Showing posts with label love story. Show all posts
Showing posts with label love story. Show all posts

Monday, May 25, 2015

For the First Time

Saya lanjutin postingan lop setori ya.
Kalo mau baca kisah awalnya, silakan ke sini.

Jadi siapa orang yang waktu itu lagi saya doain?

Alkisah beberapa minggu itu ceritanya saya lagi ngecengin seseorang. Seperti saya bilang tadi, status jomblo ngenes bikin saya galau, jadinya begitu nemu bachelor yang eligible dikit langsung deh ngebet bin kebelet. Waktu itu juga ada temen yang ngomporin dan memfasilitasi dengan gencar, jadinya bikin saya makin gimana gitu.

Namanya co-ass tuh ya, stressnya banyak, jadi kalo ada bahan buat seru-seruan langsung disambut dengan gegap gempita. Tau sendiri dong, gebetan kan bikin hidup lebih berwarna, hahaayy... :D  Nah gebetan serius-serius-engga itulah yang lagi saya doain. Urusan pasangan hidup buat saya adalah masalah yang amat sangat penting, dan sejak ABG saya udah terbiasa untuk doain and cerita sama Tuhan segala rasa yang ada di dada (hoek...) sampe hal-hal yang paling sepele sekali pun. Jadi dibawa dalam doa tidak sama dengan jatuh cinta atau gimana gitu.

Setelah sepakat saling mendoakan, saya dan Ivan menjalani hari-hari seperti biasanya. Gak pake perjanjian didoain berapa lama, pokoknya sampe saya yakin aja bahwa emang dia beneran pasangan hidup yang Tuhan sediain buat saya. Bener-bener serius ya, kaya diajak kawin aja wkwkwk....

Beberapa minggu berjalan, saya ajak Ivan kenalan ama ortu saya.
Begini ceritanya:

***
(Note: Mr. Sut = Papa Lia; Mrs. Sut = Mama Lia)

“Rumahnya di mana?” tanya Mr. Sut.

Sang pemuda yang bernama Ivan itu berpikir keras dengan groginya. “Eee.... eee... di.... mana itu ya........ eee....... Lupa, Oom...” jawabnya sambil tersenyum putus asa, keringat bertetesan di pelipisnya.

Mrs. Sut tak bisa menyembunyikan senyum geli, dan berusaha memalingkan wajahnya. Lia Sut yang welas asih berhasil meredam tawa di balik hembusan nafasnya yang hanya sedikit terlalu keras. Beruntung tidak terlontar suara semburan yang tidak sopan.

Mr. Sut tak bergeming, menatap dingin sedikit bingung. “Lupa?! Ah...! Masa alamat sendiri bisa lupa?!”
Mr. Sut seolah tak menyadari tatapan berbingkai kacamata tebal di bawah alis matanya yang nyaris tak nampak itu cukup untuk meluluhlantakkan nyali seorang pemuda yang tengah berusaha merebut hati putrinya. Belum lagi kumisnya yang melintang rapi, yang disemirnya dengan rajin semenjak uban mulai bermunculan. Seulas senyum kecil di bibir tipisnya yang dimaksudkan untuk sedikit melenturkan suasana rupanya tidak banyak membantu.

Keringat di pelipis si pemuda menetes lagi. Dan lagi. Ini lebih menyeramkan daripada yang dia perkirakan sebelumnya. Syukur tadi dia sudah menyempatkan diri untuk buang air kecil sebelum datang kemari. Kalau tidak... bisa terkencing-kencing pula... Duh. Kukira dia cuma bercanda waktu memperingatkan bahwa papanya galak. Kalau saja Lia lebih menekankan keseriusan informasi itu, sesalnya dalam hati.

Dengan susah payah, Ivan mengumpulkan fokus dan memeras otak mengingat-ingat alamat rumahnya. Tak berhasil. Akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk tidak jaim. Lagipula melupakan alamatnya sendiri sudah merusak segala imej yang ingin dibangunnya. “Saya bener-bener lupa Oom... grogi...” katanya sambil tersenyum memelas.

