Saturday, July 4, 2015

Terpanggil


Hidup adalah sebuah perjalanan.
Hidup kami adalah milik Tuhan. