Showing posts with label christianity. Show all posts
Showing posts with label christianity. Show all posts

Saturday, July 4, 2015

Terpanggil


Hidup adalah sebuah perjalanan.
Hidup kami adalah milik Tuhan. Karena itu, hidup kami menjadi sebuah perjalanan menggenapi tujuan (purpose) yang sudah Tuhan rancangkan bagi kami.

Setiap anak Tuhan adalah anggota tubuh Kristus, dengan tempat dan peran yang berbeda-beda.  Allah dengan segala hikmat-Nya memanggil dan menempatkan anak-anak-Nya ke tempat mereka masing-masing. Dengan atau tanpa persetujuan mereka. Sengaja atau tidak disengaja.

Tentu setiap anak-Nya diberi-Nya kehendak bebas, untuk memilih apakah mereka bersedia atau tidak bersedia mengambil perannya masing-masing. Dalam kedaulatan-Nya, ke-mahakuasaan-Nya, dan jalan-jalan-Nya yang tidak dapat terselami oleh pemikiran manusia, segala rancangan-Nya terwujud, tanpa kecuali dan tanpa keliru, walaupun banyak anak-Nya tidak bersedia memenuhi panggilan mereka.

Melayani Tuhan memang dapat dilakukan di mana saja, melalui pekerjaan apa saja, bahkan pekerjaan duniawi sekali pun. Medan yang “sulit” tidak serta merta menjadikan sebuah pelayanan lebih berkenan kepada Tuhan. Posisi yang tidak menyenangkan tidak otomatis menjadikan pelayanan itu lebih bernilai di mata Tuhan. Seperti halnya tubuh memerlukan begitu banyak sel berbeda untuk dapat berfungsi dengan baik, demikian juga tubuh Kristus memerlukan banyak orang berbeda untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Sebagian dipanggil untuk menjadi pemimpin, sebagian lainnya bertekun melayani di grass root, mungkin kepada satu dua orang saja. Sebagian dipanggil untuk melayani di kota besar, sebagian lainnya di pedalaman. Sebagian dipanggil untuk bersaksi di mimbar gereja, sebagian lainnya bersaksi di posyandu atau pos hansip. Di rumah sakit, kantor pemerintah, perusahaan besar maupun warung kecil, semua menjadi bagian dari satu tubuh Kristus.

Lalu mengapa kami memutuskan untuk melayani di kota kecil ini, sebut saja Skg?

Seperti syair lagu “Tanah Airku”:

meskipun banyak negeri kujalani, 
termasyhur permai dikata orang, 
tetapi kampung dan rumahku, 
di sanalah kurasa tenang

demikian juga kami selalu merindukan kampung halaman dan keluarga besar. Ada rasa bersalah yang tidak terkatakan jika berada jauh dari keluarga saat kehadiran kami sangat diperlukan. Ada kepedihan saat kami berusaha menghibur anak kami yang merindukan sepupu, kakek atau neneknya. Ada rasa kesepian, ada pula kesusahan saat bantuan sangat dibutuhkan.
Kampung halaman menawarkan rasa nyaman istimewa yang tidak dapat ditawarkan oleh tempat lain di dunia.

Tapi hidup bukan tentang kenyamanan, bukan tentang keinginan, bahkan bukan tentang kebahagiaan.

Hidup adalah perjalanan menggenapi tujuan.

Apakah tujuan Tuhan bagi kami?

Terus terang kami sendiri belum yakin. Karena kami belum tiba di tujuan akhir.
Setelah berbulan-bulan bergumul, berdoa, bertanya-tanya, dan didoakan oleh banyak orang, kami merasa Tuhan memanggil kami ke Skg.

Go where the need is greatest.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7:13-14

Bukan, bukan berarti pilihan lain akan menuju kebinasaan. Bukan juga artinya orang yang memilih jalan berbeda akan menuju kebinasaan. Ayat ini bagi saya pribadi berbicara tentang tidak menjadikan kenyamanan sebagai dasar untuk memilih.
Instead of staying in comfort zone, go where the need is greatest.

Maka kami pun sepakat memilih Skg.
Sebuah kota kecil yang tidak menjanjikan kelimpahan materi.
Dan tidak terlalu dekat dengan kampung halaman.
Sebuah rumah sakit yang sangat membutuhkan kehadiran SpAn.
Dan beberapa kesempatan melayani, baik keluarga, teman, pasien, para hamba Tuhan.

Sebuah pilihan yang sungguh tidak mudah. Khususnya jika mempertimbangkan perasaan orangtua kami, dan tawaran pekerjaan lain yang dengan berat hati harus kami tinggalkan.
Namun, firman Tuhan berkata, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”, Amsal 16:9. 

Tuhan memanggil kami, maka kami turut.

Friday, May 1, 2015

"Apakah Engkau Mengasihi Aku?"

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepadanya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus pula kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Yohanes 21:15-17

Sejak dulu, baca perikop ini bikin saya mengernyit. Ga ngerti kenapa Yesus kudu mengulang pertanyaan ini sampe 3x. Ga terlalu ngerti juga kenapa Petrus musti sedih denger pertanyaan ini. Saya kirain karena alasan yang personal: Petrus yang abis menyangkal Yesus 3x, diminta ngulang pernyataan kasihnya kepada Yesus 3x juga. Di Alkitab segala yang 3x itu biasanya penting.

Minggu lalu saya dapet pencerahan. Pencerahan yang cerraaahhh banget,
dari aplikasi Renungan Harian di HP android (e-RH), tanggal 16 April 2015, ditulis oleh bapak Hiendarto Sukotjo.

Ternyata, dalam pertanyaan Yesus yang pertama, kata kasih yang dipake adalah AGAPE, atau kasih tanpa syarat yaitu “mengasihi walaupun”.
Dan dijawab oleh Petrus dengan kata PHILEA, atau kasih bersyarat yaitu “mengasihi jikalau”.
Pertanyaan Yesus yang kedua masih menggunakan kata AGAPE, dan lagi-lagi dijawab oleh Petrus dengan PHILEA.

Petrus berbeban berat dengan rasa bersalah karena telah menyangkal Yesus. Padahal sesaat sebelum Yesus ditangkap, Petrus berkata bahwa dia rela memberikan nyawanya bagi Yesus (Yohanes 13:37).
Petrus menjawab dengan philea, karena merasa belum mampu mengasihi Tuhan dengan kasih agape.

Tuhan pun paham.
Pada pertanyaan-Nya yang ketiga, Yesus bertanya menggunakan kata PHILEA.
Yang kemudian dijawab Petrus juga dengan PHILEA.

Sekarang saya mengerti mengapa Petrus menjadi sedih saat mendengar pertanyaan Yesus yang ketiga.
Ngebayanginnya aja udah bikin hati “nyeesss...”, terharu banget.

DIMAKLUMI dan DIPAHAMI, terlebih lagi DITERIMA APA ADANYA itu dahsyat rasanya.

Setelah Petrus menyangkal Yesus, dia kembali ke profesi lamanya sebagai nelayan. Perikop di atas terjadi pada saat Yesus menampakkan diri untuk ketiga kalinya, yaitu kepada Petrus dan beberapa murid lain yang sedang menangkap ikan bersama Petrus. Adegan yang terjadi persis sama dengan adegan ketika Petrus pertama kali bertemu Yesus: mereka mencari ikan semalaman tetapi tidak mendapat seekor ikan pun, kemudian Yesus menyuruh mereka menebarkan jala di sebelah kanan perahu, lalu jala mereka menjadi sangat penuh dengan ikan sampe susah ditarik.
Déjà vu.

Hampir sama dengan Petrus, Yudas Iskariot juga mengkhianati Yesus. Tetapi kisah Yudas berbeda:

Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka: “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!” Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. (Matius 27:3-5)

:(

Petrus dan Yudas sama-sama menyesal, dan sama-sama didera rasa bersalah yang tak terlukiskan. Petrus berusaha coping dengan cara bekerja, kembali menjadi nelayan, sambil tetap berkumpul bersama beberapa murid yang lain. Sedangkan Yudas tenggelam dalam rasa bersalah, tidak berani mendekati murid-murid lain, tidak berani bertobat, merasa tidak layak diampuni, dan memilih jalan pintas dengan bunuh diri.

Apakah kelemahanmu membuatmu patah semangat?

Apakah iblis sering mengungkit masa lalumu yang kelam untuk membuat kamu merasa tidak pantas melayani Dia, tidak layak menjadi pengikut-Nya?

Apakah kamu merasa lemah dan terus menerus terjatuh dalam dosa yang sama sehingga iblis berhasil menipumu untuk tidak usah bertobat lagi karena Tuhan udah bosan mengampuni dan memaklumi kamu?

Apakah kamu kecewa dengan keadaan dunia dan merasa hidupmu tidak berarti lagi?

Apakah dosa seksualmu di masa lalu membuat kamu tidak bisa menikmati keintiman dengan isteri/suamimu dalam pernikahan sah yang sudah diberkati Tuhan?

Atau adakah peperangan batin lain yang kamu perjuangkan siang malam tanpa sepengetahuan orang lain?

Tuhan paham.
Dia bertanya kepadamu dengan PHILEA, bukan AGAPE.
Dia menerimamu apa adanya, sinful and all.
Dia paham bahwa kita berdosa dan lemah.
Pengampunan yang Dia sediakan TIDAK TERBATAS.

Ingat apa pesan Tuhan kepada Petrus setelah Dia bertanya?
“Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Tugas yang begitu penting Tuhan percayakan kepada Petrus.

Lalu apakah yang Petrus lakukan?
Lalu Petrus pun mengasihi Tuhan dengan AGAPE.

