Showing posts with label ADHD. Show all posts
Showing posts with label ADHD. Show all posts

Wednesday, January 20, 2016

Diagnosis dan Apa yang Harus Dilakukan? Part 2

Sekarang saya mau share tentang terapi (dikit) dan diet buat para ortu yang anaknya baru didiagnosis sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) (misalnya ASD – Autism Spectrum Disorder, AD(H)D – Attention Deficit (Hyperactivity) Disorder, SPD – Sensory Processing Disorder, Asperger Syndrome (sejenis autisme yang high functioning), dan sejenisnya.

Ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya yang terbatas, saya bikin sesimpel mungkin buat membantu para ortu yang baru saja memulai perjuangan membesarkan ABKnya. Untuk keterangan yang lebih mendetail silakan baca2, browsing, atau konsultasi dengan terapis masing-masing ya.


TERAPI

1. Terapi Okupasi (Occupational Therapy / OT)
Termasuk di dalamnya: Sensori Integrasi (SI)

2. Terapi Wicara (Speech Therapy)

3. Terapi ABA (Applied Behavioral Analysis)

4. Terapi Perilaku (Behavioral Therapy), misalnya CBT (Cognitive Behavioral Therapy)

5. Ada juga terapi-terapi lain yang lebih khusus, tergantung aliran yang dianut psikolog/dokter konsultan masing-masing.
Di antaranya: Floortime (ini dianut psikolog anak saya), metoda Glenn Doman (yang ini udah ada patennya sendiri, dan bersifat umum bukan cuma buat ASD, tapi juga buat anak-anak dengan brain injury lain seperti cerebral palsy, Down Syndrome, dll), juga terapi-terapi tambahan kaya Dolphin Therapy, yoga, dan lain-lain.

6. BIT (Biomedic Intervention Therapy) – ini lebih ke arah diet daripada terapi fisik
Yaitu pendekatan terapi dengan pengaturan pola makan (diet eliminasi dan rotasi), pemberian suplemen vitamin, mineral dan enzim yang membantu pencernaan.

Buat masing-masing terapi ini saya gak jelasin lebih lanjut ya, browsing aja.

Basically kalo buat ASD sih terapi utamanya ABA, SI dan Speech Therapy (karena anak2 dengan ASD kebanyakan mengalami gangguan komunikasi).
Kalo buat anak-anak yang hiperaktif atau gangguan koordinasi, umumnya diberi program Terapi Okupasi (SI) dan Terapi Perilaku.
Ada baiknya juga konsultasi BIT dilakukan sejak awal, supaya bisa segera mulai dengan diet yang bener.


DIET

1. Gluten Free (GF)
Pantang makan makanan yang mengandung gluten (protein dari terigu, gandum, oat, semolina/pasta).
Pada ABK, banyak terdapat gangguan metabolisme di mana badan mereka gak bisa mencerna gluten dengan baik. Pada orang biasa pun gluten sudah diakui kurang bagus buat pencernaan, jadi sebisa mungkin sebaiknya dihindari. Pada ABK khususnya ASD gluten tidak tercerna dengan baik, sehingga membentuk zat yang disebut gluteomorfin. Gluteomorfin ini efeknya seperti morfin, memunculkan banyak perilaku aneh pada anak ASD, seperti ketawa-ketawa gak jelas, mengepak-ngepakkan tangan, dan sebagainya.

2. Dairy Free (DF) – ada juga yang menyebut Casein Free (CF)
Pantang susu dan turunannya, seperti keju, krim, yogurt. Efeknya di badan ABK mirip sama gluten. Pencernaan para ABK juga orang biasa yang kayak gini sering disebut “Leaky Gut Syndrome” atau usus “bocor”. Silakan google buat keterangan lengkapnya ya.

3. Sugar Free (SF)
Pantang gula pasir.
Kalo dietnya superketat, gula merah, gula palem (gula semut), maple syrup, molasses, madu, nectar (nektar dari bunga atau pohon palem) juga ikutan dipantang.
Kalo dietnya superduper ketat bin edun, pemanis modern kayak stevia (pemanis alami dari daun stevia) atau “No Sugar” (saya lupa isinya apa) juga ikut dipantangin.
Gula jagung (ada tuh merk yang terkenal banget, mengklaim sebagai pemanis sehat? BOHONG sodara2!), sama aja ga sehatnya.
Pemanis buatan seperti aspartame, sakarin sih jangan dibahas ya, itu bukan pemanis sodara2, tapi RACUN.
Hindari juga permen yang mengandung zat-zat ini ya. Pesan saya buat ortu yang anak2nya “normal” atau ibu2 hamil, hati2 dengan permen karena BUANYAK banget (hampir semuanya malah) yang mengandung zat racun. Banyak permen yang mencantumkan peringatan di kemasannya, menyatakan bahayanya buat anak balita atau ibu hamil, tapi tulisannya sekecil kuman, nyaris gak kebaca (mungkin cuma kebaca ama segelintir emak2 freak macem saya yang suka melototin kandungan produk2 sampe jereng wkwkwkw...). Kalo lagi iseng cobain deh baca kemasan permen, you’ll be surprised and freak out too!

Nah 3 pantangan di atas ini biasanya digabung dan disebut diet GFDFSF, jadi pantangan utama buat ABK, khususnya ASD.

Pantangan lainnya:

4. Pewarna, pengawet, dan penyedap
Pewarna itu meliputi SEMUA makanan/minuman/obat yang berwarna. Simpel. Tapi mengejutkan wkwkwk... karena ternyata cokelat pun kebanyakan diberi pewarna loh, campuran warna merah, biru dan kuning. Jadi bukan dari bubuk cokelat doang. Es krim vanila yang warnanya “putih” itu banyak diberi pewarna kuning, dalam jumlah kecil. Permen, segala sesuatu yang “rasa stroberi” (termasuk susu), minuman2 yang tidak bening, saus botolan, margarin/mentega, sampe syrup obat-obatan atau tablet vitamin C dan tablet/kapsul/kaplet obat warna warni lainnya SEMUA-MUANYA pake pewarna.
Pengawet ada di semua processed food seperti makanan/minuman kemasan (kaleng maupun kotak), sosis dan sejenisnya, saus2 botolan, biskuit2 dan sebagian besar makanan yang ada di lorong cemilan di supermarket mengandung pengawet. Juga sebagian besar roti atau kue basah komersil.
Penyedap yaitu MSG, dan kaldu2 komersil, semua keripik komersil, dan kawan-kawannya (udah cukup jelas lah ya).

5. Makanan yang mengandung fenol/salisilat.
Baca di http://www.tacanow.org/family-resources/phenols-salicylates-additives/ buat penjelasannya. Artikel ini jelas banget dan enak dibaca, tapi in English ya.
Kalo itu masih kurang, ini ada satu lagi: https://healingautismandadhd.wordpress.com/diet-2/phenolssalicylates/

Banyak ABK yang badannya gak bisa mencerna makanan yang banyak mengandung fenol dan salisilat, seperti: tomat, apel, kacang tanah, pisang, jeruk, coklat (kakao), anggur merah/hitam.
Obat yang mengandung salisilat seperti parasetamol juga perlu dihindari.
Tapi, good news nya, ada enzim yang bisa membantu mencerna fenol dan salisilat.

Nah diet dari 1-5 ini sering disebut juga diet Feingold. Diambil dari nama Benjamin Feingold, seorang dokter yang di tahun 1960an udah nemu banyak anak dengan gejala autisme. Trus dr. Feingold nemu juga kaitan antara makanan tertentu dengan perilaku hiperaktif pada anak-anak. Maka dia mencetuskanlah diet Feingold ini, yang udah terbukti membantu banyak banget anak ASD dan juga ADHD.

6. Alergen khusus yang anak kita alergi, misalnya telur, atau kacang.
Ini mah udah jelas lah kudu dihindarin ya. Kesadaran masing-masing aja :)
Ada juga orang yang menganggap remeh alergi, kalo efeknya ringan, misalnya cuman bikin sedikit kembung atau sedikit gatel2. Yah terserah masing-masing aja sih mau dihindarin apa enggak.

7. Buah-buahan yang mengandung kadar gula tinggi kadang-kadang juga memunculkan perilaku aneh pada anak ASD, seperti buah duku, kelengkeng, mangga.

8. Pantang kedelai dan turunannya (tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, dll).
Kedelai ini masih kontroversial, ada yang ngotot bagus, ada yang ngotot gak bagus.
Yang saya tau, bayi kurang dari 6 bulan sebaiknya jangan diberi susu soya, karena badannya belum bisa mencerna susu soya.
Kalo anak saya sih masih mengonsumsi kedelai (tempe, tahu) dalam jumlah terbatas

Selain pantangan2 ini, idealnya makanan dan minuman yang boleh dikonsumsi pun perlu di-ROTASI, artinya dikonsumsi maksimal sekali dalam 5 hari. Jadi kalo hari Senin makan sayur A misalnya, maka sayur A baru boleh dimakan lagi hari Sabtu.

Udah puyeng belum, ibu2 / bapak2?
Buat yang baru pertama belajar soal diet, PASTI puyeng, jangan berkecil hati ya. Kalo gak puyeng artinya udah berenti baca dan kabur kali heheheh....

Tenang.... tarik napas dulu, trus lanjut baca ya... ^___^
Walopun jalan tampak terjal, kita banyak temennya kok, yuk sama-sama mendaki, “pelan pelaaann sajaaaa....” (bayangkan saya nyanyi niru mbak Tantri Kotak)

Sebelum saya kasih contoh menu diet, saya mau ingetin satu hal dulu.
Untuk memulai diet, penting banget agar kita bersikap REALISTIS.

Daripada kewalahan sendiri pengen lakuin semua yang ideal, trus ujung2nya frustrasi sendiri, yuk kita pilih dengan realistis dan rasional, mana yang bisa langsung dikerjakan, mana yang dicatet dulu buat jadi PR, dan nanti diterapkan sambil jalan, kalo situasi udah memungkinkan.
Perjalanan membesarkan ABK itu bukan lari SPRINT, tapi MARATHON.
Jadi penting buat siapin stamina supaya tahan sampe garis finis (yang masih jauh entah di mana itu), jangan digas pol di awal tapi sebentar aja udah melempem.

Pengalaman pribadi udah konsultasi kesana kemari dan ketemu berbagai macam ahli, gabung di grup dan ketemu berbagai macam emak2, sejujurnya saya justru suka frustrasi setelah konsultasi atau ketemu emak2 yang “inspirasional” :)
Rasa tidak mampu dan inadequate langsung membanjir.
Saya kagum sekaligus lelah liat para bunda hebat di luar sana, yang perjuangannya wow. Sedangkan saya kok masih berkutat di hal-hal yang tampaknya remeh.
Mereka berjuang terapi dan diet dengan ketekunan, semangat dan tekad membara dalam dada, bak pelari maraton olimpiade, sedangkan saya kok cuman ngesot di tempat doang (udah ngesot, di tempat pula wkwkwk... boro-boro maraton).

Pernah juga saya disindir soal diet di grup, sengatnya aduhai pedih sekali, sampe 2 hari kemudian baru saya bisa menitikkan airmata. 2 hari sebelumnya saya cuma bengong bengong bingung, kenapa dari orang yang senasib sepenanggungan justru keluar judgement yang lebih dahsyat daripada judgement dari orang-orang yang tidak mengalami apa yang saya alami.

Makanya saya bilang, setiap grup punya filosofinya masing2.
Grup dengan aliran diet ketat cenderung bersikap tegas (bahkan ekstrim) soal diet. Grup dengan aliran terapi cenderung mencela mereka yang menggunakan obat-obatan. Makanya penting supaya kita saling menghargai, gak usah menghakimi, karena apa yang baik dan cocok buat orang lain belum tentu cocok buat kita.

So, it’s all normal kalo abis konsultasi/evaluasi atau sharing atau dapet pengetahuan baru trus kita ngerasa frustrasi. Tarik napas panjang, tenangkan pikiran, kuatkan hati, dan lanjutkan perjuangan. Jadikan kritik sebagai cambuk buat kita maju, bukan jadi akar pahit.

Ini saya buatkan contoh diet yang mudah2an cukup ideal lah buat anak ASD. Diet ini meliputi GFDFSF, tanpa telur (karena banyak yang alergi telur juga), tanpa seafood (karena kandungan merkuri yang tinggi), rendah fenol/salisilat, dengan rotasi, termasuk rotasi karbohidrat (nasi ikutan dirotasi).

Ini cuma contoh aja ya, supaya yang masih gelap bener jadi rada terang dikit...
Untuk memudahkan, menu ini dibuat per satu minggu, jadi berulang terus setiap minggunya. Kalo mampu silakan bikin menu rotasi per 5 hari, variasinya lebih banyak, tapi lebih ribet.