“Memangnya baru pindah rumah? Udah berapa lama tinggal di sana?” tanya Mr. Sut yang selalu kritis dan logis, mencoba memahami sudut pandang pemuda itu.

“Udah lama kok Oom... Nggak baru pindahan. Saya nggak inget nama jalannya rumah saya. Saya inget jalan di sisi kanannya itu jalan A, sisi kirinya jalan B, sebelah sananya jalan C, tapi saya nggak inget rumah saya di jalan apa...." jawabnya.

“Ooo... Ya sudah,” timpal Mr. Sut datar, sambil mengalihkan pandangannya ke layar TV yang menyiarkan berita sore.

“Saya pamit dulu, Oom... Saya mau ajak Lia keluar sebentar, boleh Oom?” tanyanya sambil harap-harap cemas.

“Ya udah. Ati-ati,” jawab Mr. Sut memutuskan untuk sedikit basa-basi dan berbelas kasihan.

“Pergi dulu ya, Pah... Mah...”, Lia pamit kepada orangtuanya.

“Permisi, Tante...”, pamit si pemuda kepada Mrs. Sut, yang dijawab dengan, “Yuk...” serta bonus senyum manis lengkap dan anggukan kepala ramah, untuk membesarkan hati pemuda malang itu.
***

Itulah kisah pertama kali Ivan ketemu sama camer, wkwkwkwk... it was hillarious and memorable. Begitu keluar rumah menuju motor, saya dan Ivan ngakak segede-gedenya, dan surprise, Ivan mendadak inget alamat rumahnya huahahahh... saya tawarin balik lagi ke dalem rumah, tapi Ivan dengan ngeri menolak dan buru-buru make helmnya, ngajak saya cabut.

Itu juga pertama kalinya kami pergi berdua, nge-date gitu ceritanya, cieehh.... Kami naik motor menuju ke mall Istana Plaza, rencananya mau beli kado buat teman yang berulang tahun, lalu kami mau mampir ke rumahnya buat ngasih kado itu.

Dalam perjalanan pulang dari mall, tiba-tiba seorang petugas polisi lalu lintas meniup peluit dan meminta kami berhenti. Yap, kami ditilang! No kidding, pikir saya... Hasn’t there been enough drama for one night?

Rupanya motor butut cinta-nya Ivan gak nyala dong lampu depannya. *tepokjidat*  I didn’t know then what I know now, that this guy is magnet for all kinds of dramas. Gak ngerti kenapa dan bagaimana, tapi kapan pun dan di mana pun, di sekelilingnya kok banyaaakkk banget cerita-cerita yang bikin jidat berkerut bingung dan mulut melongo. Kok ada ya orang model begini... oh well... menerima apa adanya itu mahal harganya, jendral! Wkwkwk...

Dan ternyata oh ternyata... SIM-nya Ivan pun udah mati, begitu juga STNK-nya. Scratch the phrase “drama magnet”, change it into “drama king”. Ckckck... saya sampe geleng-geleng kepala. Ini adalah salah satu geleng-geleng kepala saya yang pertama berkaitan dengan urusan drama, dan jelas bukan yang terakhir, hihihi... makin ke sini perasaan malah makin kenceng geleng-gelengnya -.-‘  Kadang-kadang geleng-gelengnya dengan takjub dalam arti cukup negatif, tapi sebagian besar sih takjub netral, hahaha...