Saat Petrus menjawab Yesus, 3x dia hanya mampu menyebutkan philea. Tetapi sepanjang sisa hidupnya, Petrus menjalankan tugasnya menggembalakan domba-domba Tuhan. Malah di akhir hidupnya Petrus menjadi martir, mati disalib seperti Yesus, bahkan dalam keadaan terbalik, karena dia merasa tidak layak disalibkan dengan cara yang sama seperti Tuhannya.

Petrus DIMAMPUKAN untuk mengasihi Tuhan dengan AGAPE.

Roh Kudus yang sama juga ada di dalam hidup kita, para pengikut Yesus di masa kini.
Kuasa-Nya masih sama dahsyatnya, juga akan memampukan kita untuk melakukan apa yang kita pikir tidak mampu kita lakukan.

Karena “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

***

Catatan:

Di Alkitab bahasa Indonesia dari LAI maupun bahasa Inggris versi King James, kita gak bisa lihat perbedaan kata kasih yang dipake dalam ketiga pertanyaan Yesus.

Di Alkitab bahasa Inggris versi Young’s Literal Translation, kasih agape disebutkan dengan kata “LOVE” dan kasih philea disebutkan dengan kata “DEARLY LOVE”, jadi keliatan bedanya.

Setelah Petrus menjawab dengan philea, Yesus juga 3x berpesan, “Gembalakanlah domba-domba-Ku”, yang dalam versi Young’s Literal Translation ketiganya juga dibedakan dengan kalimat “Feed my lambs”, “Tend my sheep”, dan “Feed my sheep”.
Kalo untuk bagian ini saya ga punya penjelasan, jadi yang bisa menjelaskan tentang ini, please do share with us ya ;)

Sunday, April 26, 2015

Walau Ku Tak Sempurna

Beberapa bulan belakangan ini self-value/self-image saya lagi di titik nadir. Iblis rajinnya kebangetan nyerangin saya. Kreatifnya juga bukan main, segala hal besar maupun kecil bisaaa aja ujung-ujungnya ke sana.

Inikah rasanya krisis sepertiga baya? (Kembarannya krisis separuh baya)
@_@

Lagi galau bin frustrasi, waktu saat teduh saya
dapet ayat ini:
Psalm 35:3: Say unto my soul, I AM thy salvation.

Saya sangat diberkati oleh ayat ini dan pembahasannya, sampe-sampe dapet enlightenment yang bikin saya breakthrough. God is so awesome. Betapa banyak hal-hal kecil yang tampaknya gak berarti ternyata jadi puzzle pieces yang sangat signifikan di tangan Tuhan.

Saya pake aplikasi Alkitab berbagai versi di HP android, dan di dalamnya ada beberapa bahan saat teduh. Salah satunya ya yang saya bahas ini. Sama sekali gak ada keterangan apa-apa tentang penerbit maupun penulisnya, jadi saya cuma bisa kasih info bahwa bahan saat teduh ini berbahasa Inggris dan bahasanya rada-rada antik-puitis-rumit gitu, saya sering gak ngerti :P

Anyway, di Mazmur 35 ini ceritanya raja Daud lagi perang, dan dia berdoa kepada Tuhan, meminta supaya Tuhan mengingatkannya, bahwa Dia adalah keselamatan Daud.

Sobat saya Sarah Eliana pernah membahas nama yang Tuhan pake buat memperkenalkan Diri untuk pertama kalinya kepada Musa, yaitu YHWH atau Yahweh atau dalam bahasa Inggris I AM. Baca tulisannya yang bagus banget di http://www.sparrows-rubies.blogspot.com/2014/11/sebelum-abraham-ada.html

Saya takjub karena Mazmur 35:3 dalam bahasa Inggris juga menggunakan frase “I AM”, yang menggambarkan TUHAN Allah yang Mahadahsyat yang menjadi keselamatan Daud, sebagai encouragement yang Daud minta dari Tuhan.

Pertanyaannya, KENAPA Daud berdoa seperti itu?

Karena Daud RAGU.

Raja Daud yang disebut sebagai “a man after God’s own heart” atau “berkenan kepada Tuhan”, yang nulis ratusan mazmur, puisi dan nyanyian buat Tuhan, yang sedih maupun senang selalu nyari Tuhan, marah pun dia curhat sama Tuhan, dan salah satu raja terbesar yang pernah ada di Israel, bisa ragu-ragu juga ya?

Somehow penyingkapan ini menyentuh hati saya. Daud aja bisa (dan boleh) ragu-ragu, apalagi saya.... Wah saya sering bukan cuma ragu-ragu, tapi juga down, putus asa, bermuram durja, negative thinking, marah-marah gak jelas, bete, dan seterusnya. (Stop sebelom terbuka aib lebih lanjut :P).

Doubt doesn’t make us less christian.
Keraguan Daud gak bikin Daud kurang berkenan kepada Tuhan.
Demikian juga kelemahan atau sifat jelek saya gak membuat nilai saya berkurang di mata Tuhan.

Tuhan sudah memberikan Roh Kudus di dalam diri kita orang percaya. Roh Kudus memberi kita kuasa Ilahi. (Baca tentang Roh Kudus di sini, tulisan ini mencerahkan pemahaman saya.)

Kuasa ini bukan kemampuan supranatural buat gagah-gagahan membalas orang jahat, atau membela diri dari orang jahat. This divine power is the power that enables us to PERSEVERE in hardship, to TESTIFY God’s grace even in my worst moments, to stay FAITHFUL in my weakness, and so on.

That’s why although I am in my worst condition, the Holy Spirit enables me to respect my husband as God commanded. Jadi mestinya meskipun lagi bete berat, saya gak jawabin suami/anak dengan judes binti ketus :P Bukan karena saya wanita yang oh sungguh saleh, tapi karena Roh Kudus akan memampukan saya, ASAL saya memilih untuk merespon dengan benar.

Although I’ve been misbehaving, I am still able to bless the poor and help the needy, because of the Holy Spirit.

Jadi, jangan ketipu tuduhan iblis seperti:

“Ah sifat jelek kamu muncul lagi, Tuhan kecewa kali ya...”

“Suami mustinya ngerti kalo kamu lagi bete, mending diemin aja dia daripada ntar jadi ribut...” *plus paket bisu tujuh hari tujuh malem*

“Did you just lose your cool again? Your poor daughter, she’ll follow your angry style...”

“Ngapain berbuat baik di luar kalo di rumah jadi batu sandungan. Munafik....”

My bad behaviour may not please God, but it doesn’t make Him love me less.
I may be misbehaving this morning, but it doesn’t mean I cannot do good and loving things or serve the poor and the needy.
Screw the devil, none of us is perfect! And being imperfect shouldn’t stop us from doing His will, or serving His purpose.

Allah mengasihi kita bukan karena kita layak dikasihi, tapi karena itu emang sifatnya Dia.
“Karena Allah adalah kasih “ (1 Yohanes 4:8)

“Roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41, Markus 14:38)

Makanya di dalam diri kita, selalu ada peperangan batin. Roh yang penurut ingin kita melakukan yang benar, sesuai yang diajarkan Roh Kudus kepada kita. Tapi daging kita yang lemah bikin kita susah melawan kecenderungan-kecenderungan kita yang jahat. “...di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” Roma 7:18-20

“Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.” Mazmur 103:14

Tuhan tau kita ini debu, Dia tau kita bakal jatuh bangun. So, kalo jatuh, ga usah putus asa. Yuk bangun lagi, biar kondisi lagi jelek, mari kita memilih merespon dengan benar, seperti yang Roh Kudus gerakkan di dalam diri kita, karena Roh Kudus juga yang akan memampukan kita.

Monday, March 9, 2015

Elia dan janda histeris :D


Tempo hari saya baca firman Tuhan di 1 Raja-raja 17:7-24, kisah tentang Elia dan janda di Sarfat. Kisah yang terkenal ya. Sang Janda yang 2x dapat mujizat karena iman dan ketaatannya.
Atau benarkah begitu?

Cerita ini terjadi pada waktu bencana kekeringan dan kelaparan melanda Israel selama 3,5 tahun. Di awal masa kekeringan, Elia kabur dari raja Ahab yang jahat, dan tinggal di tepi sungai Kerit, di mana Elia secara ajaib dipelihara Tuhan dengan cara dibawakan makanan oleh burung-burung gagak. Selang beberapa waktu, sungai Kerit pun kering, dan Elia disuruh Tuhan pergi ke Sarfat, Tuhan bilang dengan jelas bahwa Dia sudah memerintahkan seorang janda untuk memberi Elia makan (ayat 9).  Anehnya, di ayat 12 setelah Elia meminta diambilkan minuman dan makanan, janda itu kok jawabnya gak kayak orang yang udah nerima perintah dari Tuhan ya. Dia ini gak paham, enggan nurut atau pura-pura gak tau? Malah pake bilang mau mati segala.

Setelah Elia bilang bahwa persediaan tepung dan minyaknya gak akan pernah habis sampai hari Tuhan menurunkan hujan ke Israel lagi, barulah wanita itu nurut.  Saya curiga (sifat buruk yang gak patut ditiru ya, pemirsa... hahaha) dia ini nurut beneran karena beriman dan terinspirasi dan takjub karena udah menerima janji Tuhan, atau karena penasaran mau membuktikan bener apa enggaknya omongan Elia. Kelaparan udah sedemikian parahnya sampe nyawa udah terancam, gak ada ruginya mengorbankan segenggam tepung dan minyak terakhir, kalo tarohannya adalah persediaan tepung dan minyak yang tidak akan pernah habis! Wow banget gak sih kalo sepanjang kekeringan dan kelaparan dia punya persediaan yang gak bisa habis?!

Dan setelah wanita itu melakukan bagiannya (taat memberikan tepung dan minyak alias makanan terakhirnya kepada Elia), maka Tuhan pun melakukan bagian-Nya dan menepati janji-Nya.

Selang beberapa waktu, anak wanita itu sakit parah sampe udah berenti napas. Simak gugatan wanita itu kepada Elia di ayat 18: “Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?”
Dalam Alkitab versi King James, kalimat “menyebabkan anakku mati” adalah “to slay my son”, yang berarti wanita itu menuduh kedatangan Elia-lah yang membunuh anak itu.

Bingung saya. Ini wanita yang iman dan ketaatannya sering dipuji dan dikotbahkan, kok responnya gini. Jangan lupa bahwa dia sudah dan masih menikmati mujizat tepung dan minyak yang gak habis-habis. I mean, come on! Di dunia ini cuma ada segelintir orang yang ngalamin pengalaman supranatural yang begitu riil. Bukannya respon yang (menurut saya) lebih wajar adalah tergopoh-gopoh manggil Elia buat sembuhin anaknya? Bukannya bencana itu tempo hari juga udah hampir merenggut nyawanya dan anaknya?

Lagipula dia juga nuduh kedatangan Elia adalah untuk mengingatkan kesalahannya. Apa dia ada dosa tersembunyi dan merasa tertuduh dengan kedatangan seorang hamba Tuhan ke rumahnya?

Kemudian Elia minta supaya anak itu diberikan kepadanya (ayat 19). Keliatannya wanita itu cuma buang muka (hehehe.... yang ini asli bayangan saya doang), gak mau kasihkan anaknya ke Elia, soalnya di kalimat berikutnya tertulis “Elia mengambil anak itu dari pangkuan perempuan itu, ...”. Saya cek di terjemahan-terjemahan lain, keterangannya sama.

Oh beginilah kelakuan wanita yang lagi BETE berat. Iya gak? Kelakuan saya sih iya suka kayak gitu wakakakka.... *ngaku*
Mungkin wanita itu histeris ya, sampe gak terkendali lagi responnya. Bisa dipahami sih, secara suaminya udah meninggal, sekarang anaknya semata wayang (hampir) mati juga.
Sekedar info, kalo di bahasa Indonesia, istilah janda berlaku buat seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya atau bercerai dari suaminya, tapi kalo dalam bahasa Inggris, istilah widow itu khusus buat istri yang ditinggal mati suaminya, kalo cerai itu disebutnya divorced, bukan widow.

Setelah anaknya secara mujizat hidup kembali, wanita itu bilang, “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar.”
Haah? Gak salah nih? Ke mana aja bu...? Bukannya sekian lama disediain makan secara mujizat? Kok baru sekarang dia yakin bahwa Elia tuh beneran nabinya Tuhan dan firman yang disampaikan melalui Elia itu benar. Jadi selama ini dia masih ragu, atau emang gak percaya, atau gimana? Kenapa gak percaya, padahal udah dapet mujizat? Lebih heran lagi, kenapa dapet mujizat kalo gak percaya?
Soalnya kalo saya baca mujizat-mujizat yang dibuat oleh Yesus, sebagian besar mujizat berakar dari iman. Berulang-ulang Yesus bilang “Imanmu menyelamatkanmu.”
Yesus tidak membuat banyak mujizat di tempat di mana iman masyarakatnya kurang: “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” (Matius 13:58)

Janda yang membingungkan...........

Mungkin Tuhan mau ngajarin saya, bahwa dengan segala kelemahannya pun janda Sarfat bisa dipakai oleh Tuhan. Ya, bahkan seorang perempuan tertekan yang histerisan dan berani menggugat Tuhan dan hambaNya sekalipun. A woman at her worst condition and situation.
Jangan lupa bahwa sebelumnya, di awal cerita, ketaatan janda Sarfat kepada janji Tuhan walaupun ternyata masih dia ragukan, patut diacungi jempol.

Satu hal lagi yang saya pelajari, janji Tuhan beneran YA dan AMIN. Bahkan gak tergantung iman atau percaya enggaknya kita. Kalo Dia udah kasih janji, Dia akan genapi, NO MATTER WHAT.
Janji Tuhan dengan memberikan mujizat tepung dan minyak yang tidak habis membawa janda Sarfat melewati bencana kelaparan. Mujizat-Nya yang kedua bahkan Dia berikan meskipun janda itu tidak berespon dengan benar dan masih meragukan Tuhan. Dan kisahnya diabadikan di Alkitab, sampe sekarang, lebih dari dua ribu tahun kemudian, masih menginspirasi kita.

Saya bukannya bilang bahwa kita bakal dapet mujizat dan janji Tuhan meskipun kita gak beriman dan gak berespon dengan bener loh ya... Pakem yang bener adalah iman dulu, baru mujizat turun, seperti yang Yesus bilang.
Yang saya mau bilang adalah bahwa kuasa Tuhan TIDAK BISA DIBATASI oleh respon kita yang gak bener atau oleh ketidakpercayaan kita. Janji Tuhan diberikan buat siapa aja yang Dia mau, orang percaya maupun orang yang belum percaya, dan AKAN DIGENAPI, apa pun yang terjadi.
Hanya alangkah baiknya kalo kita yang udah menerima anugerah-Nya tidak mengeraskan hati, beriman, dan memberi respon yang benar.
APALAGI kalo dapet juga janji dan mujizat! Udah dapet jackpot gitu, kalo masih juga bete dan gak percaya mah sungguh TER-LA-LU. :)

Sunday, December 14, 2014

The Day the World Stopped Spinning

It started and almost ended like any other day.
Right at my last task of the day –helping my boy prepare for bed-, he complained that his leg hurt. As he often falls and scrapes his knees due to his heavy-duty movements, I was ready to dismiss the complaint. Until he came to me to show me the part where he hurt. His right knee. A bump in his right knee. Not a swelling, but a hard lump. A lump the size of a chicken egg. Part of my training as an MD taught me to always compare left and right for physical examination of the limbs, and in this case, the right knee was definitely different from his left. That was quite a disturbing finding. My thoughts went back to my few years of hospital work, when I saw many cases of debilitating illness in children. All of which weighty and disheartening.

With alarming match, the signs pointed to possibility of an unpleasant growth. The hard, dense, fixated, tender mass was awfully suspicious. My heart was gripped with fear.

Now parenthood is unanonimously loaded with worries. Some of which are negligible. You worry when your kid won’t eat, you worry when your kid won’t poop, you worry when your kid has curved legs, and so on.  When your kid bleeds from her nose, you wonder if it is some blood abnormality. When your kid has rash you wonder if it’s haemorrhagic fever. When your kid puke and pass watery stool to the point of dehydration, you wonder if he’s going to survive. Our hearts are no longer in its safe place the moment you are blessed with a child.
Many of those worries don’t make it to reality, of course. Worries are just worries, unpleasant as they are.

But from experience, I knew first hand that some of those worries really did become reality. Or rather, became your worst nightmares.
I have seen parents sat by their children’s hospital beds, holding their helpless little hands. Or helped the nurses take off  yet another sheet full of blood or vomit, or held their beloved little bodies down by force, so that they could get proper treatments.
Some of them mercifully and miraculously got happy endings.
Others had to go home carrying their dead children’s limp little bodies, failed to comprehend why the world outside went on like nothing happened, while their world was falling apart.
I have held a broken mother’s in my arms, crying with her and dumbstruck by her story, “The 4 of us, my husband, myself, my daughter and my son came to this land in a transmigration program. Now only 3 or us will go home. Who would have thought, we came here just to lose our dear son.” All the while, her husband was swaying their dead boy’s body for one last time. The nurses said it already took too long, but I told them to let them be.

So some worries are unreal. But to those who happen to get the actual grave diagnoses, they are very much real.

So what’s the story of my boy’s knee lump?
As I did a little research, reading textbooks, and other resources, my finding seemed gloomy. I really, really hoped it wasn’t a bone mass, because bone masses are rarely benign, especially in children. The age, the gender, the location, all were really suspicious. Now my fear grew significantly more intense.
I fell on my knees before God. All I could do was beg in tears, “Please, Father, no... Please let this cup pass away from me...”  And in a brief moment, somehow I could relate to Jesus’s prayer in Gethsemane. “But Thy will be done, not mine...” this last sentence came with another surge of tears, and less wholeheartedly uttered.

The God that I worship is unmistakably good. But it is His fondness of processes, sometimes seemingly merciless processes, that I often find too daunting for my liking.
Will this be another one of those nerve-wrecking  processes? No....

We decided to take D to evaluation the next day. We prayed and prayed and begged for a good result.
Through X-ray we found out that the lump was not a bone mass. We still don’t know what that is, and we will need further evaluation. But our worst fear has lifted. The cup mercifully did pass away. Thank God.

Many would think that this is just another stupid parental over-anxiety. I had a friend bluntly stated I was beyond exaggerating.
Well I guess one can only see my point if he’s been diagnosed with cancer, or other grave or unexplained illness.

The anxiety seems silly alright. But the consequences are real. The fear of the unknown is also very real.

In this fallen world where anything dire can happen, I choose to see it from a humble perspective: a mere creation’s point of view. A human being who is powerless, vulnerable, and totally dependent upon her Creator’s mercy. Because this perspective allows me to surrender to God’s sovereignty. To entrust the unknown into His loving hands, wisdom, and plans. Plans of peace and not of evil.

Thy will be done.