Kalo ada kesalahan silakan hubungi saya, I’m open for correction.
Saya sendiri gak terlalu pengalaman soal diet/menu karena anak saya gak perlu diet seketat ini.

Tambahkan atau kurangi jenis makanan sesuai dengan kebutuhan anak Anda ya, yaitu dengan cara eliminasi (pantang makanan yang dicurigai menimbulkan reaksi negatif selama beberapa waktu, sampe reaksi itu hilang. Kemudian coba berikan lagi, untuk melihat reaksinya. Kalau muncul lagi reaksi negatif yang sama, berarti makanan tersebut harus dipantang. Penerapannya jauh lebih susyeh daripada penjelasan ini hehehe)

Tabelnya gak berhasil saya aplot, jadi screenshot aja ya hueheheh...



Yah ini menu yang cukup “edun” ya.
Tapi saya pernah liat contoh menu yang lebih edun lagi, sampe minyak gorengnya pun dirotasi :O *beneran kagum*

Sekali lagi, jangan dibawa frustrasi ya.
Gak semua kok harus diet kayak begini, dan gak selamanya.

Ada yang diet ketat selama 2 tahun, terus dalam perkembangannya semua OK dan gak perlu diet lagi. Ada yang diet superketat selama 2 tahun tapi gak ada perbaikan, akhirnya stop diet, dan lambat laun membaik juga dengan terapi dan bertambahnya umur si anak.

Kebanyakan anak setelah besar bisa ngenalin sendiri makanan2 apa yang harus dia hindari. Anak saya udah sampe di tahap ini, dia mulai bisa ngenalin badannya terasa “gak enak” setelah dia makan makanan tertentu.

Sebenernya saya sendiri bingung dengan menu di atas, anaknya apa mau ya makan sesuai menu kayak gini... Tapi buat ABK yang memang dietnya harus benar2 ketat, tekad ortu memang kudu sangat sangat kuat, sampe2 harus rela liat anak kelaparan berhari-hari sampe akhirnya mau juga makan apa yang disediain, saking udah lapernya. Semakin dini diet ini diterapkan, semakin tinggi tingkat keberhasilannya, karena anak belum kenal makanan2 yang gak sehat.

Semakin ketat diet, tentunya nutrisi buat badan anak juga semakin kurang ya. Makanya untuk mengantisipasi kurang gizi, dibarengi dengan asupan suplemen. Kalo aliran dr. Feingold sih setelah anak mencapai kemajuan tertentu, sedikit demi sedikit makanan-makanan yang dipantang mulai diberikan lagi, tentu dengan hati-hati ya (mulai dengan yang paling “aman” jangan langsung jublek kasih segambreng roti keju), supaya jangan malah mundur kondisinya.

Banyak konsultan yang gak ikut aliran diet, karena si anak bisa kurang gizi. Yang beraliran diet berpendapat bahwa kalo anak ini gak bisa mencerna makanan tertentu, dimakan juga percuma, malah jadi racun buat badannya.

Mana yang bener?

Dua-duanya bener, tergantung anaknya. Lagi-lagi dibutuhkan hikmat kita sebagai ortu, untuk pilih pendekatan yang mana yang cocok dan bawa kemajuan buat kondisi anak kita masing-masing. Trial and error. Coba satu metoda, evaluasi hasilnya. Kalo hasilnya gak seperti yang diharapkan, gak usah disesali, dan move on ke metoda yang lain.

Trial and error memang makan waktu, terkadang sampe ngabisin golden period. Kalo dah gitu, kita orangtua dirundung rasa bersalah kenapa dulu gak gini, seandainya aja dulu begini, begitu.

Pengalaman pribadi lagi ya.

Seudah 5 taun lebih berjuang, baru-baru ini saya gabung di grup, dan baru ngerti pentingnya diet ketat. Kebetulan anak saya tipe yang banyak alergi dan butuh diet.
Selama ini udah diet, kurang lebih dietnya mirip-mirip diet Feingold lah. Tapi dengan pengetahuan baru yang didapat, rundingan dengan suami, dan banyak pertimbangan, kami sepakat buat memperbaiki diet yang udah berjalan.

Awalnya saya agak menyesali sih, kok baru tau grupnya sekarang, pas anak saya udah umur 8 th.
Tapi terus saya juga disadarkan Tuhan, bahwa He makes NO MISTAKES.

Sekian lama saya berdoa minta komunitas, masa iya Tuhan gak dengar? Tentu Dia dengar. Kenapa Tuhan gak kasih saya masuk grup dari dulu? Only He knows :)

Waktu-Nya selalu TEPAT, gak pernah kecepetan, gak pernah telat. So THIS IS the perfect time. Mungkin kalo dari dulu saya terapin diet ketat, entah apa yang terjadi. Saya bisa bayangkan banyak hal baik dan ga kalah banyak hal buruk yang mungkin terjadi. Yang penting, sekarang ini Dia tunjukin jalan ke sini, maka saya ngikut.
Kenapa sekarang bukannya dari dulu, dan kenapa ke sini bukannya ke sana, biarlah itu jadi bagiannya Tuhan.
Bagiannya saya percaya aja, dan nurut sama pimpinan Tuhan.
Because this battle is His, not our own.
Satu hal lagi saya ingin ingatkan, Tuhan bilang dalam Mazmur 127:3,

“Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah.”

Anak-anak kita tentu sangat kita kasihi dan sangat berharga, tapi jangan jadikan mereka sebagai mamon atau berhala kita. Tuhan udah titipkan mereka kepada kita, tentu kita harus bertanggung jawab. Tapi jangan sampai perjuangan membesarkan ABK (dan anak2 lain) menyita seluruh tenaga, pikiran, dan prioritas kita, sampe Tuhan, suami, anak-anak lain terabaikan.
I hope this long post helps, ngasih pencerahan dan bukan perunyaman wkwkwkw....

Tetap semangat ya, ibu2/bapak2!
God will walk us through, TRUST Him!

NB. Silakan kirim email atau post comment kalo ada pertanyaan atau koreksi yang membangun (harap maklum, saya suka susah balesin comment, terkendala koneksi internet yang terbatas).
Tapi maaf ya, saya tidak akan melayani debat kusir perbedaan pendapat, dah mau lahiran nek, gak sempet ngurus yang begituan ;)

Monday, January 11, 2016

Diagnosis dan Apa yang harus Dilakukan?


Hellow pemirsah...

Kali ini mau ngomongin tentang diagnosis ya, dan harus gimana kalo anak kita didiagnosis berkebutuhan khusus.

Waktu pertama kali anak saya didiagnosis ADHD, duh perasaan campur aduk antara bingung, gak percaya, cemas, gak berdaya, juga lega karena akhirnya ada jawaban untuk beberapa isu yang sekian lama bikin saya dan suami bertanya-tanya.

But, next comes this big question:

NOW WHAT?
Sekarang, apa yang harus dilakukan?

Buat para ortu yang tinggal di kota besar dengan fasilitas memadai sih lumayan enak ya, ada banyak pilihan penanganan dan banyak ahli. Buat yang tinggal di pelosok itu yang susah. Tapi baik tinggal di kota maupun di pelosok, sama aja sih bingungnya, bingung badaaaiiii... plus perasaan yang masih campur aduk labil. Terkadang kita cuma bisa memandangi anak dengan pandangan kosong dan perasaan galau sampe lamaaa...
Yeah, I feel you, Mommies, I’ve been there....
Makanya saya pengen bantu para ortu yang ngalamin apa yang saya alamin dulu, biar gak kebingungan amat.

Diagnosis ini bisa berupa apa aja, dari mulai spektrum autis (termasuk di dalamnya PDD NOS, Asperger, Autism Spectrum Disorder), SPD (Sensory Processing Disorder), AD(H)D (Attention Deficit (Hyperactivity) Disorder), Dyslexia, Learning Disorder, sampe diagnosis-diagnosis yang kurang jelas semacam “hypo-reactive” atau “hyper-reactive”, atau yang ringan-ringan aja, semacem Speech Delay (keterlambatan bicara), atau delay-delay yang lain (Developmental Delay, Coordination Disorder atau gangguan koordinasi), atau bahkan anak-anak yang kelewat pinter (Gifted misalnya), dan banyak lagi yang lain.
Semua isu ini berbeda-beda tantangannya dan tingkat kesulitan penanganannya, tapi pertanyaan awalnya sama aja:

“Jadi sekarang gimaaanaaaa???”

1.  CARI INFORMASI sebanyak-banyaknya. EDUCATE yourself about your child’s specific issue.
Pelajari sebanyak mungkin tentang kondisi anak Anda, dan kondisi2 lain yang mepet2 atau mirip2 sama kondisi anak Anda.

Nah cari informasi ini mula-mula bakal bikin kita tambah mabok bin puyeng. Makin bingung dan simpang siur di otak. Tapi emang harus begitu, kebanyakan info lebih baik daripada gak tau apa-apa. Ntar lama-lama pengetahuan ini bakal mengendap dan gak terlalu membingungkan lagi.

2. SEGERA jalankan program yang disarankan, misalnya TERAPI atau DIET.
Biasanya psikolog atau dokter atau terapis yang pertama mendiagnosis bakal ngasih saran juga apa2 yang harus dikerjakan sekarang.
Hati-hati ya, zaman sekarang namanya tempat terapi atau terapis udah tersebar di mana-mana, banyak banget yang abal-abal. Makanya kudu cari informasi sebanyak2nya. Tempat terapi yang ideal di ruangan-ruangan terapinya ada jendela di mana kita ortu bisa “ngintip” atau dipasang CCTV sehingga kita tau apa yang dilakukan di dalam. Ini buat keamanan anak kita juga ya, dari pelecehan atau sejenisnya (zaman sekarang, kita ortu emang kudu ekstra hati-hati).

Biasanya diagnosis semacam ASD, PDD NOS, atau ADHD dan sejenisnya ditegakkan oleh dokter spesialis (neuro-pediatri atau spesialis saraf anak, psikiater anak, atau dokter spesialis anak yang punya kecakapan khusus dalam hal tumbuh kembang atau anak berkebutuhan khusus (ABK), atau bisa juga ditegakkan oleh psikolog yang berpengalaman. Terapis yang baik bisa dengan mudah mengenali banyak ABK, dan bakal merujuk anak untuk dievaluasi oleh dokter atau psikolog, terutama buat diagnosis yang saya sebutkan tadi. Kalo diagnosis yang “ringan” semacam keterlambatan perkembangan motorik aja sih mungkin bisa langsung diterapi, tapi ada baiknya semua gangguan tumbuh kembang dievaluasi dulu seteliti mungkin, untuk memastikan itu bukan tanda adanya gangguan yang lebih serius, jangan sampe kecolongan.

Nah, terapi atau diet yang baru dimulai ini tentunya gak bisa langsung ideal.
Gak papa, mulai aja dulu sebisanya, sambil jalan, seiring dengan bertambahnya pengalaman dan pengetahuan kita, kita terapkan penanganan yang lebih terpadu.
Kita harus mulai segera, karena anak punya GOLDEN PERIODE, yaitu 3 tahun pertama kehidupan. Khususnya buat ASD, 3 taun pertama ini amat sangat penting buat mulai diet (sebelum anak kenal makanan-makanan enak :P) dan terapi (lebih gampang membentuk pola pikir, dan jaras-jaras motorik/sensorik seperti yang seharusnya). Daripada bengong galau gak melakukan apa-apa karena kebanyakan nyari info, lebih baik “do what you can and do it now”!

WARNING:
Jangan pernah bawa anak ke psikiater umum yang ngga ngerti tentang ABK atau tumbuh kembang anak. Saya udah banyak banget denger psikiater2 yang langsung ngasih obat (haloperidol!!) buat ABK tanpa menegakkan diagnosis dulu atau bahkan tanpa bener2 tau diagnosisnya apa. Sangat disayangkan banyak sekali SpKJ di Indonesia yang kurang berminat tentang gangguan tumbuh kembang anak. Jadi kalo mau konsultasi ke psikiater, pastikan dulu psikiater itu mendalami bidang yang pas dengan kebutuhan anak Anda. Saya mohon maaf kalo kata-kata saya kurang berkenan, tapi ini kenyataan. Saya gak anti SpKJ, malah saya pernah konsultasi ke seorang SpKJ dengan pendidikan subspesialis pediatric psychiatrist yang mendalami ADHD, sampai bergelar PhD. Supaya saya gak endorse di sini, yang butuh info ini boleh tanya lewat email ya.

3. Kalo ada keraguan, segera cari SECOND OPINION.
Misalnya gak sreg dengan diagnosis psikolog A, coba evaluasi ke dokter B, tentunya cari info dulu ya, ahli yang mana yang mumpuni untuk kasusnya anak Anda secara spesifik.
Dari tadi disuruh cari info, carinya di mana? Jawabannya di poin nomer 4.