He’s just one of the funniest, silliest guys ever.  Dia orang yang (pada umumnya) gak bisa jaim. Sekalinya berusaha jaim, pasti keliatan banget, dan end up ngancurin imejnya sendiri, lebih parah daripada gak jaim sekalian :D But mostly dia orang yang apa adanya, cenderung rada gak tau malu. Kepo (banget) dan sering keceplosan. Hobi nonton reality show, quiz, sampe infotainment wkwkwkw...  In these long 13 years, he has evolved into a wonderful, faithful, committed, loving husband and father that our son and I cherish and are so proud of. He loves us and takes care of us unconditionally, sacrificially. And I have been loving him more and more ever since. :)

Segini dulu ya, pemirsa... Kapan-kapan disambung lagi, kalo yang baca masih berminat ;)

Monday, May 18, 2015

When I Fall in Love

Semasa muda banget dulu (sekarang muda sedikit :P), saya termasuk orang yang rada dodol di urusan relationship. Sampe umur 20an, saya masih single binti jomblo. Bukan jojoba (jomblo jomblo bahagia), apalagi high quality jomblo, saya lebih cenderung ke arah jomblo ngenes. Jangan salah, yang naksir sih banyak banget ada lah, tapi gak pada sampe menyatakan cinta tuh.

Sobat saya sampe pernah nuduh, saya ini kelewat suka public figure (misalnya Tom Cruise, sebelom dia aneh2), sampe masang kriteria yang imposibel buat cowo di dunia nyata :O Tapi tentu aja tuduhan itu tidak benar.

Kriteria saya padahal sederhana aja loh: (1) cinta Tuhan dan (2) diterima sama ortu. Plus beberapa kriteria standar lain yang masih bisa dikompromiin, seperti tidak merokok, enak diajak diskusi, bisa ngejagain saya, suka baca dan nonton, dan kalo bisa sih sama-sama dokter supaya nyambung kalo diskusi.

Saya mulai kuliah tahun 1996. Sampe lewat masa kuliah sepanjang 8 semester, saya masih aja jomblo. Doa sampe nungging udah dilakukan. Memperluas pergaulan udah, sampe desperate minta dikenalin sama an eligible bachelor, ampuuunnn malunya kalo inget itu sekarang... @.@ Jangan ditiru ya, pemirsa cewe!

Alkisah tersebutlah seorang pemuda bernama Ivan –tsaaahh...–

Pertama kali ketemu Ivan pas saya masuk kuliah dan mulai OSPEK. Dia senior 1 tahun di atas saya. Pertemuan itu buat dia sih gak berkesan apa-apa, tapi buat saya berkesan sekali. Bukan apa-apa, waktu itu kan semua mahasiswa baru disuruh ngumpulin sekian ratus tanda tangan senior, nah Ivan adalah salah satu senior yang sok-sok ngancem ntar bakal ngetes apa saya inget namanya, dan kalo pas dites saya lupa, tanda tangannya bakal dia coret. Sebagai mahasiswi nan polos dan lugu saya kena dikerjain, buru-buru saya hafalin nama dan mukanya. Yang minta dihafalin namanya bukan cuma Ivan, tapi juga beberapa orang senior lain. Jadinya saya suka pengangguran ulang-ulangin nama and muka-muka mereka, takut dites, wkwkwk..... *bener2 terlalu lugunya*
Dan tentu aja yang bersangkutan sama sekali gak inget pernah nyuruh gitu >:(

Sekian lama kuliah, kami gak bisa dibilang berteman, kenal dari jauh doang.
Zaman kami kuliah dulu, kami dibagi dalam beberapa kelas. Saya dan Ivan jarang banget sekelas, baik kuliah teori maupun praktikum.

Tahun 2000, kami bareng-bareng wisuda S1, bergelar Sarjana Kedokteran, lalu melanjutkan co-ass di rumah sakit pendidikan. Nah program co-ass ini terbagi dalam 2 rangkaian, yaitu K1 dan K2.
K1 terdiri dari stase atau rotasi di bagian yang non-tindakan (non-operatif) seperti Anak, Penyakit Dalam, Saraf, Kulit dan Kelamin, Jiwa (di rumah sakit jiwa), Radiologi.
K2 terdiri dari stase yang full tindakan, seperti Bedah, Ob-gyn, Mata, THT, Gigi dan Mulut, Forensik.
Selama menjalani stase, kami dibagi dalam kelompok-kelompok, terdiri dari 6 orang. Stase di bagian mayor (Anak, Penyakit Dalam, Ob-gyn dan Bedah) dijalani dalam 12 minggu, dan stase minor dalam 4-6 minggu.