“For I know the thoughts that I think toward you, saith the LORD, thoughts of peace, and not of evil, to give you an expected end.” Jeremiah 29:11

Thursday, September 11, 2014

Fountain of Joy

Di kota saya, termasuk kecamatan tempat tinggal saya, lagi mati air, karena PDAM lagi ngadain perbaikan. Mustinya air mati selama 4 hari, dari tanggal 10-13 September. Saya yang biasanya suka ketinggalan info, “kebetulan” liat pengumuman di TV tanggal 9 sore. So, sore itu juga panic mode melanda, langsung saya gondol si D pergi ke toko beli gentong air dan ember baru, karena bak mandi rumah saya rada2 bocor, airnya suka berkurang melulu, dan selain bak mandi nan mungil, di rumah cuma ada satu gentong air gak terlalu besar dan 2 ember sajah. Gak punya toren alias penampung air yang segede bagong itu.

Saya kasih tau tetangga dan temen, sapa tau mereka belom dapet infonya. Bener aja, walopun PDAM bilang udah nyebarin selebaran dll, eh tetangga saya belom ada yang tau info ini.
Abis itu saya mulai siapin mental untuk ngirit2 air, dan cuciin segala cucian yang bisa dicuci, mumpung air masih ngalir (padahal biasanya saya tumpukin aje buat dikerjain sama helper harian saya besok pagi heheheh... :P). Syukurnya, tetangga sebrang ternyata ada sumur, dan nawarin air sumurnya buat kalo kami keabisan air, jadi saya ada cadangan.
Sambil berdoa supaya Tuhan cukupin air yang kami perlu, kami pun berharap-harap cemas.

Tanggal 10 pagi begitu bangun, doa n start the day, hal pertama yang saya lakukan adalah nyalain pompa air. Eh, air masih ngalir! So, pagi itu saya cuci-cuci dan isiin lagi ember-ember yang isinya mulai berkurang abis dipake mandi, dll.
Eh, ternyata, sepanjang hari itu, air masih terus mengalir deras, berkurang pun enggak :O
Hm... saya kirain ini PDAM bercanda atau lagi pengen beken ya... :P

Flash back dulu sedikit.

Minggu-minggu belakangan ini cukup berat buat keluarga kami. Ada beberapa masalah datang mendera (cieh, puitis :P), so kami jalanin sehari demi sehari, energi sehari habis buat hari itu. (Ya iyalah, emangnya mau buat berapa hari?)  Maksud saya, beneran gak mikir besok gimana, yang penting bisa lewatin hari ini tanpa berputus asa, itu aja udah bersyukur banget. Letih lesu dan berbeban berat, sampe susah senyum apalagi ketawa.
Tapi saya juga diingetin Tuhan buat bersukacita: “Karena itu kukatakan kepadamu: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan, bersukacitalah!” Filipi 4:4.

Dalam sehari, saya berusaha hitung berkat Tuhan satu persatu beneran, dan berusaha bersukacita dan mensyukuri berkat-berkat itu, besar maupun kecil.
Buat saya, kalo lagi berbeban berat, enaknya ambil buku pujian dan pilih lagu buat dinyanyiin. Bukan apa-apa, soalnya kalo gak pake buku, pikiran saya nge-blank gak ada ide lagu sama sekali.

Ada banyak lagu khususnya hymne/kidung yang selalu sangat menguatkan saya. Salah satunya lagu yang liriknya ditulis sama Fanny J. Crosby, yang judulnya All The Way My Saviour Leads Me atau bahasa Indonesianya Di Jalanku ‘Ku Diiring.
Liriknya sangat menguatkan, saya tulis bait yang paling rhema buat saya aja ya, yaitu bait kedua:

All the way my Saviour leads me; 
Cheers each winding path I tread;
Gives me grace for every trial, 
Feeds me with the living bread;
Though my weary steps may falter, 
And my soul athirst may be,
Gushing from the rock before me, 
Lo! A spring of joy I see,
Gushing from the rock before me, 
Lo! A spring of joy I see.

Di jalanku yang berliku dihiburNya hatiku; 
bila tiba pencobaan, dikuatkan imanku.
Jika aku kehausan dan langkahku tak tetap,
Dari cadas di depanku datang air yang sedap;
Dari cadas di depanku datang air yang sedap.

Dan ngitungin berkat-berkat yang saya terima tuh kayak dapetin tetesan-tetesan air yang menyegarkan.  Saya takjub, betapa tetesan-tetesan air ini bukan “air gampangan” alias air yang emangnya ada dan selalu ada, tapi gushing from rock, atau memancar begitu aja dari batu cadas. WOW banget! Batu ngapain ngeluarin air sih? Batu kan harusnya dialirin air, bukan ngeluarin air.

Tapi satu hal, kok kenapa hati saya susah banget disuruh sukacita ya?
Jadi kagum sama suami saya (dan bangga juga dong, cieeh... :P), yang bisa cerah ceria, nyanyi-nyanyi kanan-kiri walopun lagi susah hati.
Sedangkan saya kalo lagi susah maunya diem melulu bermuram durja. Padahal dah ngitung berkat, dan udah terkagum-kagum sama berkat yang saya terima.
Yah gakpapa lah ya. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit, saya relain hati ngikutin proses yang Tuhan lagi kerjakan dalam hidup saya. Saya rindu sekali suatu hari nanti, bisa punya hati yang penuh sukacita walopun dalam situasi tertekan. Saya minta sama Tuhan, supaya saya bukan cuma disegarkan sama aliran air dari batu cadas, tapi saya bisa BATHE in His fountain of joy. Bukan sekedar basah oleh tetesan berkatNya, tapi BERENDEM dalam pancaran air sukacita.

Nah, sekarang balik ke kisah PDAM dan mati air.
Udah liat benang merahnya kan? Pokonya sambungin aja ya, kisah air sukacita dari Tuhan sama kisah air PDAM #maksa :D

Dan, hari ini tanggal 11 menjelang sore.
Teman-teman, tetangga kanan dan kiri udah mati airnya.
(Ternyata PDAM gak cuma pengen beken :P Maaf ya, PDAM, saya cuma bercanda jangan dimasukin ke hati...)

Tapi air di rumah kami masih mengalir.
Mengalir dengan derasnya.
Yah walopun agak sedikiiiit aja keruh.
Kemarin dulu saya berdoa minta Tuhan cukupin kebutuhan air (yang kami udah tampung).
Saya gak nyangka Tuhan kasih air dengan LIMPAHNYA. Miraculously. Di rumah kontrakan kami gak ada sumur, saban bulan kami bayar PDAM seperti yang lain, pipa air juga sama aja kayak yang lain, gak nambah apa2 dan gak ada beda apa2.

Saya gak ngerti ini air ngalir dari mana.

Oh tunggu, tentu saya tau banget ini air dari Tuhan. :)

His way of saying that He is bathing me with His fountain, albeit fountain of water instead of fountain of joy, yet.
Caranya Tuhan bilang sama saya bahwa Dia merendam saya di dalem pancuran air-Nya, walopun bentuknya masih air beneran belum air sukacita.
Suatu hari nanti, ya Bapa, cultivate in me that joyful heart regardless the circumstances :)


Gemetarlah, hai bumi, di hadapan TUHAN, di hadapan Allah Yakub, 
yang mengubah gunung batu menjadi kolam air, dan batu yang keras menjadi mata air!
Mazmur 114:7-8

Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai. Mazmur 92:4

Monday, August 18, 2014

Princess ala Alkitab

Baru-baru ini, saya ke TB Gramedia, nemu buku princess yg menurut saya baguus banget. Bukunya bilingual, karya Carolyn Larsen, saya punya buku cerita Alkitab untuk anak-anak dari penulis yang sama. Yang saya suka dari penulis ini, cerita2 Alkitabnya walopun dipersingkat dan disederhanakan buat anak2, tapi tetap akurat, nggak diubah2 atau "dibelokin dikit" seperti buanyaaakkkk buku2 rohani anak2 lainnya. Tadinya saya juga gak begitu ambil pusing soal akurat engga nya cerita Alkitab buat anak2, yg penting gak menyimpang, saya kira itu udah cukup. Sampe saya dengar curhat Oma G, misionaris di Serukam yang sangat saya hormati dan sayangi, yang curhat tentang susahnya nyari buku cerita Alkitab yg OK buat cicitnya.

Beliau ngeluh, buku2 cerita Alkitab yang ada di pasaran pada gak ideal. Ada yang kisah nabi Nuh-nya pake ditambahin petir gledek lah, ada yang ceritanya dibikin jadi Alice in Bible Land (plesetan Alice in wonderland).
Haa... saya bengong deh...

Petir gledek saya kirain ga penting heheheh.... Tapi menurut Oma, kalo Alkitab ga sebut soal petir ya gak boleh ditambah2in.
Trus, saya tertempelak juga soal seri Alice in Bible Land, soalnya waktu adek bungsu saya masih kecil dulu, saya sering banget beliin seri ini buat dia baca, ceritanya biar dia kenal Firman Tuhan sejak dini (cieeehh... cici yang baik nih ye... cieehhh.... wakakakka.... mulai ngaco).
Menurut Oma, cerita Alkitab ga boleh ditambahkurangin seenak udel, atau diselipin tokoh narator misalnya, atau semacem Alice gitu. Di mana di Alice, ceritanya si Alice kaya masuk ke zaman2 nabi Nuh, Daud, Esther, n kaya nonton kisah mereka dari dekat. Menurut Oma, pikiran anak2 kan belom ngerti apa2, jadi mereka ga bisa bedain mana tokoh yg beneran dari Alkitab dan mana yang ditambah2in. Wah, bener banget tuh ya, saya gak kepikir sama sekali :$
Nah dari situ saya mulai lebih selektif milihin buku rohani buat anak saya.