Nah, dari 2x evaluasi, mungkin aja kita dapat diagnosis yang sama sekali berbeda. Kalo ada waktu dan duit lebih, silakan cari third opinion. Tapi menurut hemat saya, kita sebagai ortu lah yang paling ngerti kondisi anak kita, jadi sebenernya kita bisa mengira-ngira sendiri pendapat mana yang lebih tepat buat anak kita.

4. Cari KOMUNITAS.
Sesama ortu/pengantar anak di tempat terapi bisa jadi komunitas, terutama kalo tempat terapi itu udah punya semacam “klub” ortu. Mereka bisa jadi sumber informasi tentang banyak hal yang kita perlu tau. Tapi, pengalaman saya 5 taun mondar mandir ke tempat terapi, cuma nemu 1-2 orang buat teman ngobrol selama nunggu si D terapi, gak bener-bener dapet komunitas.
Saya cari komunitas, sampe pernah berniat BIKIN komunitas sendiri tapi terkendala gak ada anggotanya hahaha... (saking sedikitnya ortu ABK yang saya kenal dan bisa diajak sharing)
Akhirnya saya follow beberapa grup lokal dan internasional di FB, yah lumayan buat sekedar memperluas wawasan.

Baru beberapa minggu yang lalu saya nemu 1 komunitas di FB, diinvite temen yang juga baru aja saya kenal di FB (big thanks, mama Ethan ;)).
Dengan adanya komunitas yang jelas, pengetahuan langsung maju pesat sekali. Cari info juga gampang banget. Satu catatan penting, umumnya 1 grup komunitas punya filosofinya sendiri :) Maksudnya, dalam dunia ABK, ada bermacam2 aliran, baik itu aliran diagnosis, terapi, atau penanganan. Ada yang berpendapat hanya dokter yang berhak menegakkan diagnosis, ada yang berpendapat terapi tidak seefektif pemberian obat-obatan, ada yang berpendapat diet bisa menyembuhkan autis, ada juga yang berpendapat diet tidak berpengaruh apa-apa.

Nah bingung lagi ya...

Menurut pengalaman, pengamatan, dan pendapat saya pribadi, tiap ABK kasusnya berbeda-beda. Sebagian besar memang punya masalah alergi atau gangguan metabolisme sistem pencernaan (maka HARUS diet), tapi ada juga yang udah diet maksimal tanpa banyak kemajuan berarti, ternyata masalahnya ada di sistem neurotransmitter di otak/sistem saraf sehingga perlu diberikan obat, dan seterusnya.
Sebagian besar kasus memang rumit, semua faktor dari mulai genetik, alergi, toksin dari lingkungan, metabolisme dan gangguan perkembangan saraf saling tumpang tindih, makanya umumnya butuh penanganan yang holistik alias menyeluruh, yaitu dengan diet, terapi, dan kadang-kadang obat.

Secara garis besar sih umumnya langkah yang pertama tetap dengan diet dan terapi, lalu sambil jalan dievaluasi perkembangannya.

5.  Dukungan keluarga.
Umumnya sih suami-istri udah otomatis kerjasama ya. Tapi ada juga yang suami atau istri atau keluarga besarnya gak mendukung, bahkan gak percaya bahwa si anak “bermasalah”.
Menerima diagnosis ABK memang tidak mudah, tapi harus diusahakan sampe POL supaya suami-istri sepaham dulu. Kalo nggak sepaham gimana mau nolong anaknya?
Setelah suami-istri kompak, baru bisa sama-sama menghadapi keluarga besar yang skeptis.
Kalo keluarga besar pikirannya terbuka, silakan coba beri penjelasan, tapi kalo keluarga besar pikirannya “cupet” (sorry to say), ga usah buang2 energi lah. Tutup kuping dan maju terus aja, demi anak kita. Cari cara supaya diet tetap bisa jalan (ini yang paling susah dalam hal berurusan dengan keluarga besar).

Keluarga kami juga butuh waktu bertahun-tahun sampe bisa menerima keistimewaan anak saya. Awalnya kami dianggap berlebihan karena anaknya “tidak apa2”.  Kalo ngalami begitu ya sudah ditelan saja bulat-bulat judgment demi judgement dan kritik tentang pola asuh yang kami terapkan :)  Anggap saja bagian dari paket sepesial yang datang bersama dengan ABK kita. Parenting is tough, parenting one with special needs is T.O.U.G.H.E.R.
Ingat bahwa kasih karunia Tuhan selalu CUKUP, jadi tetap semangat dan berusaha untuk ambil sikap hati yang benar ya...
Sekarang keluarga besar kami sudah terbiasa dengan “keanehan” kami, dan membiarkan kami menyensor makanan atau mainan atau apa aja yang boleh atau tidak boleh. Kami juga belajar untuk menghargai niat baik dari orang lain, meskipun terkadang niat baik itu jadi bumerang :P

Buat para suami (istri juga, tapi kebanyakan bapak2 nih yang suka denial dengan kondisi anak ABKnya), butuh hati yang tegar dan tangguh buat menerima kondisi anak kita yang berkebutuhan khusus. So, MAN UP!  Your child needs you, your wife needs you.
Kalo gak percaya diagnosisnya, silakan cari 2nd opinion, tapi jangan sampe kebablasan nyari terus dan kebingungan sendiri sama diagnosis2 yang didapat, dan ujung2nya lupa BERTINDAK.

Anak kita tidak pernah memilih untuk jadi ABK, kalo bisa milih tentunya dia juga ingin jadi anak yang seperti harapan orangtuanya. Tuhan udah pilih keluarga kita buat ngasuh anak ini, maka Dia juga yang bakal bukakan jalan supaya kita sanggup menjalaninya.

Kalo kita udah berusaha, trus kita lihat anak-anak lain kok majunya lebih pesat, dll, jangan putus asa ya. Pengalaman orang lain memang baik buat referensi, buat penambah semangat dan inspirasi untuk kita usaha, tapi jangan dibikin jadi tolok ukur.
Tiap manusia punya perjalanan hidupnya masing-masing, demikian juga seorang ABK.
Ada yang berhasil sampai hidup mandiri, ada yang butuh dukungan khusus seumur hidupnya.
Itu “jatah”-nya masing-masing orang, yang udah Tuhan atur.
Jalan hidup seseorang, saya percaya adalah prerogatifnya Tuhan.
Bagian kita orangtua adalah berusaha membesarkan anak kita sebaik mungkin, hasil akhirnya gimana, itu bagiannya Tuhan.
Percaya saja, let go and let God.
Berdoa dan percayalah bahwa Dia bakal memelihara ABK kita di sepanjang jalan hidupnya.

Next saya akan share lebih detail tentang seluk beluk diet. See you!

Tuesday, December 8, 2015

Update di Penghujung Tahun 2015


*elap-elap*  blog yang berdebu tebel saking gak pernah diurusin >_<

Beberapa bulan belakangan ini idup saya diisi dengan pindahan antarpulau, pindahin sekolah anak, getting myself pregnant for the 2nd time, dampingin suami ujian dan wisuda, sulam alis (hahahaha.... gak penting banget ya), dampingin anak ngelewatin musibah patah tulang, dan urusan-urusan hidup yang lain.

Kami gak tinggal di Sulawesi Selatan lagi, sekarang udah move on ke Borneo island. Gak jauh-jauh dari Serukam, tempat kelahiran si D.

Papanya D udah kelar sekolah spesialis, so sekarang udah mulai kerja mencari sesuap nafkah buat keluarga, dengan berjuta aral melintang dan some more dramas (haha... no escape from this)!
Banyak yang nanya, kenapa kami gak balik ke Serukam. Rasanya udah pernah saya jelasin di salah satu blogpost yang lalu. Memang sih orang-orang yang nanya juga bukan pembaca blog, jadi ya gak baca jawabannya.
Sekarang saya merasa perlu jelasin lagi, tapi kok di blog lagi ya, saya jadi galau... tapi daripada engga dijelasin sama sekali, gakpapa ya saya tulis di sini.

Ke mana kami melangkah pada dasarnya memang pilihan kami, tentu dengan segambreng doa dan sejuta pertimbangan yang orang lain gak mungkin bisa ngerti sepenuhnya.
Hati kami selalu ada buat ladang pelayanan Tuhan, dan kami percaya pelayanan itu bisa dilakukan di mana saja. Tuhan arahkan kami kemari dan kami taati panggilan itu, meskipun bagi sebagian orang mungkin pilihan kami terbilang masih di zona nyaman. Bagi sebagian orang lain, pilihan ini udah lumayan jauh di luar zona nyaman loh ;)  Setiap orang punya sudut pandang sendiri, dan tampaknya beberapa orang punya kecenderungan lebih untuk menghakimi, so biarin aja lah ya.
Alasan lain adalah karena secara geografis dengan berada di sini kami masih bisa punya kesempatan buat bantu pelayanan di Serukam, meskipun jalan untuk itu saat ini belum terbuka. Tuhan begitu unpredictable dan misterius. Apa rencana-Nya ke depan sama sekali gak terbayangkan. Dan gak perlu dibayang2kan juga sih (emangnya gambar 3 dimensi). Yang penting bagian kita mah TAAT aja kan ya...

We are expecting baby #2, yang diperkirakan bakal lahir sekitar Februari 2016, so sekarang si saiah menggendut dengan bahagia, karena hormon2 kehamilan berhasil mengalahkan sindroma ceking abadi yang saya derita ;D  Walopun saban hari saya kegerahan berkat matahari katulistiwa nan gagah perkasa cetar membahana, dan biaya listrik rumah tangga membengkak karena mama polar bear ini butuh AC hampir 24 jam sehari, tapi we are joyful n excited. D juga hepi banget doanya minta adik selama bertaun-taun akhirnya (mulai) terjawab.

Starting life over in this so called Promised Land is GOOD.
God has been good.
Although situations haven’t been all good sih, hehehe...

Pertengahan taun ini, D masuk sekolah baru.
Good news nya, dia suka sekolah barunya, lapangannya luas, beban akademis lumayan ringan, maknyak suka biaya sekolahnya yang terjangkau (dibanding sekolah lama atau sekolah di kota2 besar).
Bad news nya, sekelas berisi sekitar 40 anak, yang jadi kendala BUESAR banget buat D yang susah memusatkan perhatian (gagal fokus gitu atau bahasa kerennya ADHD). Sekolah lama yang sekelas isinya 16 anak doang pun udah cukup sulit buat dia fokus, apalagi kelas yang isinya 40 anak.
Sistem belajar mengajar juga masih tradisional, di mana semua anak diharapkan duduk manis dengerin penjelasan guru, ga banyak bicara, dan ada buaanyaaak physical punishment buat perilaku yang tidak diharapkan. Yang makin nambah rumit, kelasnya D berisi banyak anak yang perilakunya sering kali tidak sesuai yang diharapkan, tentunya termasuk si D  ^_^’’
Udah mana anaknya memang gak bisa diem, buanyaaakkk ngomong dan gampang bgt overstimulated sampe ga bisa kendaliin diri, emosi, maupun gerakannya, eh temen2 di sekitarnya juga tidak menentramkan, justru saling ngomporin, akibatnya ya you know lah.... :S
The boy is often disruptive in class, reactive out of class, and can’t help getting himself in trouble by his impulsive or inappropriate responses.
The physical punishments ranging from being hit on his back or the palm of his hands with wooden blackboard ruler (penggaris papan tulis gede dari kayu kayak di SD zaman taun 80an itu), cubit, jambak pelipis >_<, sampe dipoletin cabe di mulut (ada pohon cabe rawitnya di pelataran sekolah), dan ada juga peristiwa tamparan walopun mati-matian disangkal.
But this is another story, saya gak nulis blogpost ini to badmouth the institution where my son is studying.  I’m simply sharing some of our current situation, sesuai dengan ide postingan ini, di mana saya mengatakan bahwa life in Promised Land hasn’t been ALL good even though our God is always good :)

Mungkin ada yang penasaran kenapa kami gak pilih sekolah lain? Karena pilihan yang ada sangat terbatas. Pilihan lain yang sudah kami pertimbangkan adalah sekolah swasta lain yang sekelas berisi 25 anak, tapi sangat kompetitif dan beban akademisnya cukup berat dengan jam belajar yang panjang, kegiatan ekstrakurikuler, PR segambreng, ulangan saban hari, dll. Demi supaya D dengan segala kondisinya gak kehilangan a happy childhood, dan gak setres kena beban studi yang kelewat berat, kami pilih sekolah yang lebih “friendly”, walopun ternyata ada juga kekurangannya. So far, meskipun mengalami banyak physical punishment, dan banyak daily physical battles with friends -.-‘ si D hepi dan enjoy sih sekolah di sini, ogah pindah ke skul lain.

