsa HP yang kemakan lumayan banyak ya, huahahahah...
Yang jelas our paths suddenly crossed on that fateful night and have gradually merged into one ever since :)

Hari Senin berikutnya, Ivan mulai stase bedah bareng saya.
Di tempat kami, stase bedah adalah stase yang dianggap paling berat di antara semua stase yang lain. Paling berkesan pokoknya, bittersweet banget. Co-ass bedah biasanya kulitnya bertambah putih, muka tirus dan langsing, soalnya jarang ketemu matahari dan supersibuk. Berangkat ke RS sebelom matahari terbit, pulang jauhhh setelah matahari terbenam. Jam 6.30 seluruh co-ass bedah udah berbaris rapi untuk diabsen via telpon oleh kepala bagian Bedah, the famous dr OH, SpB.

Jam 6.30 gak terlalu pagi dong ya? Tapi kami masing-masing punya “buku ijo”, yaitu buku tugas segede majalah, yang saban hari kudu ditulisin rata-rata 8-10 lembar kalo lagi beruntung, kalo lagi sial ya dikalikan 2. Buku ijo ini juga dikumpulkan jam 6.30 teng. Padahal beberapa halaman dari tugas ini biasanya baru didapetin tengah malem atau subuh, yaitu kalo co-ass jaga gak bisa jawab atau dapet tambahan tugas. So, semua orang kudu dateng pagi2 banget buat ngelengkapin buku ijonya masing-masing dengan tugas terbaru.

Selain buku ijo juga ada buku lain seperti buku laporan operasi, dan tugas2 lain, bahkan tugas menggambar prosedur bedah atau alat tertentu. So, mornings for us were VERY hectic and stressful. Ruko dipenuhi teriakan garang, buku dan barang berhamburan di mana-mana, co-ass panik nyari bukunya yang keselip, ada yang sibuk ngingetin sekian menit lagi sampe waktunya absen, dll. Rempongnya nyaingin rumah ibu muda beranak kembar 7.
Itu baru hari biasa. Di hari visite besar, yaitu hari Selasa, kondisinya lebih gawat lagi, kayak film2 thriller! *yang ini bukan lebay*

FYI, di bagian bedah berlaku hukum ALL OR NONE. Jadi kalo 1 orang dapet tugas atau gak bisa jawab, maka SELURUH co-ass bedah, kudu ngumpulin tugas yang sama. Kesalahan 1 orang ditanggung bersama.
Selain itu, seluruh tugas yang dikumpulin juga kudu SAMA PERSIS, sampe ke titik koma-nya. Jadi semua tugas biasanya disortir dan dikerjakan dulu oleh satu tim kecil yang bikin 1 master jawaban, kemudian disalin sama seluruh co-ass lain.

Selama stase bareng, tentunya setiap hari kami ketemu. Kadang-kadang kami bertugas di bangsal yang sama, atau dapet jadual jaga malem yang sama.
Lama-lama, walopun lagi tugas di bangsal yang beda, saya selalu ketemu dia. Sampe suatu ketika, saya mulai ngerjain tugas akhir bagian bedah, saya jadi sibuk bolak-balik ke perpustakaan. Saya heran kenapa Ivan juga sering nongol di perpustakaan, padahal co-ass minggu awal biasanya gak sempet ke perpustakaan.

Karena polos, saya sama sekali gak kerasa bahwa dia ngasih perhatian lebih. Dan karena saya judes dan gak luwes, pas nyadar dia selalu ada, bukannya peka dan mikir saya malah nanya tanpa tedeng aling-aling, “Perasaan loe ada di mana-mana deh, mahahadir gitu. Jangan-jangan elo membuntuti gue ya?”

Saya nanya gitu dengan cueknya sambil cengengesan, soalnya saya beneran 100% bercanda. Ivan yang terpana denger pernyataan saya, tapi dia ngeles, bilang saya aja yang kegeeran. Ya udah deh, lewat. Saya sama sekali gak merhatiin lagi bahwa dia emang sering ada di tempat di mana saya berada.

Setelah 2 minggu, suatu sore selesai jam kerja di bagian bedah, saya lagi beres-beres di ruko, siap-siap nulis tugas hari itu, terus pengennya sih pulang cepet. Ivan lagi-lagi ngikutin saya, sampe ikut mondar-mandir di ruko.

“Loe ngapain mondar-mandir, ngikutin gue lagi ya..,.” sindir saya dengan teganya.

“Ih enggak kok,” Ivan jawab. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”

Saya rada tercenung, saya pikir wah ada masalah apa lagi nih para co-ass bedah. “Ya udah, ngomong aja atuh.”

“Gak bisa di sini.”

“Jadi mau di mana?”

“Ya di mana aja,” Ivan mulai rada gugup.

“Lah, aneh amat... masa di mana aja tapi bukan di sini? Tentang apa sih? Ada masalah ya?”

“Iya,” katanya misterius.

“Masalah apaan?”