-BTW ini mau bahas kisah cinta apa kurikulum sekolah kedokteran ya-

Semasa co-ass di K1, lagi-lagi kami gak pernah stase di 1 bagian yang sama.
Pertengahan tahun 2002, barulah kami stase bareng di bagian bedah. Waktu itu kelompok saya udah minggu ke-8 (dari 12 minggu), sedangkan kelompoknya Ivan baru masuk.

Beberapa hari sebelum masuk stase bedah, malem-malem Ivan datang ke RS, mau ngambil buku2 dan diktat2 lungsuran dari temennya yang baru selesai stase bedah. Waktu itu saya lagi jaga malam di IGD, sekitar jam 7 malem mata saya yang pake softlens iritasi, tapi kacamata dan perlengkapan lain saya simpan di ruko. Ruko adalah RUang KO-ass, letaknya di bagian belakang RS. Jarak dari IGD-ruko bedah lumayan rada jauh juga, kaki saya udah pegel akibat beraktivitas nyaris sejak subuh. Malam masih panjang jadi saya hemat tenaga, apalagi saya kalo jaga malem bawaannya suka didatengin kasus-kasus seru. Kalo biasanya jarang ada kasus bedah kepala, saya pernah dalam semalem dapet 2 kasus bedah kepala, belum termasuk kasus lainnya.

Anyway, karena ruko dikunci dan kuncinya dipegang sama ko-ass jaga (yaitu saya), datanglah Ivan ke IGD. Pas tau dia mau ke ruko dan dia bawa motor, saya seneng dong, lumayan ada tebengan. Nyampe di ruko, ternyata barang yang Ivan cari gak ada. Saya saranin dia telpon ke temennya, tapi tanpa dengan malu2 Ivan bilang pulsanya abis -.-‘

Jadi mau minjem HP en pake pulsa gue, gitu? – karena saya cewe jomblo yang berbudi luhur, saya ngomong gini dalem hati doang.
Lagi pula emang ngenes karena dulu saya ada HP tapi jarang dipake. Jarang nelpon maupun ditelpon, jarang nerima maupun ngirim sms. Telpon ke HP kan dulu masih mahal ya, jadi buat ngobrol biasanya pake telpon rumah. Pulsa HP sampe bertumpuk-tumpuk karena zaman dulu kan kudu isi pulsa sebelom tenggat waktu tertentu, supaya tetep aktif.

So, dengan manisnya saya kasih pinjem deh HP saya. Kelar itu, sekalian Ivan menuju gerbang keluar RS, saya nebeng lagi sampe IGD.

Sepertinya saat itulah Tuhan teringat kepada kami *garing* :P
Atau mungkin saat itu planet-planet berjajar segaris atau ada asteroid tabrakan di luar angkasa *lebih garing!* Wkwkwk...

Ivan bilang sih gak begitu inget malem itu, tapi herannya saya inget meskipun daya ingat saya terbilang jelek. Mungkin karena pulsa HP yang kemakan lumayan banyak ya, huahahahah...
Yang jelas our paths suddenly crossed on that fateful night and have gradually merged into one ever since :)

Hari Senin berikutnya, Ivan mulai stase bedah bareng saya.
Di tempat kami, stase bedah adalah stase yang dianggap paling berat di antara semua stase yang lain. Paling berkesan pokoknya, bittersweet banget. Co-ass bedah biasanya kulitnya bertambah putih, muka tirus dan langsing, soalnya jarang ketemu matahari dan supersibuk. Berangkat ke RS sebelom matahari terbit, pulang jauhhh setelah matahari terbenam. Jam 6.30 seluruh co-ass bedah udah berbaris rapi untuk diabsen via telpon oleh kepala bagian Bedah, the famous dr OH, SpB.