Tepat di hari Kesaktian Pancasila yang lalu, yaitu 1 Oktober 2015, pagi hari pas lagi masak saya ditelponin ama gurunya D, yang dengan suara panik ngasih tau bahwa D jatuh di sekolah, lengannya cedera, dan lagi dibawa ke RS. RS tempat papanya D kerja tuh persis berseberangan sama sekolahnya D. Dan hari itu adalah hari PERTAMA papanya D masuk kerja (drama king, remember? :D).
Punya anak hiperaktif, kayanya jantung saya sedikit lebih setroonnggg (=kuat) daripada emak2 kebanyakan (ga ada maksud nyombong ya, ini sarkasme :P). Bukan ngarep2 celaka, tapi bertaun-taun liat D manjat ke segala tempat dan jatuh dari segala tempat dengan luka yang cukup minim buat ukuran aktivitasnya, saya suka heran liatnya. How his guardian angels must have worked so hard! So, kali ini denger guru bilang anak saya dibawa ke RS, keliatannya lengannya ada masalah, 1st and foremost saya bersyukur, artinya anaknya masih idup dan kejadiannya gak fatal. Abis itu saya telpon papanya, supaya nunggu di IGD, trus abis doa dan bawa beberapa perlengkapan (baju ganti, kain, toy animal kesayangannya D, dll jaga-jaga aja siapa tau dibutuhkan) saya nyusul ke RS.
Nyampe di RS, saya liat D baru aja dironsen, terbaring dengan baju seragam kotor dan udah tergunting buat mengekspos lengannya yang luka. Tulang lengan kanannya patah total, jelas keliatan perlu dioperasi, pasang pen atau sejenisnya. Anaknya diem aja megangin tangan yang cedera, dan kalimat pertama yang dia bilang pas liat saya adalah, “Mah, lengannya D patah...” dengan tampang syok dan memelas, tapi gak nangis.

Belakangan saya denger ceritanya, abis dia jatuh pas manjat-manjat di sekolah, temen2nya sesama anak kelas 3 rame2 ngegotong dia, seorang pegang kepala, 4 orang temen lain masing-masing megang tangan dan kakinya D, jadi dia digotong dari 5 penjuru, dibawa mondar mandir di pelataran sekolah (ceritanya mau dibawa ke ruang UKS). Sementara itu ada temennya yang bersuara “nenot...nenot...nenoottt....” niruin sirene ambulance. Ada juga temen lain yang teriak, “Ada orang mattiiiii....!!!!”  Yang dijawab ama si D, “Woi, aku belom mati!” -.-‘
Sampe muleeesss perut saya ngebayangin lengannya yang patah ditarik2 kian kemari pas digotong2 gitu. Gak lama kemudian ada guru yang liat kejadian itu, dan ngasih tau supaya si D jangan digotong2. Trus mereka taruh si D begitu aja tergeletak di tanah, dan setelah itu baru si D dibantu berdiri, dan belakangan dibopong ama guru cowok, nyebrang ke RS.
Karena di kota kami gak ada dokter bedah tulang, sore itu kami ke RS di ibukota propinsi, dan besoknya si D dioperasi.
Menjelang masuk kamar operasi, baru si D nangis terisak-isak dengan memelasnya, bukan karena takut, tapi minta maap karena ngabisin duit papa mama buat bayar operasi :O
What a boy....... *geleng2*

Baru-baru ini papanya D juga dioperasi cabut gigi, dan si D heran kenapa papa takut (dari kecil babenya emang takut ke dokter gigi :P), soalnya menurut D, waktu dia mau dioperasi dulu juga gak takut. Dia cuma gak sabar pengen tulangnya cepet “dibenerin”, dan pas bangun dari efek biusnya, katanya dia ngerasa lega aja lengannya “udah dibenerin”.
Keesokan harinya setelah operasi, walopun super duper rewel dan masih kesakitan, dia udah berani mulai nyoba melompat lagi -.-‘
Kagak ada matinye banget ya kelakuan anak gue....  ^_^”

Sekarang udah 2 bulan lebih sejak operasi, over all semuanya lumayan baik sih. Sempet dicurigain ada infeksi tulang, diobservasi selama 3 minggu sambil kami doakan, by God’s mercy infeksinya hilang sendiri tanpa diapa2in. Sempet juga berulang kali jatuh dan kena di bekas operasi >_<
Tulang yang setelah operasi posisinya bagus juga sempet terlihat bengkok, dan beberapa minggu kemudian bagus lagi posisinya (seudah jatuh berulang2, wkwkwk....).
Yang masih mengganggu tuh gerakan sendi siku di tempat yang dioperasi, yang sampe sekarang masih sangat terbatas, gak bisa nekuk pol gak bisa juga lurus pol kaya sendi normal, ini masih rajin dilatih supaya bisa kembali normal.

Apa ngalamin patah tulang bikin anaknya jadi kaleman dikit? We all wish! But not happening, hahaha....
Tapi saya tau ini pelajaran berharga buat kami semua.
Buat D pelajaran tentang natural consequences alias akibat, dan buat kami pelajaran tentang surrender.
Berserah bahwa banyak hal di luar kendali kita, gak tergantung dari usaha kita jagain atau ajarin anak-anak kita.
Berserah bahwa dalam masa pemulihan dari cedera pun tetap banyak hal di luar kendali kita (jatuh berulang kali dan kena di tempat yang baru dioperasi).
Berserah bahwa hal-hal yang waktu kita alamin begitu “buruk” pun bisa Tuhan pake buat menjadikannya “SANGAT BAIK” pada waktunya nanti, meskipun kita sering kali tidak bisa liat itu (makanya iman percaya itu kudu pake hati, jangan pake mata, hehehe...)

Promised Land memang berlimpah susu dan madunya, tapi Promised Land bukan Taman Eden, di mana manusia tinggal metik dan menikmati doang tanpa perlu bersusah payah duluan.
Saya baca-baca kitab Yosua, nyari-nyari janji atau pesan dari Tuhan buat kami setelah masuk Tanah Perjanjian, ternyata yang saya temukan adalah peperangan demi peperangan, buat menduduki Tanah Perjanjian :O  Mulai dari nyebrang Sungai Yordan, merobohkan tembok Yerikho, mengalahkan penduduk setempat, dst. Sampe abis tuh kitab Yosua, perjuangan abis dah isinya.

Jadi yah begitu jugalah kisah kami di Tanah Perjanjian :)
This is not a happy ending, this is the beginning of a new chapter.
Tapi setiap bab pada dasarnya isinya sama: that God has truly been good. ALL the time.

Menjelang natal 2015, saya sekeluarga mengucapkan:
SELAMAT (MENYAMBUT DAN) MERAYAKAN KELAHIRAN KRISTUS.
Keep trusting that Baby Jesus because He is The Great I AM incarnate.

Monday, August 24, 2015

Five Years Later

A new home, a new town. New friends and new school, new routines.

We have long passed the overly rigid nighttime bedroom door gap issue, when the little boy wanted his bedroom door to have a precise 7 cm opening when we left him to sleep. PRECISELY 7 cm (without measuring, the 3 y.o. boy JUST KNEW, it had to be THAT wide, not one centimeter more nor less). If we strongly suggested that 8 cm was just fine, and left the door at 8 cm, he would climb down his bed, correct it, more often when we didn’t see. That sort of rigidity was just spooky for us, so we would always try to flex him a bit, trying to lessen his rigidity. How naïve of us...

We have passed (well, sort of) the frantic, hurried, often times aimless body movements when he was over-excited or his food allergy stroke again.

We have passed the super-stubborn, super-strong unbendable will, unarguable irrational fixations, the no-compliance-without-war attitude, and so on.

We have also passed the phase where he hadn’t had the mental capacity of questioning the diet we apply to him, in order to minimize his “hyperness”. But back at 3 y.o., his diet was much simpler, and his expose to the variety of food was still rather limited. Nowadays he would protest his diet limitation whenever he feels like it, which is nearly at every meal (or snack time) when he is in bickering mode, even the ones that are already too definite to be discussed, such as food coloring.

We have passed the times when he wouldn’t sit still in his kindergarten classes, that he had to sit separately from the rest of his classmates, on the chair instead of on the floor for story-time. I still wonder how sitting separately on his chair helped him to not wander around.

We have passed the period when he would want to go to exactly the same stores at the mall, sometimes with the same sequence, every single time we went to the mall. We would try really hard to make each trip to the mall different (different entrance, different sequence, going to different stores with different duration, leaving through different exits, parking in different areas), for him to learn variety, while keeping his comfort in mind, so that he wouldn’t develop some kind of anxiety or confusion.

We have passed his a-little-too-much fondness of long socks, when he would pull his socks of any kind (long, medium, or short) with all his might, so that those socks would cover up to his knees. His shorter socks would have stretched sooo thin that people would question if his mama was a little out of her mind, for not providing decent socks for him. Now this one wasn’t too troubling, apart from Mamaw worrying if it would last until adulthood (this poor Mamaw did worry too much! ;P).

His left hand is now helping his right hand more spontaneously, and instinctively.
He can now hold a snack in his hand and bite off a chunk at a time.
He still doesn’t lick on a popsicle or ice cream cone, and bites it off like eating a banana, he is now 7 y.o.
Most of you would wonder what these statements mean. I should briefly explain.
Most children without coordination issues would effortlessly master licking, chewing, biting off a biscuit and finish it at quite early age. I remember staring in awe at a one year old pretty little girl in a café, who licked an ice cream cone in her mommy’s hand. She was barely walking on her own, but was licking like a pro (well, messy and all, but still, a pro)! It struck me hard, how some things didn’t come easy at all for children with coordination difficulties or other issues. I remember how my little boy couldn’t hold a piece of finger food and bite it off bit by bit. He would hold one, bite just one chunk off, then forgot all about the rest of the finger food while he chewed on the chunk in his mouth. Or he would bite it off over and over again without stopping, until it was all gone, leaving heaps of scraps all over the floor.
While the rest of us learned to write on a piece of paper with one hand and having the other hand mindlessly help holding the paper steady, my little boy’s brain had to be trained, for a long time, so that his other hand would help his dominant hand doing things like writing, eating, etc. Thank God for training! :)

So, dear readers, may these little things remind you to be mindful and thankful. I am tremendously amazed of the little things that God does for us that remain anonimous or unnoticed, although without them, our lives would have been impossible to live.
All this enlightenment came to me because of my boy. He is an eye opener! :)

Past were the years when he would be a “lost boy” EVERY SINGLE time we went grocery shopping or to a mall (later I arranged to do grocery shopping when he was at school, but I had to drag him along during the K-years, coz school was over by the time grocery market started to open). Supermarkets or malls had sooo many things that caught his attention. He would stop so often, by something that caught his attention. I would then go on walking a few meters ahead or turned around a corner nearby, where he was still VERY visible. When his attention shifted from what attracted him, he would find that Mamaw wasn’t where she was, and got panic all at once. He would scream in panic, or run around and got even farther from where Mamaw was O_o Within short seconds, Mamaw who was really nearby picking shallots or fruits or whatever into a bag, would get all the judging stare from supermarket staffs or other customers, because she was sloppy and careless, and her cute, adorable little boy could have been kidnapped or something.
As the boy got older, his distractibility got worse, and Mamaw’s patience grew thin. She made a pact that boy would have to do his best to stay close, because Mamaw needed to do grocery shopping without too much incidents, for her sanity’s sake. But of course boy would soon be distracted again. Over and over again. And again. And again... neverendingly. Now Mamaw had become this cold hearted matriarch eager to teach her son a lesson on grocery shopping. So she would do grocery shopping without much reminding boy to stay close. Her eagle eye surely keeps her boy within safe perimeter while doing her thing, but boy didn’t know that. So his lost boy scenes got worse. Sometimes he would wander around, and couldn’t find Mamaw (though Mamaw could see him clearly!), then he would ask for help from staffs or security guys. But then Mamaw has learnt to ignore those judgmental stares and comments, and just let boy do his problem solving, and in the end just look at the boy’s eyes sternly, hoping that he would learn something from it.
This happened almost every single time we went to mall or grocery shopping. Some bigger scenes were even more upsetting.

Looking back, I think I should have been more sensitive and considerate, because his little heart must have been gripped by fear every time he felt that he was “lost”. Exhausted and beaten-up Mama had tighter nerves and far less endurance indeed...

At 7 y.o., he now roams farther in shops or malls, but does so more responsibly. Now all we have to do is tell him which isle we would be, and he’s good to explore on his own for a few minutes, of course while considering the safety of the place.