“Yaa... gak bisa diomongin di sini lah....” katanya sambil senyam-senyum ga jelas, bikin saya penasaran, lumayan sedikit ngebales pedesnya sindiran saya tadi wkwkwk....

Ugh kurang asem nih anak, pikir saya. Jangan2 cuma mau ngerjain gue deh... “Alah masalah masalah apa sih... Loe bohong ya, mau ngerjain gue ya?”

“Idih, engga kok, beneran!” katanya.

“Napa, loe grogi gitu, jangan-jangan loe suka ya sama gue?! Hahahah...” ledek saya sambil ketawa sadis.

Ivan langsung merah mukanya, tergagap dan salting. Kalo aja di sana ada orang yang cukup peka yang ikut ngeliat adegan itu, mungkin kepala saya udah ditoyor saking dodolnya.

Abis saya bilang gitu Ivan dieeeeemmmmm seribu bahasa, gak sanggup ngomong lagi.
Walah, saya jadi guilty feeling. Saya pikir, beneran ada masalah deh ini kayanya. Hati saya mulai mencelos, siap2 denger problem akademis co-ass bedah.

“Yuk, sambil jalan aja,” ajak saya sambil bawa barang buat ditaruh ke mobil.

Di parkiran, saya buka pintu belakang mobil Suzuki Escudo biru tahun 1999 (info gak penting banget :P Biarin atuhlah, suka-suka saya hihihi...). Di bagian dalam kacanya bergoyang-goyang gantungan imut Snoopy dan burung kuning kesayangannya, Woodstock. Setelah naruh barang, saya bersiap dengerin curhatan. “Mau ngomong apa?” tanya saya lembut dan penuh pengertian. :)

“Aku... SUKA SAMA KAMU.” Katanya sambil menatap saya lurus-lurus dan tersenyum gugup.

HAAAHH....?!?!!
*geledek di siang bolong pun kalah ngagetin dah*

Ini kalo di komik-komik Jepang/Korea nan lebay, udah digambarkan dengan tampang begini:



(Gambar diambil dari http://imgbuddy.com/anime-shocked-expressions.asp)

Kalo di film India, udah pake musik dramatis, layar TV menyorot close up muka saya dan muka Ivan bergantian, berulang-ulang dan berlebihan.

But karena itu kenyataan, dan saya punya refleks yang cukup baik, setelah beberapa detik melongo kaget, saya berhasil bernapas lagi, dan menjawab, “Makasih...”

Sambil dalam hati mikir, matek gue... Ini beneran ya... Mana tadi udah gue ledekin kayak gitu... *tepokjidat* 
Aduh Mama sayangeee...ampuni kelakuan anak gadismu...

Lagian mana ada orang ditembak bilang terima kasih? >_<

“Jadi?” Ivan nanya setelah beberapa saat yang sangat canggung berlalu.

??? “Jadi apa?” tanya saya bingung.

“Jadi jawaban kamu apa?”

“Oh... Sebenernya gue lagi doain orang lain... “ kata saya (terlalu) jujur.
“Gue doain elo dulu ya...”

“Oh... Aku sih udiah doain kamu. Ya udah sekarang kita sama-sama doain ya. Kita liat nanti Tuhan bilang apa.”

Hari itu saya nyetir pulang dengan perasaan gak keruan, soalnya itu pertama kalinya ada cowo yang “nembak” (kasiaaan deh gue wkwkkwwk).
Dan cuma sekali itu doang, sampe sekarang belom ada lagi cowo laen yang berani nembak (tentunya :P).

To be continued di next post ya... udah kepanjangan...

Baca lanjutannya di sini: http://nataliasetiadi.blogspot.com/2015/05/for-first-time.html

Friday, November 9, 2012

From a Blessed Heart

Thank You, Lord, I am blessed.
Blessed by Your presence along my walk upon this planet.
Blessed by the things You’ve taught me through hardships and despair.

Thank You, Lord for the strength to keep going. The laughter and the tears.
I’ve stumbled and fell, but always rose again. The laughters comfort me, the tears humble me.
You have been my Sustainer.

Thank You, Lord, for my spouse.
He blesses me in every possible way, with his selflessness and a servant’s heart.
He does well in loving me the way You love the church.

Thank You, Lord, for my little prince.
He makes me laugh and cry and persevere.
Through caring for him I learn to know Your heart, Your Fatherly love, faithful and unfathomable.

Thank You, Lord for companions along the way.
They share my burdens, remind me of the great things You’ve done in their lives, and show me what I’ve been so blessed with.
They lift me up in their prayers, sending troops of angels to fight for and protect us from all evil.

Thank You, Lord, for delighting in me, believing in me.
Though I displease you far too many times.
I shall praise and glorify you with all my might, my heart and my soul.


I will be fully satisfied as with the richest of foods;
with singing lips my mouth will praise you.

On my bed I remember you;
I think of you through the watches of the night.

Because you are my help,I sing in the shadow of your wings.