Jam 6.30 gak terlalu pagi dong ya? Tapi kami masing-masing punya “buku ijo”, yaitu buku tugas segede majalah, yang saban hari kudu ditulisin rata-rata 8-10 lembar kalo lagi beruntung, kalo lagi sial ya dikalikan 2. Buku ijo ini juga dikumpulkan jam 6.30 teng. Padahal beberapa halaman dari tugas ini biasanya baru didapetin tengah malem atau subuh, yaitu kalo co-ass jaga gak bisa jawab atau dapet tambahan tugas. So, semua orang kudu dateng pagi2 banget buat ngelengkapin buku ijonya masing-masing dengan tugas terbaru.

Selain buku ijo juga ada buku lain seperti buku laporan operasi, dan tugas2 lain, bahkan tugas menggambar prosedur bedah atau alat tertentu. So, mornings for us were VERY hectic and stressful. Ruko dipenuhi teriakan garang, buku dan barang berhamburan di mana-mana, co-ass panik nyari bukunya yang keselip, ada yang sibuk ngingetin sekian menit lagi sampe waktunya absen, dll. Rempongnya nyaingin rumah ibu muda beranak kembar 7.
Itu baru hari biasa. Di hari visite besar, yaitu hari Selasa, kondisinya lebih gawat lagi, kayak film2 thriller! *yang ini bukan lebay*

FYI, di bagian bedah berlaku hukum ALL OR NONE. Jadi kalo 1 orang dapet tugas atau gak bisa jawab, maka SELURUH co-ass bedah, kudu ngumpulin tugas yang sama. Kesalahan 1 orang ditanggung bersama.
Selain itu, seluruh tugas yang dikumpulin juga kudu SAMA PERSIS, sampe ke titik koma-nya. Jadi semua tugas biasanya disortir dan dikerjakan dulu oleh satu tim kecil yang bikin 1 master jawaban, kemudian disalin sama seluruh co-ass lain.

Selama stase bareng, tentunya setiap hari kami ketemu. Kadang-kadang kami bertugas di bangsal yang sama, atau dapet jadual jaga malem yang sama.
Lama-lama, walopun lagi tugas di bangsal yang beda, saya selalu ketemu dia. Sampe suatu ketika, saya mulai ngerjain tugas akhir bagian bedah, saya jadi sibuk bolak-balik ke perpustakaan. Saya heran kenapa Ivan juga sering nongol di perpustakaan, padahal co-ass minggu awal biasanya gak sempet ke perpustakaan.

Karena polos, saya sama sekali gak kerasa bahwa dia ngasih perhatian lebih. Dan karena saya judes dan gak luwes, pas nyadar dia selalu ada, bukannya peka dan mikir saya malah nanya tanpa tedeng aling-aling, “Perasaan loe ada di mana-mana deh, mahahadir gitu. Jangan-jangan elo membuntuti gue ya?”

Saya nanya gitu dengan cueknya sambil cengengesan, soalnya saya beneran 100% bercanda. Ivan yang terpana denger pernyataan saya, tapi dia ngeles, bilang saya aja yang kegeeran. Ya udah deh, lewat. Saya sama sekali gak merhatiin lagi bahwa dia emang sering ada di tempat di mana saya berada.

Setelah 2 minggu, suatu sore selesai jam kerja di bagian bedah, saya lagi beres-beres di ruko, siap-siap nulis tugas hari itu, terus pengennya sih pulang cepet. Ivan lagi-lagi ngikutin saya, sampe ikut mondar-mandir di ruko.

“Loe ngapain mondar-mandir, ngikutin gue lagi ya..,.” sindir saya dengan teganya.

“Ih enggak kok,” Ivan jawab. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”

Saya rada tercenung, saya pikir wah ada masalah apa lagi nih para co-ass bedah. “Ya udah, ngomong aja atuh.”

“Gak bisa di sini.”

“Jadi mau di mana?”