And many maaannnyyy more progresses. I can’t keep track of them all, and I don’t have the time nor capacity to take a note of them all, although it would be a good reminder.
Oh how far we have come! The abundance of grace we have experienced!

The little stubborn boy who had to have everything his way has now evolved into a boy who knows his boundaries, submits to his authorities, follows rules (well most of the time ;P), thrives on firm discipline in his daily routines. He has his annoying moments of course, as children his age do, such as talking back, trying to persuade Mama or Papa to bend the rules, but he knows right from wrong, and honorably chooses the way of righteousness, at least most of the time.

I would really love to call this the fruit of our hard labour, but it really wasn’t. It is all grace. Our labour is for our own molding and shaping, his molding and shaping is his own journey. His so far good results? They are all God’s merciful generosity.

He still has to develop his self value, overcome his low self-esteem, and work on his management, especially on school tasks, because his peers are strikingly aware and attentive of their daily school tasks.
But in him I see a God-fearing soul budding, a loving and compassionate soul, a strong sense of right and wrong, a spirit eager to love God 'more than Mama and Papa loves God' (this was his own words from a few days back), a tolerant and considerate and obedient soul. How precious and how proud we are of him.

It’s not like “everything is now OK and under control”.
We are still very much struggling, in many other, more advanced aspects. We are still waiting for God’s fulfillment of His promise of healing. I don’t know if it would come as complete, total healing, or the healing of the soul, the healing of whatever is broken along the way. We shall see. But we do have faith and look forward to that healing, in whatever form it will come.

In September 2012, during a struggle in D’s school, I wrote a blog post featuring this verse:
“Do not turn me over to the desire of my foes, for false witnesses rise up against me, breathing out violence. I am still confident of this: I will see the goodness of the LORD in the land of the living. Wait for the LORD; be strong and take heart and wait for the LORD.”
Psalms 27:12-14

Now I can boldly say that I AM seeing the goodness of the LORD, in this land of the living! Some of our struggles still remain, but His goodness surely surpass them all.

Saturday, May 9, 2015

Calvin and Hobbes

Beberapa bulan yang lalu saya nemu comic strip Calvin and Hobbes yang ini:
(gambar ini saya ambil dari Pinterest)



Rasanya gimana sih bacanya?
Kalo saya jadi sedih. Sedih banget karena saya tau persis ironi dari kisah Calvin yang ini.

Buat yang gak familiar sama komik Calvin and Hobbes (di beberapa negara Eropa judulnya Alvon and Poppes), saya ceritain dikit duduk perkaranya ya... :)

Calvin ini anak cowo berumur sekitar 6 taun (udah sekolah kelas 1 SD kalo ngga salah) yang super kritis, super kreatif, pinter, dan badungnya minta ampun. Dia punya boneka harimau kesayangan yang ukurannya lumayan gede, namanya Hobbes. Nah dalam imajinasinya Calvin, Hobbes ini beneran idup, dan ukurannya lebih gede daripada badannya Calvin. Si Hobbes ini sama badungnya sama Calvin, partners in crime gitu deh.

Sejak masih ABG culun dulu, saya udah suka banget sama komik ini, sampe subscribe ke website nya, dan saya saban hari dikirimin 1 comic strip Calvin and Hobbes di inbox email.

Dulu saya bacanya fun-fun aja, saya takjub sama kepinteran dan imajinasinya dan geli sendiri liat kebadungan dan segala trouble yang ditimbulkan oleh Calvin.

Pas mulai kerja di pedalaman, otomatis saya gak bisa lagi baca-baca komik ini. Setelah bertaun-taun vakum, tempo hari saya mulai suka liat-liat pinterest, dan nemu lagi komik ini. Maka cinta lama pun bersemi kembali... :P
Only this time, saya bacanya dari sudut pandang berbeda, sudut pandang seorang mama. Lebih tepatnya, seorang mama yang punya anak kayak Calvin.

Asli, pas nemu dan baca lagi beberapa ceritanya, sekarang saya malah jadi lebih takjub. Baru ngeh kalo kisah Calvin itu bisa juga terjadi di dunia nyata (well less dramatic in reality lah ya, tapi beneran asli mirrrriiiipppp bangeett, Calvin and Hobbes tuh kok ampir kaya our true story!). Now I see Calvin’s Mom and Dad with a newfound sympathy of a parent who shares similar battlefield on daily basis.

In many ways, si D and Calvin rada-rada mirip. Well si D gak se-’badung parah’ kayak Calvin lah, kalo si D bisa nyaingin Calvin mah bukan Bill Waterson yang bikin komiknya, tapi Natalia Setiadi huehehehehehhe... namanya komik, tentu udah dibikin semenarik mungkin biar pembaca seneng kan.

Biar rada kebayang, berikut ini saya kasih contoh beberapa cerita Calvin yang berasa déjà vu banget buat kami. Sekedar info, pas saya kasih liat ke papanya D, sampe ngakak-ngakak geli dia, saking miripnya cerita-cerita ini sama our true story :)







Kisah tentang “monkey head stew” adalah salah satu cerita Calvin yang paling berkesan buat saya, soalnya itu true story di rumah kami, bedanya cuma papanya D selalu menyambut setiap menu dengan gegap gempita, bagaimana pun bentuk dan namanya hahaha... Kan si D juga picky soal makanan, suka ilfil gitu sama menu sehari-hari yang saya masakin, bosen kali ya...

Jadinya kalo dia tanya “hari ini masak apa?” atau di meja makan dia tanya “itu apa, Mah?” saya suka iseng jawabin dia yang aneh2 hihihi.... Misalnya bakso goreng saya kasih nama “Galactic Meteor”, ngikutin istilah di koleksi Animal Kaiser cards-nya. Atau pernah juga masak bakmoy, tapi demi ngeliat si D ilfil bin bosen liat bakmoy, saya ngarang aja bahwa itu bukan bakmoy, tapi BOYOY (garing banget, maklum dadakan dan lagi mati gaya). Si D gak terkesan sama sekali sih sama “boyoy” (harus dilafalkan secara sengau ya, wkwkwkwk...), tapi dia udah keburu bingung mensinkronkan bakmoy yang diliat di matanya sama boyoy (sengau) yang didengar di kupingnya. Nah waktu bengong itu saya pake buat kasih instruksi seberwibawa mungkin “ayo cuci tangan, terus makan”, yang dia turutin tanpa sempet protes hahahaah.... Binggow! V^_^V

Mungkin pembaca udah tau ya, bahwa ADHD bisa diterapi dengan obat (yang di komik Calvin pertama yang saya share di atas itu Calvin sebut “pills”). Obat ini biasanya membantu ngurangin hyperaktivitas, bikin anak lebih fokus, ngurangin disctraction, juga ngurangin letupan emosi berlebihan atau perilaku membangkang.
Singkatnya, bikin si anak lebih kooperatif dan mampu berfungsi seperti yang diharapkan.

Jangan salah, orangtua anak-anak ADHD umumnya harapannya gak muluk-muluk. Liat anak kaleman dikit, main tanpa berkelahi, gak pake tereak2 kelewatan, atau berhasil ngabisin makanan sepiring tanpa perlu diingetin berulang-ulang aja udah seneng banget... (At least saya sih) gak kepikiran pengen anak juara atau dapet piala, atau jadi tokoh utama pentas drama whatsoever. Kalo malem pas mau tidur, dia bisa beresin mainan, gosok gigi, ganti piyama tanpa pake drama ala sinetron aja udah considered a good and peaceful night, yang gak akan luput dari pujian dan ucapan terima kasih karena sudah memberkati mama-papa dengan ketaatannya.
Sedangkan kalo di sekolah, berfungsi seperti yang diharapkan itu adalah berhasil kerjain worksheet-nya pada waktunya, seperti temen2nya, atau bisa main dengan rukun. As simple as that.

Sayangnya, sebagian (SEBAGIAN kecil aja ya, gak semuanya) orangtua suka mengeluh bahwa dengan obat anaknya jadi terlalu diem, kayak nggak jadi dirinya sendiri. Hehehe.... manusia emang susah puas ya, dikasih hyperaktif salah, pas kelewat diem juga bingung sendiri :P Tapi saya sangat mengerti, bahwa kalo liat anak biasa lari-lari, manjat-manjat, berceloteh keras-keras dengan riang gembira (walopun terkadang sangat mengganggu), mendadak jadi kalem, tenggelam keasikan baca buku atau main origami sampai lammmmaaaaaa, emang bikin ortu takjub dan kuatir sendiri saking takjubnya.

Beberapa kasus yang ekstrim malah nyebut2 anaknya jadi kayak zombie lah, atau mematikan kreativitas anak, as depicted in the 1st comic strip di box paling akhir. Scene ini digambarkan dengan warna black n white suram, Calvin lagi kerja worksheet dengan sangat fokus, sampe-sampe Hobbes digambarkan kembali jadi boneka harimau, bukan harimau idup seperti imajinasinya yang biasa.
Can you now see the irony more clearly? :-/
Tapi di sisi lain, secara statistik sih sebagian besar anak ADHD terbantu dengan obat.

Di salah satu grup special needs yang saya ikutin, saya pernah ketemu seorang dengan ADHD yang sekarang udah dewasa. Dia struggling banget selama masa kecilnya, sampe-sampe dia sangat menyayangkan pilihan ortunya untuk gak kasih obat-obatan. Terlepas dari kecenderungan anak untuk menyalahkan ortunya, saya bisa bayangin sih kesusahannya orang ini. Sampe terpukul banget dia begitu tau bahwa sebenernya ada obat yang berpotensi mengurangi kesulitan akibat ADHD-nya, tapi ortunya memilih untuk gak nyoba.
Memang obat ini juga banyak efek sampingnya, dan banyak ortu yang milih cara herbal, alternatif, dan pendekatan non-obat. Tapi setiap kasus beda, setiap kondisi anak ADHD, situasi keluarga, keuangan, dan kemampuan orangtua beda, jadi gak bisa juga kita maksain suatu pilihan tertentu. Saya percaya semua ortu pasti ngasih yang menurut mereka paling baik buat anak-anaknya.

Sebagai penutup, ini saya kasih foto stuffed animal kesayangannya D.
It is to D just as Hobbes is to Calvin.
And YES, it is also a stuffed tiger! :D
Didn’t you believe it when I said Calvin and Hobbes is almost like our true story? ;)


Thursday, December 11, 2014

Kisah Origami

Kisah Origami

I have a thing about origami papers.
Di masa kecil saya di tahun 80-90an, kertas origami masih barang langka. Anak-anak Indonesia rata-rata pada main melipat kertas di sekolah, belajar dari temen, dengan cara ngerobekin kertas buku tulis. Anak-anak standar kayak saya bisanya bikin perahu dari kertas persegi panjang (sok ngacung sapa yang gak bisa bikin perahu kertas? Pasti semua bisa ya...), atau kamera dari kertas bujursangkar, atau kodok-kodokan yang bisa ngomong. Beberapa yang lebih yahut bisa bikin kodok yang bisa lompat, atau semacem senjata ninja yang entah apa namanya itu (anak-anak di Jawa jaman baheula nyebutnya “piau”?), dan macem-macem lagi.

Nah, karena anak saya ada beberapa problem khusus, saya sengaja nyariin mainan-mainan yang melatih keterampilannya. Di antaranya ya origami ini. Selain kertasnya sekarang ada buanyaaaak macemnya dari yang warna-warni berglitter, yang mengilap pearly syahdu, kertas emas standar yang warnanya ala-ala Natal gitu, sampe yang bolak balik beda warna (bikin saya selalu kalap kalo beli xixixi...). Dan ternyata anake juga demen.
Jadi pucuk dicinta ulam tiba ^_^ ada alesan kuat buat membenarkan kekalapan saya gitu...

So dari umur sekitar 2 taunan saya suka ajakin si D ngelipet2 origami. Belom bisa lah dia, belom interest juga. Mulai beneran interest waktu umurnya sekitar 4 taunan. Dia mulai bisa melipat ngikutin contoh saya, cuma selain belom rapih (ya iyalah) kelemahannya adalah dia gak tekan di bagian lipatan. Jadi longgar-longgar gitu. Saya gak tau, standarnya umur berapa anak mulai bisa melipat dengan tekanan yang memadai, but kalo si D sih menjelang umur 7 taun ini baru dia bisa menekan lipatan sesuai yang semestinya, dan hasil lipatannya juga mulai lebih rapi.
And surprisingly, asal instruksi gambarnya bener, si D bisa melipat apa aja sampe yang cukup rumit, dengan cara melipat ngikutin instruksi gambar, walopun baru pertama kali! :O
But, buat buibu sekalian, kalo anaknya (atau juga emaknya) gampang frustrasi, saya anjurin supaya bener2 teliti milih buku instruksi origami, soalnya suka ada salah cetak, atau instruksinya kurang jelas, atau emang gak bener, jadi gagal menghasilkan hasil lipatan seperti yang disebutkan di gambar. Kadang2 di dalam kemasan kertas origami udah ada contoh instruksinya, kalo kertasnya kualitasnya cukup baik, instruksi ini biasanya jelas, cukup simpel buat anak, dan gak ngaco2.