Ini foto buku princess yang menurut saya bagus:




Saya foto juga satu halaman di dalemnya, supaya tau dalemnya kayak gimana. Eh kebeneran yang kebuka adalah Puteri Hana. Kirain Puteri Hana itu maminya Samuel, ternyata.... princess yang dimaksud adalah Hana yang tuwir alias Anna di kitab Lukas! Jadi tambah sukaaa deh sama buku ini. Bener banget, betapa di mata Tuhan, Anna the old widow, yang begitu setia menanti-nantikan Sang Mesias, yang siang malam berdoa dan berpuasa hingga hari tuanya itu adalah puteri-Nya yang sangat cantik dan berharga!
What a precious point buat anak2 kita belajar. Cantik di mata Tuhan tidak sama dengan muda dan kulit kenceng.

FYI, karena anak saya cowo, gak demen princess2an (cenderung alergi malah; si D pernah bilang, princess itu mustinya ditumpas sampe punah, wakakaak... sadis amat....), saya gak beli dan gak baca buku ini. Harganya mayan sih, 146 ribu :( tapi tebelll, guedee dan kertasnya bagus punya kualitasnya, full colour. So kalo ada yang mau share tentang isinya, atau mau sampein ketidaksetujuan sama pendapat saya, silakan komen aja ya, your comments are very welcome.

Saya suka prihatin sama demam princess di kalangan anak2 balita dan anak2 beberapa tahun belakangan ini.
Memang setiap cewe terlahir dengan kodrat alami untuk pengen dikasihi, dilindungi, pengen cantik menawan, dan sejenisnya. Saya baca ulasan yang bagus banget tentang kodrat alami boys and girls dalam buku "Wild at Heart" (buat cowo) dan "Captivating" (buat cewe). Lupa nama pengarangnya, suami isteri Eldridge something.
Gak ada yang salah soal ini, yang saya pengen GUGAT adalah filosofi bahwa putri itu kudu cantik rupawan tampangnya, dan kalo cantik bakal ketemu pangeran tampan, dan pangeran itu akan bikin sang putri bahagia selamanya gak pernah susah.

Ilusi yang sangat menyesatkan.
Yang sayangnya diulang-ulang-ulang dengan begitu gencarnya di cerita2 princess.

Padahal pangeran tampan yang Tuhan sediakan buat setiap puterinya Tuhan adalah manusia biasa, yang tentu tak sempurna.

Padahal pangeran tampan tidak bisa memenuhi semua kebutuhan fisik, mental, spiritual sang puteri, dan hanya Tuhan yang bisa.

Padahal kebahagiaan sang puteri bukan tergantung dari pangeran tampan, tapi dari kedewasaan, sikap, dan sikap hati sang puteri sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, serta baik atau tidaknya hubungan pribadinya dengan Tuhan, Sang Pemberi Hidup.

Padahal menikah itu adalah awal, bukan akhir, apalagi jaminan happy end dari semua permasalahan hidup, no no no no....

Padahal yang terpenting dalam hidup, termasuk hidup pernikahan bukanlah kebahagiaan, tapi bagaimana menjalani apa yang Tuhan udah rancangkan buat hidupmu dan hidup pernikahanmu.

Miris rasanya denger berita apalagi berita artis2 yang kalo ditanya alasannya cerai adalah karena enggak bahagia.
Padahal seperti halnya laut ada pasang surutnya, demikian juga hidup pernikahan, tentu ada saatnya bahagia ada saatnya enggak bahagia. Cuma dongeng princess lah yang bahagiaaaa terus, realita tidak demikian, Sayang... Pada saat bahagia, yah nikmati dan bersyukurlah, saat lagi enggak bahagia ya bersabarlah... Keep calm, and carry on!

Lagipula menikah pun tujuannya bukan untuk mencari kebahagiaan. Menikah merupakan panggilan, dengan segala tantangan, kesulitan, dan berkat-berkat di dalamnya.
Kalo tujuan utamamu menikah adalah untuk bahagia, lebih baik urungkan niatmu, karena kamu pasti akan kecewa.

Seorang wanita muda yang lagi galau pernah bilang, bahwa seperti wanita lain, dia berhak untuk bahagia dan dicintai.
Saya tidak setuju.
Kalo menurut saya, kita ini justru sebenernya tidak berhak dapet apa2. Kita ini kan cuma debu tanah, banyak dosa pula. Hak dikasihi dari mana?

Bahwa Tuhan mengasihi kita dan mengangkat kita jadi anakNya, itu adalah PRIVILEGE, kehormatan yang sebetulnya gak pantes kita terima, bukan hak.
Makanya kita ini selamanya adalah orang yang berhutang segala2nya sama Tuhan. Makanya hidup ini seyogianya kita pake buat bikin Tuhan bahagia, bukan buat bikin diri sendiri bahagia.

Nah supaya anak2 cewe kita enggak tersesat dan tersandung kaya para gadis galau di dunia dengan ilusinya, yuk kita yang udah jadi emak2 pada meluruskan kembali pandangan dan filosofi kita tentang hidup, cinta, dan pernikahan.
Kalo kitanya udah sesuai FirTu, kita akan lebih bisa membimbing anak2 kita khususnya yang cewe2, untuk enggak ikut prinsip dan filosofi dunia yang ngaco.
Itu film dan segala tetek bengek princess gencar banget loh, buibu, makanya kita musti lebih gencar lagi tanamkan prinsip2 yang sesuai Firman Tuhan ya...




Thursday, August 14, 2014

Nyanyian Pujian Hana

Ada 2 orang Hana yang lumayan terkenal di Alkitab.
Yang satu adalah Hana sang nabiah lanjut usia di Injil Lukas (Lukas 2:36-38).
Hana yang kedua kayaknya lebih terkenal, yaitu mamanya Samuel di Perjanjian Lama.
Saya mau bahas Hana yang ini. Pendeta J. Ichwan dalam kotbahnya di gereja saya Minggu lalu ngebahas tentang pujian Hana, makanya saya jadi pengen menggali lebih dalam dan share di sini.

Seperti yang mungkin udah kita semua ketahui, Hana ini mulanya hidupnya menderitaaaa banget, mirip sama kisah tokoh protagonis di sinetron atau drama Korea. Dia dimadu, di-bully sama istri muda suaminya yang namanya Penina, karena Hana tidak bisa punya anak sedangkan Penina punya banyak anak. Alkitab berkata, Elkana, suami Hana, mengasihi Hana. So kemungkinan Elkana nikah lagi sama Penina bukan karena cinta, tapi karena tekanan budaya Israel pada masa itu, yaitu kudu harus punya anak.

Sayangnya, Elkana ngga ngerti penderitaan isterinya yang dicap MANDUL atau bahasa modern-nya infertil. Salah seorang bestie saya bergumul dengan problem yang sama, yaitu infertilitas. Dan pergumulan tentang masalah ini bukan main, berat banget. Buat budaya Indo aja kayanya udah berat karena tuntutan dan hobi orang Indo buat tanya2 nyinyir, seperti “Kapan merit?”, “Kapan punya anak?”, “Kok belom hamil-hamil? Ayo cepetan bikin anak dong...”, atau “Kapan punya anak kedua, anak pertama udah gede gitu...” dst.
Seolah-olah punya anak itu semudah buang air besar. Padahal buang air besar aja gak bisa seenak jidat kita kan? Kudu pas kebelet baru bisa kan? Apalagi beranak, mbak.....

Simak kata pak Elkana, “Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?” 1 Samuel 1:8.
Waduh, gak peka banget sih pak... biarpun cinta sama bapak, tapi Hana kan ada perasaan ingin diakui dan diterima sebagai wanita. Pada zaman PL, isteri sebaik apa pun kalo gak punya anak suka dicurigain, “jangan2 ada dosa tuh” atau “mungkin ada sesuatu yang membuat Tuhan menutup kandungannya”. Alkitab penuh dengan banyak kisah perempuan yang mandul, yang pada akhirnya bisa punya anak secara mukjizat: Sara isteri Abraham, Ribka isteri Ishak, perempuan kaya di zaman nabi Elisa.

Jadi, Hana pun depresi. Beneran depresi. Ini kesimpulan pribadi dari saya, karena baca beberapa gejalanya: banyak nangis, gak mau makan, selalu ngerasa sedih.
Suatu ketika setelah Hana di-bully lagi sama Penina, Hana mogok makan lagi, terus ngabur dari keluarganya yang lagi kumpul makan-makan setelah ibadah. Hana lari ke depan pintu Kemah Pertemuan (atau Bait Suci). Di situ Hana berrrdddooooaaaa sampe nungging dan sampe bernazar segala bahwa kalo dikasih anak, Hana akan menyerahkan anak itu buat jadi hamba Tuhan. Demikian Hana berdoa sambil nangis berurai air mata. Saya duga itu nangisnya walopun gak keluar suara, cukup heboh dan mungkin sedikit menjurus ke arah histeris dengan pose-pose yang bikin orang pada nontonin kali ya. Soalnya imam Eli yang udah tuwir dan matanya mungkin mulai rabun, yang lagi duduk di pintu Bait Suci aja ngeliatin Hana sambil nge-judge, bahwa Hana itu pasti perempuan mabok! -.-‘  Sedemikian intens-nya kesan itu, sampe imam Eli negur Hana, supaya bertobat dari mabok-mabokannya!
Inget bahwa imam Eli ini anak-anaknya yang pada dursila aja enggak dia tegor? Entah Eli lebih gampang negor jemaat, entah gimana, yang jelas imam Eli sampe negor Hana supaya bertobat, saya yakin Hana nangisnya dan doanya bukan nangis dan doa biasa.