“Ya di mana aja,” Ivan mulai rada gugup.

“Lah, aneh amat... masa di mana aja tapi bukan di sini? Tentang apa sih? Ada masalah ya?”

“Iya,” katanya misterius.

“Masalah apaan?”


“Yaa... gak bisa diomongin di sini lah....” katanya sambil senyam-senyum ga jelas, bikin saya penasaran, lumayan sedikit ngebales pedesnya sindiran saya tadi wkwkwk....

Ugh kurang asem nih anak, pikir saya. Jangan2 cuma mau ngerjain gue deh... “Alah masalah masalah apa sih... Loe bohong ya, mau ngerjain gue ya?”

“Idih, engga kok, beneran!” katanya.

“Napa, loe grogi gitu, jangan-jangan loe suka ya sama gue?! Hahahah...” ledek saya sambil ketawa sadis.

Ivan langsung merah mukanya, tergagap dan salting. Kalo aja di sana ada orang yang cukup peka yang ikut ngeliat adegan itu, mungkin kepala saya udah ditoyor saking dodolnya.

Abis saya bilang gitu Ivan dieeeeemmmmm seribu bahasa, gak sanggup ngomong lagi.
Walah, saya jadi guilty feeling. Saya pikir, beneran ada masalah deh ini kayanya. Hati saya mulai mencelos, siap2 denger problem akademis co-ass bedah.

“Yuk, sambil jalan aja,” ajak saya sambil bawa barang buat ditaruh ke mobil.

Di parkiran, saya buka pintu belakang mobil Suzuki Escudo biru tahun 1999 (info gak penting banget :P Biarin atuhlah, suka-suka saya hihihi...). Di bagian dalam kacanya bergoyang-goyang gantungan imut Snoopy dan burung kuning kesayangannya, Woodstock. Setelah naruh barang, saya bersiap dengerin curhatan. “Mau ngomong apa?” tanya saya lembut dan penuh pengertian. :)

“Aku... SUKA SAMA KAMU.” Katanya sambil menatap saya lurus-lurus dan tersenyum gugup.

HAAAHH....?!?!!
*geledek di siang bolong pun kalah ngagetin dah*

Ini kalo di komik-komik Jepang/Korea nan lebay, udah digambarkan dengan tampang begini:



(Gambar diambil dari http://imgbuddy.com/anime-shocked-expressions.asp)

Kalo di film India, udah pake musik dramatis, layar TV menyorot close up muka saya dan muka Ivan bergantian, berulang-ulang dan berlebihan.

But karena itu kenyataan, dan saya punya refleks yang cukup baik, setelah beberapa detik melongo kaget, saya berhasil bernapas lagi, dan menjawab, “Makasih...”

Sambil dalam hati mikir, matek gue... Ini beneran ya... Mana tadi udah gue ledekin kayak gitu... *tepokjidat* 
Aduh Mama sayangeee...ampuni kelakuan anak gadismu...

Lagian mana ada orang ditembak bilang terima kasih? >_<

“Jadi?” Ivan nanya setelah beberapa saat yang sangat canggung berlalu.

??? “Jadi apa?” tanya saya bingung.

“Jadi jawaban kamu apa?”

“Oh... Sebenernya gue lagi doain orang lain... “ kata saya (terlalu) jujur.
“Gue doain elo dulu ya...”

“Oh... Aku sih udiah doain kamu. Ya udah sekarang kita sama-sama doain ya. Kita liat nanti Tuhan bilang apa.”

Hari itu saya nyetir pulang dengan perasaan gak keruan, soalnya itu pertama kalinya ada cowo yang “nembak” (kasiaaan deh gue wkwkkwwk).
Dan cuma sekali itu doang, sampe sekarang belom ada lagi cowo laen yang berani nembak (tentunya :P).

To be continued di next post ya... udah kepanjangan...

Baca lanjutannya di sini: http://nataliasetiadi.blogspot.com/2015/05/for-first-time.html