Now, apart from jumping in joy for another milestone and skills that my son succeeded mastering, I find that some things remain arduous.  Yaitu kecenderungan untuk menyukai sesuatu (aktivitas, makanan, tontonan, tempat, dst) a little too much.  Jadi kalo udah demen ngerjain origami, bisa beeerrrrrjam-jam dia kerjain origami.
Lantas, apa masalahnya?
Awalnya sih iya, no problem. Convenient pula, maknyak bisa “aman” selama beberapa waktu. But lama-lama somehow he just can no longer take it, tapi gak nyadar, dan gak bisa berenti.
So, sambil jengkel karena hasil yang tidak sesuai harapannya, dia ngotot ngelanjutin, padahal udah cape dan jenuh tapi gak kerasa dan gak dirasa, makin dilanjut makin gak sesuai harapan, makin upset. Vicious circle. Which mostly ends ugly.

After quite some time, maknyak finally learns her lesson. And developed PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) -.-‘
Maka maknyak pun selalu berusaha bikin D stop whatever he’s doing, at the earliest signs of cape atau jenuh atau bosen dan sebangsanya.
Karena D sendiri gak kerasa (and because of his very strong will power, dan beberapa penyebab lain), dia ogah dong disuruh berenti. Nah nyuruh berenti ini juga starts another line of vicious circle. Which also can end ugly.
So maknyak tinggal pilih aja mau vicious circle yang mana :P
I mostly choose the latter, because at least this circle teaches him to stop before it’s too much for him. In the long run that is. In the very loooonnnggggg run. Kayanya udah hitungan taun deh ngajarin hal ini. We haven’t seen light at the end of the tunnel, but occasionally some little sparks are spotted.

As a “counter judgment” note, please allow me to vent.
Watching these scenes of me going all tooth and nail to make my “finally-doing-something-calm” son stops what he is enjoying doing, which are mostly nice and smart activities, is like watching a freak show. It wouldn’t make sense to you, and believe me, many times the irony strikes myself as nonsense too, mengingat betapa wow-nya akibat yang ditimbulkan selanjutnya.
Maknyak mana yang dengan penuh pengabdian berenti enjoying her precious calm moments, dan tanpa alasan yang jelas maksa bujukin anaknya berenti main mainan yang edukatif dan tenang dan baik, dengan risiko bikin anak mengamuk tak terkendali?
I feel like going crazy sometimes, and many times I’m convinced that I HAVE gone mad, considering the many weirder and weirder stuffs I do and think of @.@

But this is a fierce love of one desperate mom, who longs for her son to survive in this wicked world, by LEARNING WHEN AND HOW TO STOP, no matter how hard his fixation gets. 

Please do remember this if you ever encounter some weird mom doing weird things that you can’t comprehend ;)

Friday, September 26, 2014

What you need to know about ADHD - part 1

The thing I hate the most about ADHD: it makes parenting a living hell at times. Of course it’s a journey of grace, enlarging your capacity, and so on, but more often than not, well... I needn’t say it twice.

The fact that the incidence keeps increasing, along with other child development issues, proves how much deeper we have been falling into sin. And how much we need redemption, which only Jesus can offer. He heals, redeems, and transforms us into who we are meant to be as a God’s creation.


ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

Untuk keterangan secara umum, silakan baca di sini. Postingan saya yang pertama tentang ADHD juga memuat banyak link yang bagus, silakan baca di sini.

Bahwa Anda bisa nyampe ke laman blog saya ini, ada beberapa kemungkinan.
Pertama, mungkin Anda pengikut blog saya; kalo iya, silakan baca sepuasnya, karena pengikut biasanya setia aja bacain apa pun yang saya posting hehehe..
Kedua, mungkin Anda nyasar ke sini; kalo iya, silakan baca dan liat-liat, sesuai selera aja dah. Ketiga, mungkin Anda sengaja browsing cari keterangan atau apa aja tentang ADHD; kalo iya, saya berasumsi Anda punya sanak famili berkebutuhan khusus atau lagi research tentang ADHD dan sebangsanya.
Dan postingan ini secara khusus saya tujukan buat pembaca yang termasuk kelompok ketiga.

Saya bukan ahlinya di bidang ini, walopun saya bergelar dokter umum. Saya punya “paspet” (passion akibat kepepet) sehingga saya berusaha mempelajari ADHD.

Sebagian dari pengalaman saya selama empat tahun bergulat, bergelut, berkedut, berjambakrambut, dan bertelut akibat gangguan yang disebut ADHD ini, akan saya ringkaskan di tulisan ini. Semoga bisa menambah wawasan dan membuka mata, membantu dan memberi pencerahan buat para ortu yang lagi galau, or better yet, membuka jalan buat “paspet” saya berikutnya, yaitu membentuk support group alias komunitas para ortu anak berkebutuhan khusus (khususnya ADHD) yang bersandar kepada Kristus. Komunitasnya belom ada, tapi kalo ada yang mau gabung bisa kontak saya ya ;)

1. ADHD adalah gangguan perkembangan akibat adanya disfungsi di otak. 

Pada ADHD terdapat kelainan fungsi otak, tepatnya di lobus prefrontal. Baca di sini dan situ buat para kaum cendekiawan/ti yang butuh dasar ilmiah yang lebih intelek. Di tulisan ini saya cantumin yang praktis2 aja buat kaum emak2 yang udah galau dan gak butuh dibikin lebih mabox :D

Secara umum, ada BUANYAK BUANGET gangguan perkembangan pada anak-anak, mulai dari yang ringan sampe yang berat. So, sampe pusing deh ngeliatin singkatan2 alfabet di banyak artikel, seperti ASD (Autistic Spectrum Disorder), SPD (Sensory Processing Disorder), LD (Learning Disorder), dan seterusnya yang kebanyakan berakhiran dengan huruf D, untuk Disorder, atau bahasa Indonya GANGGUAN. Gangguan-gangguan ini enggak khas, artinya tiap gangguan punya beberapa gejala yang sama, jadi kadang susah dibedakan.

Analoginya, gak bisa dibedain seperti kita bedain telor ayam, telor bebek sama telor puyuh, yang udah jelas beda dari warna dan ukurannya walopun sama-sama telor. Gangguan-gangguan ini ibarat telor ayam dari ayam item, ayam putih, ayam burik, ayam negri, ayam kampung, sampe ayam jadi-jadian wkwkwkw.... So, dari luar sama2 telor, tapi kalo didalami dan diteliti, ternyata ada yang asalnya dari induk yang burik, atau induk burik dan bapak item, dan seterusnya; bahkan ada juga telor yang isinya dua kuning telor atau gak ada kuningnya.

Contohnya, anak dengan autisme bisa punya gangguan sensorik (SPD) atau tanpa gangguan sensorik. Anak dengan ADHD bisa punya SPD juga. Anak dengan ADHD bisa punya speech delay (keterlambatan bicara) seperti gejala khas pada autisme. Dan seterusnya.

Lebih rumitnya lagi, tiap kasus (tiap anak) memperlihatkan manifestasi gejala yang berbeda-beda. Misalnya ada yang autisme dengan speech delay, atau autisme tanpa speech delay seperti pada Asperger Syndrome (Asperger termasuk dalam kelompok ASD). Ada autisme yang high functioning, ada juga yang borderline atau gak jelas sampe dinamain PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorder-Non Otherwise Specified alias gak tergolongkan). Dan lain-lain.

ADHD sendiri termasuk dalam kelompok gangguan atensi alias gangguan pemusatan perhatian (Attention Deficit Disorder). ADD ada 2 macem, yaitu dengan hiperaktivitas (SELALU ditandai dengan keluhan anaknya gak bisa diem), atau tanpa hiperaktivitas (anaknya diem tapi gak fokus, melamun). Biasanya, ADHD lebih gampang ketauan daripada ADD. Soalnya punya anak hiper itu masyaoloh ajubileh dah rasanya (you know lah ya. If you don’t know atau ragu2, kemungkinan besar anak Anda TIDAK hiper. Ortu yang anaknya beneran hiper, tanpa keraguan akan mengeluhkan ke-hiper-an yang bikin amsiong). Juga kalo anak dibilang sering melamun di kelas, walopun anaknya kalem2 dan gak mengganggu, coba diperhatikan lebih teliti ya...


2. ADHD sering disertai ko-morbiditas (gangguan lain).

Komorbiditasnya bisa berupa ODD (Oppositional Defiant Disorder, atau pembangkangan yang berlebihan). Eits jangan buru2 bilang banyak anak emang suka membangkang ya. Pada ODD membangkangnya luar binasa, sampe hal-hal yang absurd. Bisa bikin ortu pengen cepet mati. Seriusly. So, jangan dikira ini sebutan mengada-ada.
Ada juga LD (Learning Disorder, termasuk di dalamnya dyslexia, dysgraphia, daaaan lain-lain), ansietas (anxiety atau gangguan cemas), depresi, bipolar, SPD (gangguan sensorik), gangguan koordinasi (termasuk di dalamnya dyspraxia, tonus otot yang lemah, daaaan lain-lain).

Emang rumit banget. Sampe sekarang saya masih sering terbengong-bengong ga ngerti singkatan tertentu artinya apaan.


3. Metoda parenting untuk anak-anak biasa sering tidak bisa diterapkan pada anak-anak spesial.

Anak biasa = “anak normal”-saya pake tanda kutip yah, karena anak spesial itu BEDA, tapi BUKAN abnormal. Dan tentunya tidak KURANG dari normal. Nowadays I think normal is overrated, coz we all are abnormal in one way or another ;)
Anak “normal” sering disebut NT (neurotypical) alias tidak mempunyai gangguan neurologis.

Makanya, ortu anak-anak spesial ini juga menerapkan metoda-metoda parenting yang tidak lazim. Ini bukan karena ortunya gak bener, bego, atau gak peduli tentang parenting (walopun secara manusiawi tentu kami banyak begonya, ga benernya, dan masih kurang belajarnya), tapi karena cara-cara yang biasa gak mempan buat anak-anak spesial.

Contoh:
Kalo anak biasa minta ke kebon binatang terus dibujuk pake kalimat "besok2 aja ya...", besoknya bisa udah lupa. Kalo anak spesial di situasi yang sama dibujuk pake kalimat yang sama, dia akan PEGANG TEGUH itu kalimat. Otaknya udah terkunci (preokupasi) ke hal2 yang bakal dia lakukan di kebon binatang. Bahkan dia bakal menghitung mundur sambil ga bisa mengalihkan pikiran ke hal lain  saking excitednya.

Cuma contoh ya, jadi tentu gak bisa digeneralisasi buat semua anak biasa. Ada juga anak biasa yang kritis dan strong willed. Tapi secara umum berlaku lah ya contoh ini.

Ini baru satu contoh sederhana.
Bisa dibayangkan untuk sikon yang lebih rumit kecenderungan di atas bisa berkembang jadi seperti apa? Bisa WOW banget. Yang mengerti biarlah mengerti; yang tidak mengerti, lanjut baca aja ya, coz it’s almost impossible to explain unless you experience it yourself :P

Buat anak ADHD atau SPD, di otaknya udah kebanyakan ide ataupun input sensorik, otak mereka gak bisa mengabaikan hal-hal yang gak bermakna untuk berfokus pada beberapa ide atau input sensorik yang penting aja.
Menurut seorang remaja dengan ADHD, otaknya terasa penuh, kayak dipenuhi ide-ide dari 4 orang, semua berdesak-desakan di benaknya, bersaing buat dapetin perhatiannya. Begitu perhatiannya terpusat ke 1 ide, ide-ide lain udah berdesakan berusaha nyaingin, maka dia beralih ke ide lain. Begitu seterusnya.
Kebayang ga sih capenya? :(


4. Gangguan-gangguan ini tidak bisa dikendalikan oleh si anak, tidak bisa dihilangkan dengan pola asuh, maupun terapi/obat.

Misalnya sifat impulsif.
Kalo lagi marah terus lempar barang, pada anak biasa itu adalah ekspresi kemarahan. Bisa dilatih untuk mengekspresikan kemarahan dengan cara-cara lain yang lebih bisa diterima.
Pada anak spesial, sifat impulsif itu seperti refleks, tidak bisa dikendalikan.
Analoginya kalo lutut Anda digetok pake palu refleks oleh dokter, Anda gak bisa hentikan itu, lutut Anda akan nendang dengan sendirinya, tanpa Anda sengaja.
Anak spesial yang dengan impulsif melempar barang atau ngotot memegang benda yang Anda larang, tidak bisa mengendalikan hal itu. Seiring berjalannya WAKTU dan semakin matangnya perkembangan saraf-sarafnya dan semakin terlatih anak tsb, sifat impulsif bisa semakin berkurang atau bisa ditekan. Sekali lagi, ini adalah PROSES yang panjang.