Abis itu Hana curhat sama Eli, lalu Eli mendoakan Hana, dan Hana dapat janji Tuhan bahwa dia akan dapat anak. Wuah! Ini baru BIG NEWS!!
Alkitab ga merinci berapa taun Hana berdoa dan berusaha dapetin anak, tapi mungkin cukup lama ya, secara isteri mudanya suaminya aja saat itu udah punya beberapa orang anak. Hana langsung gembira luar biasa, dan langsung mau makan. Hm... gejala kejiwaannya sekarang menjurus ke Gangguan Bipolar alias manik depresif wkwkwkw...

Anyway, singkat cerita, Hana kemudian dapet baby Samuel. Oh what joy!

Setelah menikah dulu, kami nunggu setengah tahun lebih baru dikasih hamil. Saya sih biasa-biasa aja, karena emang maunya adaptasi dulu hidup berumah tangga, baru direcokin soal baby. Tapi suami udah gak sabar pengen cepet-cepet punya baby. Jadi lumayan lah beberapa bulan dilalui dengan berdoa meminta baby, ngerasain kecewa saat ngecek ternyata enggak hamil atau enggak datang bulan tapi ternyata cuma telat doang alias enggak hamil. Saat tau hamil, wah rasanya susah dilukiskan dengan kata-kata. Campur aduk antara senang, excited, waswas, kuatir, bersyukur, dll dah...

Buat Hana, campur aduknya pastinya lebih ya, ada rasa lega, puas, bangga, penuh syukur, sukacita, kuatir dan waswas yang normal sekaligus yang “abnormal”, akibat inget nazarnya dulu kepada Tuhan, yaitu bahwa anak itu nanti harus diserahkan kepada Tuhan.
Mengetahui betapa singkatnya waktu yang Hana punya bersama bayi yang sudah sekian laaamaaanya dinanti-nantikan itu, tentunya bawa tekanan tersendiri ya. Alkitab gak mencatat apakah Hana maju mundur alias pake goyah-goyah dalam menepati nazarnya ini. Tapi kalo liat keseluruhan kisah Hana di kitab Samuel, keliatannya Hana bener-bener teguh pendiriannya tentang penyerahan Samuel kepada Tuhan.

Maka, Hana pun mengasuh Samuel sampe Samuel cerai susu, alias disapih. Saya enggak tau umur berapa biasanya anak-anak Israel pada zaman itu disapih, tapi saya perkirakan mungkin sekitar umur 2-3 tahun ya. Soalnya Alkitab sendiri berkata demikian, “Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, ... lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu.” 1 Samuel 1:24

Duh.
Gimana ya rasanya, harus nyerahin anak balita kita begitu aja ke tangan orang lain. Yah teorinya diserahin ke tangan Tuhan sih, tapi kan diserahkannya ke bawah asuhan imam Eli ya, yang udah mulai tua, apalagi imam Eli terkenal kurang bagus parentingnya! >_<
Baca kisah anak-anak imam Eli yang dursila di 1 Samuel 2:12-17 dan 1 Samuel 2:22-25.
Dan ini kata Tuhan sendiri tentang gaya parenting-nya imam Eli: “Sebab telah Kuberitahukan kepadanya bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!” 1 Samuel 3:13

Pada saat Samuel diserahkan kepada Tuhan, anak-anak imam Eli mungkin belom sebobrok seperti yang dikatakan di 1 Samuel 2. Tapi tentunya udah mulai lah ya... kedursilaan mereka bikin geleng2 kepala: ngambil bagian terbaik korban persembahan yang seharusnya buat Tuhan, sampe meniduri perempuan2 yang melayani di Kemah Pertemuan >:O  Astaga...!
Pastinya kebejatan macam gini gak terbentuk dalam sebulan dua bulan, tapi makan waktu bertaun-taun dong.

Gimana ya perasaan Hana mau memasrahkan Samuel ke tangan imam Eli? >_<
Her precious little Samuel, yang diminta dengan doa bertahun-tahun, depresi bertahun-tahun, bergalon-galon air mata, dan nazar yang menyayat hati.
Sebuah ketaatan pada Tuhan dan langkah iman yang luar biasa!

Saya coba ngebayangin gimana kalo saya kudu serahin anak saya.
Wah... belom-belom udah pengen nangis rasanya. Kebayang kayak adegan sinetron kali. Belom lagi kalo anaknya nangis kejer memohon-mohon supaya jangan ditinggal, huhuhu... T.T (Ada yang tau film Chinese jaman jebot yang judulnya My Beloved? Bisa bikin penonton nangis melebihi serian Endless Love loh – oops maaf, ngelantur :P)

Balik ke topik.
Saya yakin hatinya Hana juga duileh sedih buangettt, dan dia selalu memikirkan Samuel-nya itu. Keliatannya Hana bukan tipe mama yang sengaja gak mau bonding atau sengaja gak mau membangun hubungan dekat sama anaknya untuk mencegah luka hati karena nantinya mau diserahkan kepada Tuhan.
Terbukti dari setiap tahun Hana bikinin jubah untuk Samuel dan setiap tahun Hana nengokin Samuel sambil ngasih jubah bikinannya itu (1 Samuel 2:19).
Cuma setahun sekali ketemu Samuel dan Hana bisa tahu dengan tepat ukuran jubah yang harus dijahitkan buat Samuel. Saya bayangin Hana tentu siapin jubah efod kecil untuk sang imam cilik itu dengan mencurahkan segenap cintanya yang gak bisa dia tunjukkan dengan cara lain.

Satu lagi, gimana caranya supaya Samuel bisa jalanin hidup tanpa luka hati ngerasa “dibuang” ortunya (walopun diserahkan kepada Tuhan)? Anak saya aja suka mellow-mellow ga jelas kalo papanya sibuk banget sampe 2-3 hari ga bisa ketemu. Gimana dengan Samuel yang sejak balita dipasrahin ke orang lain? Saya rasa ini juga bukan perkara kecil. Ckckckck...

Dan Hana bilang apa sebagai kalimat terakhir sebelum meninggalkan Samuel pada imam Eli? “Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN. (1 Samuel 1:28)

Ayat di atas adalah ayat terakhir dalam 1 Samuel pasal 1.
Setelah itu, gak ada adegan depresif dramatis ala sinetron.
Sambungannya langsung ke 1 Samuel pasal 2, yang perikopnya diberi judul “Puji-pujian Hana”.
Dimulai dengan 1 Samuel 2:1: Lalu berdoalah Hana, katanya: “Hatiku bersukaria karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu.”
Pujian ini berlanjut sampe 10 ayat panjang-panjang yang isinya bener2 meninggikan Tuhan, setitik pun gak ada curhat depresif ala Hana :O

Meskipun mungkin (mungkin doang loh ya) Hana kayaknya ada kecenderungan bipolar, di mana mungkin ada episode manik (hepi berlebihan, semangat berlebihan, gak kenal cape, dll), saya rasa mustinya sekarang Hana depresi ya bukan manik.

Sekilas info, pasal-pasal dan perikop-perikop di dalam Alkitab itu ngga selalu disusun sesuai urutan kronologis (urut waktu dan tempat, alias berbentuk narasi). Kadang-kadang ada pasal yang gak berurutan, jadi kejadian di pasal 2 misalnya, gak selalu terjadi setelah pasal 1.
Dalam kitab 1 Samuel, saya gak tau ini urut kronologis apa enggak, tapi for some reason penulis kitab Samuel menempatkan puji-pujian Hana ini tepat setelah Hana menyerahkan Samuel kecil kepada Tuhan, dan diawali dengan kata “LALU”.
Jadi saya menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Hana naikin pujian ini memang setelah menyerahkan Samuel.

Sangat mengherankan. Dan mengagumkan.
Kenapa Hana bisa memuji setelah menyerahkan anaknya?
Karena Hana mengingat kebaikan Allah, mengingat apa yang sudah Allah berikan buat dia, yaitu anak yang dirindukannya. Begitu kata pak pendeta.

Wow.
Sungguh sikap hati yang luar biasa!
Di saat-saat paling menyedihkan dalam hidupnya, alih-alih berkubang galau dan bermuram durja atau nangis2 atau mengasihani diri sendiri, Hana mengingat kebaikan Allah. Hana menghitung berkatnya, mengingat apa yang Tuhan sudah berikan buat dia.
Hana bisa memuji Tuhan di tengah kesedihan yang mendera.

Another interesting point, keliatannya Hana udah banyak bertumbuh secara rohani dalam tahun-tahun dia hamil, melahirkan, dan mempersiapkan untuk menyerahkan Samuel.
Dulu Hana depresi dan nangis2 sampe kayak orang mabok pas didera persoalan kemandulan. Boro-boro bisa memuji Tuhan.
Sekarang Hana bisa memuji Tuhan meskipun dia baru saja menyerahkan permata hatinya satu-satunya.

Pada waktu hidup lagi enak, rasanya gampang memuji Tuhan, tapi kita suka lupa.
Pada waktu hidup lagi ga enak, rasanya boro-boro pengen memuji Tuhan.

Tapi, setelah saya berpanjang lebar soal Hana, semoga seperti saya, pembaca juga terinspirasi, untuk ingat memuji Tuhan di saat hidup lagi enak, dan berusaha memuji Tuhan waktu hidup lagi ga enak, karena kita mengingat kebaikan Tuhan dan pemeliharaan Tuhan yang terus menerus nonstop, baik di saat hidup kita enak maupun enggak enak.


Hannah, learning about your life has blessed me so much. Thanks for the inspiration.