I cling to you; your right hand upholds me.

Psalm 63:4-8

Wednesday, September 14, 2011

Celebrating 9 years of togetherness

Wow.

9 years.

Nine years ago, today, there was this young man falling in love with this young woman. He had been praying for her before he took courage to tell her that he had feelings for her.

She was totally shocked.

Clueless, she had been teasing him about his always being near her for the past two weeks. She had been jokingly accusing him of having romantic feelings for her.
Upon hearing such precise "accusation", he could only grin awkwardly.

It took her a couple of minutes to recover from her shock of his confession, and she could only mumble two awkward words: "Thank you".
After several minutes, she was finally able to say, "Let's pray about this and see God's will."
He said, "Oh I have been praying for you, for two weeks now. But as for now, let's both pray for it."

~ Fast forward 3 years ~

A mission field, Borneo.

The same young man and woman sit on the couch of a lovely wooden livingroom, on a warm, sunny afternoon. A wise, Godly old lady was praying for them and with them. Asking for God's guidance for taking this flourishing relationship to another level.
Both the young man and woman learnt a lot from the lady's experience in 4 decades of inspiring marriage to a wonderful missionary doctor. She told them not just the sugar and spice and all the nice things a marriage could bring, but also the land mines and potential chasms and abysses. And still some more that they would have to learn on their own.

~ Fast forward another 3 years ~

In yet another part of the world, the man and the woman -still young, but not THAT young now :)- sat side by side in their own humble livingroom. In a nearby bedroom, a precious little boy was fast asleep. They recalled over how far it had been since the event 9 years before. They reminisce over the tides and ebbs of life. The dynamics of a man and a woman's journey together.

Thus far they concluded, what matters most is one word. It is called COMMITMENT.
Commitment to God, creator of man and woman and marriage. Commitment to each other.
Commitment to accept, commitment to forgive, commitment to let go of the unnecessary. Commitment to bear with one another no matter what.

Ever since the fateful day 9 years before, they still pray together. Even more keenly. That the merciful God Creator would guide them through the years ahead. Not knowing what the future holds doesn't matter. They know who holds the future.

Thursday, September 3, 2009

Earthquake

Yesterday, at around 3 PM, there was an earthquake in West Java, Indonesia.

I was at home, with my family. My sister, my son and I just got home from running an errand. Hubby was napping after a sleepless night shift.
All of a sudden, the house was trembling. The walls were shaking to the left and to the right, as if going to fall down. Some stuffs even fell off the cupboards and walls.
I grabbed Darren, and shouted for Hubby with all my might.
We live on the 3rd floor, so we frantically rushed down the stairs. My sister and our helper was also running downstairs, out to the streets.

Outside, people were all over the street. Some were panicking, some were just numbed by shock.
The quake lasted for about a minute or so (who’s counting?).
Afterwards, when it seemed that it all had stopped, we looked at one another, and we just realised how my sister and Hubby were running bare foot. My sister had the chance to grab her purse and cellphone as she ran downstairs.
When the earthquake happened, I also had my purse right by our “escape route”, with some handy & valuable stuffs in it for sure. But although I passed right by it, I didn’t even think of grabbing it. The thought of getting some valuable possessions did cross my mind, but was instantly and subconsciously outweighed by the urge to make sure that my loved ones were safe.

I guess when it comes to an unexpected emergency, we only hold on to what’s TRULY important to us. Although possessions do matter, and much needed, when we face a life-and-death situations, we only hold on to our most precious possession: the PEOPLE that we love.

Monday, April 6, 2009

About my hubby


My hubby is really supportive about me making a blog.
He loves to read my post drafts on my laptop, and enjoys the content, along with the comments.

He once asked me to write about him. If you know him, you’d know how much he loves to have the spotlight on him ;)
The thing is, for now I can’t seem to find something, among the many things about him, to share in my blog.
So, right here I’ll list 5 things about him that I love the most, of course the ones I share here is JUST 5 (in random order) of the many splendour things that he’s been blessing me with over these years.

1. He puts his loved ones’ needs and importance above his own.

2. He appreciates even the smallest things I give him or do for him, even something as simple as putting a new towel by the bathroom for him to use (although I only did it because I happened to notice that the old one’s been too damp to use, and I can’t stand it!).

3. Unlike the many Asian traditionalists, he doesn’t demand that I do household work and whenever there’s a need, he wouldn’t mind sharing just as much or sometimes even more household work than me.

4. He loves to play with our son, and when he does, he goes ALL THE WAY, with screams and laughters, it’s like having a dozen of toddlers at home instead of just two, oops I mean one ;)
He knows LOADS of childhood rhymes and songs with hand-clapping and all, he never fails to catch Darren’s interest.
5. He cares about people, even ones that are not too close to him, more than most people do. He seeks to please people and many times would make big sacrifices for them.

So, dear Hubby, I hope you like this one special post, as much as I love writing it.
I dedicate this one to you. Love you much! ^__^