Buat keluarga kami pribadi, ini bukan berarti anak dibiarkan semaunya.
Sifat impulsif walaupun sulit dan penuh perjuangan (dengan cucuran air mata, I’m telling you!), harus diterima. Tapi anak saya tetap perlu dapet konsekuensi dari tindakannya yang tidak bisa kami terima. Misalnya dia karena impulsif mukul papa, maka dia dapet sanksi (selama ini kami sebut hukuman, belakangan istilah ini pun jadi masalah tersendiri, jadi kami berusaha mengurangi penggunaan istilah ini di rumah kami), walopun dia gak sengaja (impulsif).
Seiring berjalannya waktu, anak kami makin ngerti saat muncul impulsnya buat mukul, dan makin bisa mengendalikan (walopun gak selalu ya).

Begitu juga soal kepatuhan.
Saya banyak belajar bahwa buat anak-anak, patuh kepada ortu adalah PERINTAH Tuhan, seperti tertulis dalam Efesus 6:1 dan Kolose 2:20. Dan kepatuhan ideal adalah “right away, all the way, with a merry heart” alias kudu patuh segera, sepenuhnya, dengan sukacita.
Beberapa buku parenting menista (lah, bahasa infotainment :P) metoda hitung 1, 2, 3. Contohnya kalo anak diminta mandi, dia ogah nurut. Kita jelaskan bahwa kita akan hitung sampe 3, kalo dia belom nurut akan ada sanksi. Nah menurut buku2 ini, itu bukan ketaatan yang right away. Not good enough.
Tapi buat anak2 impulsif, impuls/refleks pertama kalo disuruh mandi pas lagi asik main adalah bilang (TEREAK, lebih tepatnya) “NO!!” sambil nerusin main. Ini adalah refleks, gak bisa ditahan.
Nah saat ortu hitung 1, sistem sensorik anak mulai memroses instruksi untuk mandi. Impuls mulai ditahan atau dilawan. Pada saat ortu hitung 2, dia punya pilihan untuk nurut, atau terima sanksi yang akan jatuh di hitungan selanjutnya.
Maka kalo dia MEMILIH untuk ngikutin impuls alih-alih taat, dia dapet sanksi yang pantas buat pilihannya itu. Karena kan sekarang kalo ga patuh bukan lagi ga disengaja, melainkan dengan penuh kesadaran. A sinful choice that deserves correction or penalty.
Secara umum, cara 1-2-3 ini manjur buat kami.

Setiap anak beda. Beda tantangan dan kesulitannya, temperamennya, juga gangguannya.
Setiap ortu juga beda. Beda temperamennya, tingkat kesabarannya, pergumulan dan problema hidupnya pada saat itu secara spesifik dan maupun secara umum.
Cara yang berhasil buat 1 anak&ortu belom tentu berhasil buat anak&ortu lain.
Cara yang dulu berhasil belom tentu akan selalu berhasil. Cara yang dulu gagal mungkin di kemudian hari bisa diterapkan.
Be creative, perhatikan dan cari cara yang paling cocok buat anak Anda di setiap kasus (beda-beda juga sikonnya).

Saya gak setuju sama kutipan yang banyak beredar di BB maupun sosmed, yang ini nih:

Jika anakmu BERBOHONG,itu karena engkau MENGHUKUMNYA terlalu BERAT. 
Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI,itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia SEMANGAT.
 Jika anakmu KURANG BERBICARA,itu karena engkau TIDAK MENGAJAKNYA BERBICARA. 
Jika anakmu MENCURI,itu karena engkau TIDAK MENGAJARINYA MEMBERI. 
Jika anakmu PENGECUT,itu karena engkau selalu MEMBELANYA. 
Jika anakmu TIDAK MENGHARGAI ORANG LAIN,itu karena engkau BERBICARA TERLALU KERAS KEPADANYA. 
Jika anakmu MARAH,itu karena engkau KURANG MEMUJINYA. 
Jika anakmu SUKA BERBICARA PEDAS,itu karena engkau TIDAK BERBAGI DENGANNYA. 
Jika anakmu MENGASARI ORANG LAIN,itu karena engkau SUKA MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAPNYA. 
Jika anakmu LEMAH,itu karena engkau SUKA MENGANCAMNYA. 
Jika anakmu CEMBURU,itu karena engkau MENELANTARKANNYA. 
Jika anakmu MENGANGGUMU,itu karena engkau KURANG MENCIUM & MEMELUKNYA. 
Jika anakmu TIDAK MEMATUHIMU,itu karena engkau MENUNTUT TERLALU BANYAK padanya. 
Jika anakmu TERTUTUP,itu karena engkau TERLALU SIBUK.

Menurut pendapat saya pribadi, ada begitu banyak unfair judgement dan false conviction di sana. Kalo anaknya baik, ortu cenderung jumawa, "itu karena gue ortu yang hebat", kalo anaknya ga sebaik yang diharapkan oleh masyarakat, ortu jadi cenderung menyalahkan diri sendiri. Padahal ortu ga ada yang sempurna, kita udah jatuh dalam dosa. Tuhan tau banget kita berdosa dan will surely mess up, tapi Dia teteuupp kirim bayi2 ke tengah2 umat manusia yang kacrut ini. Because He has a purpose for mankind. Tapi itu topik lain lagi ya, udah ngelantur nih aye... :P

Jadi menurut kutipan di atas, pada dasarnya anak melakukan sesuatu yang jelek itu semata karena didikan ortunya yang salah. Jadi kalo anak suka teriak2, itu akibat ortu suka teriak2in juga.
Nyatanya anak spesial dari ortu yang tunawicara pun cenderung sering teriak2, karena gangguan pematangan emosi dan sifat impulsif atau emosionalnya, apalagi kalo disertai komorbiditas seperti gangguan pendengaran, atau masalah kejiwaan (bipolar saat manik, gangguan cemas, ODD, dll).
Tentu ortu yang sering teriak dan marah membuat anak cenderung mengekspresikan diri dengan LEBIH banyak teriak dan marah, itu tidak saya pungkiri. Tapi ada buanyaaak faktor, bukan hanya teriakan ortunya doang yang bikin anak jadi hobi berteriak.

Katanya anak yang suka marah-marah itu akibat terlalu sering dimarahi.
Ada benarnya. Tapi tidak dimarahi pun anak-anak ini meledak-ledak emosinya, naik turun bak roller coaster. Sebentar depresi mengutuki diri sendiri, sebentar muarah buesar menggoncang dunia, pas emosi ortunya udah kepancing dan belum adem, anaknya udah pindah fokus dan ketawa-ketiwi inget kejadian lucu di skul -.-‘

Anak saya tidak pernah nonton sinetron maupun film-film, selain beberapa film dokumenter hewan2 (itu pun disaring dengan ketat dan frekuensinya dijatahin), gak pernah juga dicontohin ortunya begini, tapi waktu tantrum pernah sampe teriak2 minta dibunuh. Ini kejadiannya di tempat umum. Oh what a scene... >_<  (FYI, penyebabnya sepele sampe saya lupa, mungkin cuma makanan sarapan yang tumpah, or something. Kadang2 tantrumnya tanpa sebab loh. Seriously! Life’s so crazy sometimes...)

Jadi intinya pola asuh, terapi, dan obat bisa membantu anak-anak spesial buat mengatasi banyak masalah koordinasi, pengelolaan emosi, dll, tapi gak menghilangkan gangguan yang ada.

Untuk pola asuh dan terapi, biasanya perlu konsultasi ke psikolog dan terapis.
Untuk obat, Anda harus bawa anak Anda konsultasi ke dokter, yaitu psikiater alias dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (SpKJ) atau neurolog alias dokter saraf (SpS), lebih bagus lagi yang secara khusus menangani anak (ambil subspesialis seperti psikiatri anak atau neuropediatri).

Perlu Anda ketahui, para psikolog, terapis dan dokter pun punya aliran yang berbeda-beda. Psikolog pada umumnya suka pake pendekatan pola asuh, terapis suka pendekatan terapi, dokter ada yang suka pendekatan herbal/diet/suplemen, atau farmakoterapi alias ngasih obat.
Selain itu, programnya juga beda-beda, ada psikolog yang suka pake program X dari luar negri (sampe ikut kursusnya, punya sertifikat, segambreng buku dan program aliran tersebut), ada yang suka pake program Y, ada yang suka menyesuaikan dengan sikon ortu (individualized), daaaan lain-lain. Begitu juga dokter.
Sepanjang pengetahuan saya sih gak ada standar tertentu. Rumit? Banget.

Jadi gimana dong nentuin kita musti pilih yang mana?

Sayangnya, gak ada cara lain selain terapi empiris (sekali2 bergaya pake bahasa medis, jangan bahasa alay mulu wkwkwkw....), alias TRIAL AND ERROR.

Yaitu dengan penuh perjuangan Anda berdoa, minta Tuhan buka jalan, and somehow entar Anda akan liat beberapa jalur yang akan Tuhan bukakan. DICOBA AJA, dengan bimbingan Tuhan dan kesepakatan dengan suami/keluarga dan pihak2 yang terkait, sambil mempertimbangkan kemampuan Anda (fisik, mental, maupun finansial).

Lah trus gimana cara tau mana yang cocok mana yang engga?

Percaya sama saya, kalo Anda amati dan ikuti perkembangan anak Anda, Anda akan tau sendiri mana yang cocok dan mana yang engga. Pelan-pelan Anda akan tau sendiri mana saran2 yang realistis buat sikon Anda dan mana yang terlalu muluk-muluk. Anda akan belajar mana yang bisa Anda terapin, mana yang engga, mana yang ngefek, mana yang engga.

Kalo Anda ketemu jalan buntu, jangan patah arang. Balik arah, dan coba jalur lain.
Melelahkan? Wah, superrrr melelahkan.
Ngabisin duit? Tentunya.
Butuh waktu dan kesabaran? Pasti. Gak bisa instan liat hasilnya.
Meskipun kita terbirit-birit mengejar golden period-nya anak kita, time is merciless. Waktu gak kenal kasihan. Proses tetep harus jalan dulu, baru hasil keliatan, baik itu berhasil atau gak berhasil.

Satu hal, kalo kita udah minta bimbingan Tuhan, Dia GAK AKAN TINGGAL DIAM.

“Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” Ulangan 31:8

Apa orang yang dibimbing Tuhan gak akan nemu jalan buntu?

:)
Kalo kita nemu jalan buntu pas dibimbing sama Tuhan, berarti jalan buntu itu PERLU buat kita. Tuhan kita adalah penggemar proses. Dia lebih mentingin proses daripada hasil. Proses yang Dia ijinkan akan memberikan hasil sesuai yang Dia rencanakan.
Nemu jalan buntu atau nemu jalan tol, kita semua udah punya jatah kita masing-masing.
Jangan liat anak si A ke psikolog Anu atau dokter Itu terus langsung baek, sedangkan anak si B ke para ahli yang sama kok gak baek-baek.

Jangan terus nge-judge: ortunya kurang perhatian kali, atau anaknya parah banget. Those are hurtful! Walopun cuma di pikiran, tolong buru-buru dihapus ya. Karena apa yang kita pikirkan itu tercermin dalam perkataan dan sikap kita.

Tuhan punya proses berbeda buat setiap anak-Nya, baik buat ortu anak spesial, maupun buat anak spesial itu sendiri. God in His sovereignty and wisdom, has His own ways.
Seluruh proses ini akan Tuhan pake buat membentuk kita, menggenapi maksud dan rencana-Nya buat hidup kita dan anak kita, juga buat dunia di sekitar kita.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55:8

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29:11


So, kembali ke poin utama nomer 4, walopun secara teoretis dan manusiawi gangguan ini tidak bisa dihilangkan, tapi sebagian bisa membaik pada saat anak tumbuh dewasa.
Pada ADHD, katanya sih 70% anak membaik pada saat usianya remaja. Amiiinn....
Membaik ya, bukan menjadi neurotypical (kecuali Tuhan mau, ga ada yang mustahil buat Tuhan).
Yang terpenting adalah si anak (dan keluarga) belajar BERDAMAI dengan keunikan dan kesulitannya, nemu cara buat bisa menjalankan fungsi sesuai dengan yang digariskan oleh norma-norma hidup sehari-hari, meskipun dalam beberapa hal mereka tetap  berbeda dengan orang-orang kebanyakan.