Update:
Saya nambahin sedikit, bahwa kisah Hana berakhir dengan sangat happy end, di mana Tuhan memberkati dan mengindahkan Hana, sehingga Hana kemudian mengandung dan melahirkan lagi 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan untuk menggantikan anak yang telah diserahkannya kepada Tuhan (baca 1 Samuel 2:20-21). 

Thursday, May 22, 2014

On Submission 2

Suatu hari, mobil kami mogok.
Suami dan saya sama2 gak ngerti mesin. Tapi karena suami saya orang yang sangat bertanggung jawab, dia belajar untuk bisa ngatasin urusan mobil yang simpel2 di saat darurat. So, setelah diutak-atik ga berhasil, dia bawa accu mobil buat disetrum. Setelah kembali, ternyata mobil masih ga mau hidup.

Ga lama kemudian, suami panggil seorang montir ke rumah.
Montir ini belum pernah saya liat sebelumnya. Ternyata suami saya dapet "nemu" di bengkel tempat setrum accu.
Maka sebagai istri yang selalu punya pendapat sendiri (dan pendapatnya adalah yang paling bagus dan paling bener), dahi saya langsung berkerut dan saya langsung meringkik dalam hati, "WHATTT???!"
(Idih, gimana kalo ini bukan montir tapi penipu? Gimana kalo mobil bukannya bener malah tambah ancur? Gimana kalo gini gimana kalo gitu... -.-‘)

Untung beribu untung, beberapa hari sebelumnya saya baru ditabok Tuhan, ditegur dengan lumayan pedih dalam hal submission, sampe hati saya yang keras akhirnya bertobat. Dan bertekad untuk berubah. Untung juga tekadnya rada kuat, jadi keinget buat mempraktekkan usaha berubah ini begitu ada kesempatan.

So, saat hati saya meringkikkan protes tadi, mulut saya tetap MINGKEM.
Dahi saya mungkin masih tetep mengerut tanpa bisa direm, tapi segitu udah lumayan lah ya.... :P

Betapa susahnya untuk SUBMIT.
Di dalam submission ada hal yang mendasar yang sering kali gak saya sadari juga, yaitu TRUST.
If you can't submit to your husband or your other authorities, chances are you don't trust him/them. Keengganan kamu untuk tunduk mungkin berakar dari kurangnya kepercayaan kamu terhadap figur otoritas itu.

So, dengan merendah dan dengan malu saya ngaku nih, saya sering kurang percaya sama pertimbangan, penilaian, dan keputusan suami.
Tentu aja saya punya banyak alasan buat membenarkan diri sendiri: "suami gak pengalaman soal ini", "suami sibuk, gak terbiasa untuk A, B, C" atau "urusan ini saya yang lebih ngerti kok" atau "boleh dong saya kasih masukan/saran buat suami?"

Ngasih masukan/saran kedengarannya bagus, iya gak sih?

Masalahnya kita para perempuan seringnya KEBANYAKAN ngasih saran. Bahkan saran yang gak perlu, gak diminta, bahkan yang gak diinginkan.
Satu-satunya kesempatan di mana kita sebagai istri WAJIB kudu harus kasih masukan dan saran adalah pada saat kita tahu dengan pasti dan jelas bahwa suami memutuskan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan firman Tuhan.
Hm... kayanya justru di saat beginian kita enggan kasih saran dan memilih mingkem ya -.-‘

Kenapa sih gak boleh kasih saran?

Eh saya gak bilang ga boleh kasih saran loh ya.
Yang saya bilang adalah, sebaiknya saran/masukan/ide/pendapat kita disimpan dulu, kecuali kalo diminta sama suami, atau kalo emang sikonnya kita lagi berdiskusi atau brainstorming tentang sesuatu.
Tapi kalo “saran” atau kalimat yang udah di ujung lidah kita dan sangat gatallll buat dikeluarin itu berbentuk kritik atau protes atau komentar apalagi pernyataan yang ketus, alangkah baiknya kalo disimpan aja untuk seterusnya.
Dalam hal ini ini, beneran berlaku SILENCE IS GOLDEN alias DIAM ITU EMAS.

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” Amsal 12:18

Saya seriiiinngggg jatuh di sini. *tertunduk malu*
Ada temen yang pernah bilang, saya ini tipe orang yang mikirnya kecepetan. Terutama kalo ngobrol atau ngomong, nah itu respon saya menjawab bisa cepet banget (katanya sih gitu, entah bener apa enggak).
Makanya, baik disadari atau gak disadari, respon saya terhadap suami tuh keluarnya sering gak enak didengar. Kadang ketus, kadang mempertanyakan atau gak percaya, orang Jawa bilang maido. Kadang downright disrespectful alias gak sopan >_<
Daaaan yang lebih parahnya, anak saya juga mulai ikut-ikutan ngomong ke papanya kayak gaya saya ngomong. Huhuhu.... :"(

Perlu saya sebutkan di sini, buat yang kenal sama my hubby, mungkin tau ya, orangnya heboh dan kadang mengutarakan hal-hal yang enggak lazim wkwkkwwk.... saya ngomong apa sih hehehe.... susah dideskripsiin nih, pokoknya jalan pikirannya tuh kadangan enggak mainstream gitu. Out of the box lah istilahnya. Dan kadang dia juga susah mengungkapkan yang ada di pikirannya supaya bisa ditangkep dengan baik sama pendengarnya.  Makanya gampang muncul salah paham, atau menimbulkan respon yang “enggak lazim” (alias gak bener) juga dari saya, hihihi...

Terlepas dari gimana watak, sifat serta kecenderungan kita dan pasangan, sebagai istri kita diminta untuk tunduk, termasuk malah terutama dalam ucapan.
Karena ucapan kita bisa membangun, atau meruntuhkan suami. Membangun kepercayaan diri suami atau meruntuhkannya. Membangun atau bikin melempem hubby’s sense of leadership. Membangun kepercayaan kita sendiri terhadap suami, atau mengikisnya sampe habis.

“Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.” Amsal 14:1

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”  Efesus 4:29

Jadi, jangan buru-buru ngeluh kalo suami dirasa kurang tegas, atau kok leadership-nya lemah, atau susah mengambil keputusan.  Mungkinkah suami jadi takut salah karena komentar kita yang terlalu pedas?  Bukan takut istri, cuma MALEESSSS denger omelan, males salah paham, males berdebat. Ujung-ujungnya suami males bikin keputusan, males mimpin, “Gimana kamu aja dah...” 

Jangan langsung ngiri kalo denger suaminya si A bisa minta pertimbangan istrinya, lalu dengan tegas penuh percaya diri mengambil keputusan yang baik.  Jangan banding-bandingin suami kita sama suami si B yang leadership-nya bagus banget.
Coba deh mulai perhatiin sikap para istri dari pria-pria yang sukses mimpin keluarganya ini. Mungkin sikap dan omongan para istri ini bikin suami mereka mekar merekah cetar membahana?

“Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.” Amsal 31:11-12

“Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.” Amsal 12:4

“Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.” Amsal 31:23

Sikap tunduk dan omongan positif para istri terpuji ini yang semestinya bikin kita ngiri, lalu kita teladani.

Satu lagi PR yang gak kalah penting.

Kalau udah berhasil menyortir omongan dan hanya mengeluarkan kalimat-kalimat yang tepat di saat yang tepat kepada suami, bolehlah kita berbangga, tapi perjuangan belum selesai.
Seandainya kemudian things go wrong, as they most certainly WILL one time or another, jangan bilang, “Tuh... kan... nyesel deh kemaren gue gak kasih saran... Gak bener noh blogger yang sok iye nyuruh2 saya mingkem!” :P atau “Duhhh, gimana sih kamu, Say... Makanya pake cara saya aja...” dan sejenisnya.
Nyalahin saya sih boleh (soale saya gak bakal kerasa juga, xixixi...), tapi jangan nyalahin suami ya.

GIVE HIM ROOM TO ERR. Kasih ruang buat suami bikin salah.
Suami manusia biasa kan? Makanya pasti ga luput dari kesalahan.
(Yang suaminya bukan manusia boleh protes, heheheh.....)
Kasih kesempatan untuk suami belajar dari kesalahannya.  Percaya deh, suami akan sangat menghargai kalo kita bisa dengan tulus bilang, “Gak papa, Hunny... Pemimpin juga manusia... I still TRUST you and want you to lead.”

So, kalo kita berdoa buat suami dan mendoakan leadership-nya, perlu juga doa supaya kita diberi hikmat buat membangun dan mendukung suami melalui sikap dan omongan kita.

Yup, segitu aja deh sharing saya tentang (h)ajaran terbaru Tuhan buat saya tentang submission.  Saya nulis postingan begini bukan mau sok-sok-an ngajarin. Justru ini lesson yang saya dapet dari kedodolan harian saya, saya tulis sebagai pengingat di kemudian hari (soale biasanya kedodolan saya ga bisa ilang dalam waktu singkat atau dengan 1 hajaran doang huekekek....), sekalian buat menghibur yang baca (siapa tau ada yang kelemahannya sama kayak saya :P), sukur-sukur kalo yang baca bisa dapet berkat...

Thursday, December 19, 2013

Mukjizat Kelahiran



Sama dengan postingan yang lalu, artikel ini juga saya tulis buat buletin gereja GKKA Ujung Pandang edisi natal, yang sedianya terbit Desember 2013. Karena satu dan lain hal buletinnya gak jadi terbit, so saya minta izin supaya artikel ini saya publish di blog, semoga jadi berkat buat yang baca.

***

Rancangan dan karya Allah dalam proses kelahiran sangat indah dan rumit. Ada seribu satu faktor dalam seluruh prosesnya. Kelahiran seorang manusia tidak kurang dari sebuah mukjizat.

Proses kehamilan dan kelahiran dimulai dari pembuahan, yaitu bertemunya sel telur dengan sel sperma. Dari puluhan juta sel sperma, hanya dibutuhkan satu sel saja untuk membuahi satu sel telur. Saat satu dari sekian banyak sel sperma ini bertemu dengan sel telur, seketika itu juga sel telur membentuk lapisan khusus sehingga tidak ada sel sperma lain yang bisa membuahinya. Pada saat itu juga jenis kelamin dan sifat-sifat genetik bayi tersebut sudah ditentukan.

Kemudian sel telur yang sudah dibuahi dengan cepat membelah menjadi banyak sel. Sambil membelah dan sel-selnya bertambah banyak, sel telur yang sudah dibuahi (kemudian disebut embrio) berjalan menuju ke rahim, untuk kemudian tertanam di dalam dinding rahim. Ini terjadi beberapa hari setelah pembuahan. Setelah embrio tertanam di rahim, rahim menebal dan mulut rahim ditutup rapat oleh semacam sumbat lendir kental. Embrio ini terus tumbuh dan berkembang, hingga siap dilahirkan kurang lebih sembilan bulan kemudian.

Dunia medis sudah demikian maju, tetapi belum mengetahui dengan pasti kejadian apa yang menjadi pemicu dimulainya proses persalinan.  Persalinan yang normal ditandai dengan keluarnya darah bercampur lendir, yaitu terlepasnya sumbat lendir yang menutup mulut rahim tadi. Rahim juga berkontraksi secara teratur, mendorong bayi ke posisi yang seharusnya di jalan lahir, yaitu posisi kepala di bawah.

Karena jalan lahir begitu sempit, bayi harus memosisikan dirinya sedemikian rupa agar dapat keluar melewatinya. Jika bayi dan panggul ibu berukuran normal, hanya ada beberapa posisi saja yang memungkinkan bayi dilahirkan secara normal. Sungguh mengherankan bahwa lebih dari 90% bayi dari seluruh persalinan berada dalam posisi yang seharusnya.

Posisi yang terbaik menurut dunia medis adalah posisi kepala di bawah, dengan kepala menunduk maksimal atau fleksi maksimal, dengan dagu menempel pada dadanya, sehingga lingkar kepala yang melalui jalan lahir adalah lingkar kepala yang terkecil, yaitu lingkar kepala yang diukur dari kepala bagian belakang bawah melewati ubun-ubun atau puncak kepala bayi.
Jika posisi bayi berbeda, maka biasanya persalinan akan lebih sulit dan lebih lama.

Seiring bertambah kuat dan seringnya kontraksi rahim, bayi semakin turun ke jalan lahir, leher rahim dan mulut rahim menipis dan membuka secara bertahap, hingga akhirnya leher rahim menghilang dan rongga rahim dengan jalan lahir menjadi satu saluran/kanal yang bersatu dengan vagina. Peristiwa ini dikenal dengan istilah pembukaan lengkap atau pembukaan 10 cm.

Meskipun jalan lahir adalah saluran yang lunak karena dibatasi oleh otot-otot dan jaringan lunak, di sekelilingnya terdapat tulang-tulang panggul yang keras. Namun Allah dengan segala hikmat-Nya telah mengatur sehingga di tengah-tengah rangkaian tulang ini terdapat lubang yang cukup untuk dilewati oleh seorang bayi. Rangkaian tulang-tulang panggul disebut juga “gelang panggul”.

Susunan tulang-tulang yang membentuk gelang panggul cukup rumit. Jika kita bayangkan secara sederhana gelang panggul sebagai satu silinder, maka terdapat dua lingkaran, yaitu lingkaran atas dan lingkaran bawah. Lingkaran atas ini berbentuk oval yang memanjang ke arah samping, sedangkan lingkaran bawahnya berbentuk oval yang memanjang ke arah depan-belakang.

Jika kepala bayi harus melewati lubang oval ini, ukurannya tentu harus lebih kecil dari diameter terpendek lingkaran oval gelang panggul. Pada posisi menunduk maksimal, kepala bayi berbentuk oval, di mana diameter depan-belakangnya lebih panjang daripada diameter kiri-kanan. Maka, pada saat memasuki lingkaran atas gelang panggul, kepala bayi harus menghadap ke sisi kanan atau kiri ibu, menyesuaikan bentuk oval kepala dengan bentuk oval panggul ibu.

Setelah kepala bayi berhasil melewati lingkaran atas gelang panggul, bahunya segera menyusul. Di bagian bahu, lingkar tubuh bayi berbentuk oval yang memanjang ke samping. Maka untuk melewati lingkaran atas gelang panggul, posisi bayi harus sejajar dengan tubuh ibu. Sehingga, pada saat bahu bayi melewati lingkaran atas panggul, kepala bayi akan sedikit terputar karena menyesuaikan dengan posisi bahunya. Ini disebut dengan istilah medis putaran paksi dalam atau internal rotation (karena terjadi di dalam jalan lahir, tidak dapat kita lihat dari luar).

Kemudian kepala bayi terus turun hingga mencapai lingkaran bawah gelang panggul. Kita ingat bahwa lingkaran bawah gelang panggul berbentuk oval yang memanjang ke arah depan-belakang. Maka bayi harus melaluinya dengan posisi wajah menghadap ke sisi belakang atau sisi depan ibu, agar bentuk oval kepalanya menyesuaikan dengan bentuk oval lingkaran bawah gelang panggul.

Saat ini kepala bayi sudah sangat dekat di mulut vagina, mungkin sebagian rambut/kulit kepala bayi sudah tampak dari luar. Di bagian terluar ini sudah tidak ada tulang yang menghalangi, namun masih terdapat tahanan dari otot-otot di sekitarnya. Agar dapat lahir dengan lancar, bayi harus menghadap ke sisi belakang tubuh ibu. Dengan demikian, saat akan lahir, karena bagian belakang kepala bayi masih terhalang tulang ibu sedangkan bagian kepala depan hanya dihalangi oleh otot-otot, bayi akan menengadahkan kepalanya yang sebelumnya masih tertunduk maksimal, sehingga berturut-turut keluarlah dahi, hidung, mulut, dagu, dan akhirnya seluruh kepala bayi pun lahir. 

Cardinal movement in labor. Gambar saya ambil dari http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/mekanisme-gerakan-kepala-janin-pada.html


Pada saat yang sama, bahu bayi harus melalui lingkaran bawah gelang panggul, yang berbentuk oval memanjang ke arah depan-belakang. Sehingga, bahu bayi harus melewatinya dengan posisi badan menghadap ke samping kiri atau kanan ibu. Karena itu, secara bersamaan terjadi putaran paksi luar atau external rotation, yaitu memutarnya kepala bayi karena menyesuaikan dengan memutarnya bahunya di dalam jalan lahir. Putaran ini dapat kita lihat dari luar. Setelah bahu bayi berhasil keluar, bagian tubuh lainnya segera keluar dengan mudah, karena dua bagian terbesar bayi yaitu kepala dan bahu sudah berhasil dikeluarkan.
 
Sungguh proses yang sangat rumit. Mungkin penjelasan singkat di atas agak sulit dipahami, tetapi ini tidak masalah, karena mempelajari seluruh proses ini dengan baik tentunya memakan waktu yang lama, sehingga mustahil untuk merangkumnya menjadi satu tulisan sederhana.

Yang perlu kita pahami benar adalah betapa mengagumkannya karya dan rancangan Allah dalam seluruh proses kehamilan dan kelahiran. Begitu rumit, dalam dan tak terselami oleh pikiran kita manusia. Sudah ribuan tahun berlalu sejak Hawa, perempuan pertama, hamil dan melahirkan, namun belum ada seorang manusia pun yang mampu menjawab semua pertanyaan seputar kelahiran secara meyakinkan, bukan hanya sekedar teori.

Penjelasan di atas hanyalah sekelumit proses kelahiran yang normal saja, dari sudut pandang ibu. Dari sudut pandang bayi pun masih ada berjuta cerita yang belum tersingkap.
Salah satu di antaranya yang baru mulai diketahui adalah bahwa seluruh proses “pemijatan dan penekanan” yang dialami oleh bayi di sepanjang jalan lahir adalah proses yang sangat penting dalam mempersiapkan bayi masuk ke dunia yang sangat berbeda. Sebelumnya di dalam rahim, bayi tinggal di dalam kantung yang penuh air, hangat, gelap, sarat suara-suara biologis ibu seperti detak jantung, bising usus, napas, dll., serta minim gravitasi. Kini dia pindah ke dunia luar yang kering, dingin, terang menyilaukan, bising, dan dipengaruhi oleh gravitasi bumi. Kini jantungnya harus bekerja keras karena perubahan sistem aliran darah setelah bayi dilepaskan dari tubuh ibunya, dia juga harus bernapas secara mandiri, harus mengisap dan menelan air susu untuk bertahan hidup, mengeluarkan kotoran-kotorannya sendiri, dan menangis untuk mengomunikasikan kebutuhannya.

Kelahiran sungguh merupakan mukjizat Allah yang luar biasa, yang sering kali terlewatkan karena sudah menjadi sesuatu yang biasa kita temui setiap hari. Saat kita merayakan kelahiran Kristus, marilah kita merenungkan dahsyat dan ajaibnya karya Allah dalam peristiwa kelahiran.

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; 
ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. 
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, 
ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, 
dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; 
mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, 
dan dalam kitab-Mu tertulis semuanya hari-hari yang akan dibentuk, 
sebelum ada satu pun daripadanya.  
Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! 
Betapa besar jumlahnya! 
Mazmur 139:14-17