Beberapa anak membaik dengan terapi (sensori integrasi, Applied Behavioral Analysis/ABA, terapi perilaku, terapi okupasi, terapi wicara, daaaan lain-lain), ada yang membaik dengan pola asuh tertentu, ada juga yang perlu minum obat.

Soal obat, ada ortu yang pro, ada yang kontra.
Obat dasar ilmiahnya adalah memperbaiki fisiologi neurotransmiter di lobus prefrontal (yaitu dopamin) yang berfungsi buat mengatur perilaku, perhatian, emosi, dan lain-lain (rumit dah, saya gak begitu mendalami dah :P).
Obat biasanya diberikan buat anak-anak yang gejalanya gak membaik dengan terapi atau pola asuh, dan bersifat destruktif buat si anak atau keluarganya. Anak-anak yang terlalu impulsif atau hiperaktif sering punya banyak masalah di sekolah dan masalah dengan orang-orang di sekelilingnya. Orang banyak yang susah menerima atau bahkan benci, sering dihukum di sekolah, dll, sehingga biasanya anak-anak ini semakin gede malah semakin tertekan. Waktu TK sih problemnya belum terlalu kentara, soalnya temen2nya kan juga sama-sama pada aktif dan susah diatur. Tapi mulai SD, di saat teman2nya udah makin mateng secara emosi dan kemampuan bina dirinya udah berkembang dengan baik, anak-anak spesial masih kesulitan. Jadi mereka sering dilabeli anak nakal, malas, bodoh, dll.
Kalo problem psikologis udah mengkhawatirkan, obat bisa membantu mereka berfungsi lebih baik, khususnya di luar rumah, sehingga problem psikologis bisa diminimalisir.
Kalo problem psikologis yang udah muncul ini dibiarkan, nantinya waktu anak udah mencapai tingkat kematangan usia dan gangguannya mulai membaik, justru problem psikologisnya ini yang bisa2 udah lebih parah.

Oke deh, stop dulu, udah kepanjangan.
Bersambung....

Tuesday, April 8, 2014

Emosi

Konon, kata teori, anak-anak dengan ADD/ADHD tuh kebanyakan ngalamin keterlambatan perkembangan emosi. Keterlambatan itu cukup besar, sampe-sampe kematengan emosional seorang anak ADD/ADHD tuh sesuai dengan dua pertiga umur biologisnya. Artinya, kalo anaknya berumur 6 tahun, kematangan emosinya sesuai dengan anak umur 4 tahun.
Kalo anaknya berumur 15 tahun, kematangan emosinya sesuai dengan anak umur 10 tahun.
Saya lupa baca di mana soalnya udah lama :P

Taun-taun kemaren sih saya kerasa banget betapa susahnya si D mengontrol emosi. So far kayanya the worst year tuh waktu dia kelas TKB alias K2, yaitu taun lalu (sekarang si D udah kelas 1 SD).
Waktu TKA, temen-temen sekelasnya rata-rata masih sama, pada blingsatan, rentang perhatiannya pendek, susah fokus, gampang emosi, dan lain-lain. Pokonya mirip-mirip lah sama si D, gak beda jauh.
Masuk TKB, temen-temen sekelasnya pada berkembang, jadi lebih bisa fokus, rentang perhatian lebih panjang, masih blingsatan tapi mendingan hehehe... FYI, saya perhatiin temen-temen seangkatannya si D tuh pada aktiifff-aktiiifff banget, gurunya sendiri yang bilang sama saya. Angkatan yang di bawahnya, yang sekarang TKB, cenderung pada lebih anteng-anteng dibanding angkatannya si D dulu.  Buat saya pribadi ini sesuatu yang saya syukuri, soalnya si D jadi “tersamar” gitu perbedaannya hehehe.... Si D jadi cuma sedikit lebih blingsatan, sedikit lebih susah fokus, sedikit lebih heboh dan emosional (hm... bekas guru TK-nya D kalo baca ini mungkin berasa mau muntah kali ya, secara buat mereka bedanya lebih dari sedikit wkwkwkw...)

Seiring berjalannya waktu, temen-temennya makin mateng pola pikir dan emosinya, sementara si D yah berkembang juga, tapi lebih lambat. Seperti perhitungan usia emosional versus usia biologis di atas, perhatiin deh, semakin nambah umur si anak, semakin gede “gap” atau selisih antara umur emosional sama umur biologis. Artinya, makin nambah umur, anak-anak spesial akan semakin jauh dan lebih keliatan kelambatan perkembangan emosionalnya.
Sementara temen-temennya udah lebih mahir problem solving, si D masih berkutat dengan rasa frustrasi kalo ketemu problem, dan gak jarang teriak penuh emosi pada waktu frustrasi, atau throw a tantrum. Dengan pikirannya yang kurang fleksibel, si D juga rendah toleransinya pada saat main sama teman. Jadi misalnya kalo main lego barengan di kelas, kalo ada anak yang ambil legonya si D, dia bisa marah besar.  Pola pikir yang kaku juga bikin dia super duper peka sama “kesalahan” orang lain. Gak ada istilah “cincai lah...” buat si D. Everything is black or white, and has to be black or white. He wouldn’t settle for grey. Sekarang sih mendingan lah, dia mulai bisa nerima abu-abu, walopun masih ngotot nanya itu abu-abu tua (cenderung hitam) or abu-abu muda (cenderung putih) hahahah.....

Sampe umurnya menjelang 6 tahun, setiap mau jemput D pulang sekolah, hati saya kebat-kebit. Kadang saya bercanda sama my best friends, kalo bisa mah masukin sekolah asrama aja gitu ya, saking tertekannya saya sama urusan “afterschool mood” :P  Setiap pulang sekolah, si D bisa tantrum di mobil sekitar 2-3 kali lah dalam seminggu (6 hari sekolah). Kalo dalam seminggu cuma tantrum sekali berarti itu my lucky week. My unlucky week pernah deh 4 tantrum dalam seminggu. Kalo si D dijemput dengan senyum hepi di mukanya, saya tandain tuh kalender di rumah, buat reminder wkwkwkw.... Smile pada saat dijemput ibarat menang door prize, gak nyampe sebulan sekali. Thank God masa-masa itu udah berlalu ^___^
Sekarang masih ada sih sekali-sekali bete berat di mobil, especially kalo hari itu si D bertengkar ama best friend-nya, atau dapet hukuman yang menurut dia ga adil, dll.  Tapi frekuensi dan intensitasnya udah jauh berkurang. Thank God pisaaann!!!

Dalam hal social skills, si D terbilang OK sih. Dia suka banget berteman, dan gampang banget make friends. Misalnya lagi main di arena manjat-manjatan di mall gitu, dia selalu nemu temen yang dia ajak kenalan, bisa tau dari namanya, umurnya, sekolahnya kelas berapa, agamanya apa (pertanyaan favorit si D, entah kenapa, dia selalu butuh tau agamanya seseorang, pengen tau posisi tangan orang itu kalo berdoa gimana: lipat tangan, tangan menadah ke atas, atau ngatup di depan dada, wkwkwkw....), sampe keterangan random seperti jumlah giginya yang ompong atau suka enggaknya temennya itu makan junk food.

Tapiiii.... hasrat membara dalam dadanya untuk berteman gak sebanding sama kemampuannya menolerir kelakuan temen atau pilihannya temennya.
So, buat berteman jangka pendek kayak di play arena mall sih no problem.
Buat berteman jangka panjang kayak di sekolah itu yang sedikit problem.
Kalo ada temennya yang gak mau sharing misalnya, buat si D itu masalah besar. Kalo temennya gak mau diajak main petak umpet, si D cenderung maksain kehendaknya. Kalo temennya pungut barang dari lantai atau tempat sampah, wuidih si D bisa ribuuuttt teriak-teriak, karena buat dia itu JUOROK banget. Dia gak bisa cuek.  Kalo ada temen makan junk food misalnya, dia bisa heboh banget nge-judge, karena buat dia makan junk food itu NOT GOOD.

Salah satu contoh yang bikin saya geleng-geleng kepala adalah soal instruksi guru. Misalnya guru ada perlu ninggalin kelas, demi menjaga ketertiban, guru kan suka bilang, “Semua harus tetap di kursinya masing-masing ya, yang berdiri atau jalan-jalan akan dicatat namanya oleh ketua kelas, nanti Pak Guru hukum.”
Nah pikiran si D yang super saklek (kaku) itu NYEREP instruksi guru sampe titik koma plus intonasinya!  Walopun dia bukan ketua kelas, dia dengan penuh tanggung jawab melaksanakan instruksi guru. Begitu ada temen yang berdiri sedikiiittt aja, si D langsung heboh negur. Namanya anak kelas 1, kalo kebetulan watak anaknya emang tidak kalem, dia ga bakal terima dong ditegur, soalnya si D bukan ketua kelas, dan juga karena “guru kan gak liat...” atau karena dia perlu berdiri sedikit hanya untuk ambil barang doang.
Nah kalo temennya gak terima ditegur, si D bisa tambah naik emosinya, tambah keras negurnya, daaann... become distracted dan ilang fokus sampe dia sendiri lupa buat tetap di kursinya, berdiri and jalan2... -.-‘
Pas guru balik ke kelas, jreng... jreng... yang terlihat adalah si D lagi berkeliaran dan teriak2 marah. Alhasil yang dihukum si D dong, berdiri satu kaki sambil dua tangan pegang telinga.  Temen yang tadi berdiri mah gak dapet hukuman, karena yah berdirinya juga cuma sedikit, udah duduk lagi pas guru datang. Pelanggaran kecil yang ga penting, cuma penting di benak si D nan rumit itu......

Adegan sejenis ini beberapa kali terulang, dengan detail yang berbeda-beda.
Jangan salah, saya MENDUKUNG PENUH guru menegakkan disiplin. Saya gak pernah protes kalo anak saya dihukum. Sekali dua keberatan sih kalo boleh jujur, tergantung kasusnya, tapi ya udahlah, gak ada sistem atau sekolah atau guru yang sempurna ya, cincai lah... :)

Saya selalu tekankan sama si D, bahwa di atas dia tuh selalu ada otoritas dan dia wajib tunduk sama otoritas itu. Otoritas tertinggi di segala tempat dan waktu tentu aja Tuhan, tapi di rumah, orangtua adalah otoritas kedua di bawah Tuhan, orangtua adalah wakilnya Tuhan. Di sekolah, otoritas tertinggi setelah Tuhan adalah guru.

Yang tricky adalah: si D demen TESTING, artinya ngetes (ngapain saya jelasin ya, wkwkwk...).  Dia suka ngetes apa yang akan otoritasnya lakukan kalo dia berbuat A, B, C, dst.  Kalo otoritasnya dia rasa “lulus tes”, si D akan lebih mudah tunduk.
Dengan kata lain, YOU HAVE TO EARN D’S RESPECT.
Susyeh binti rumit lah pokonya... bertahun-tahun saya en papanya D berjuang jungkir balik, jatuh bangun, banting tulang, jepit.... tahan.... (loh kok jadi senam wkwkwkw.....) untuk memenangkan D’s respect and whole-hearted obedience.
Dengan menimbulkan judgment yang ga enak, dan tentu sajah dengan kekurangan di sana-sini, dengan segunduk pengorbanan.
Belum bisa dibilang berhasil lah ya, secara perjalanan masih panjang. Tapi dalam beberapa hal sih hasilnya mulai keliatan. Ibarat nanem biji cabe, mulai bertunas, cuma masih perlu diliat, itu beneran tunas pohon cabe atau rumput liar heheheh...

On the heavier note, sekali dua pernah juga ngalamin dipanggil ke sekolah gagara komplen ortu yang anaknya di-“zholimi” sama si D.
Sekali waktu pernah juga di sekolah minggu si D berkelahi sama temennya, sampe temennya luka berdarah >_<
Sampe stres saya menanti2 apa yang akan terjadi... surprisingly, gak ada yang terjadi. Saya ke guru sekolah minggunya, tapi gak ada komplenan apa2 tuh, thankfully...

Yah begitulah suka dukanya jadi ortu kali ya...
Penting buat tau cara ngatasin stres dan unhealthy guilt buat urusan2 yang gak menyenangkan. Salah satunya adalah dengan mereview seperti yang baru aja saya lakukan, sepanjang 3 halaman ini hehehehe....
Ngeliat segala perkembangan dan kemajuan, kasih setia dan kemurahan Tuhan, bener2 bikin saya back to focus. Mawas diri dan memperbaiki diri, dan terus bertekun, maju terus, pantang mundur. :)

Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu,
supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.
Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami,
seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.
Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, 
dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka.
Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami,
dan teguhkanlah perbuatan tangan kami,
ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.
Mazmur 90:14-17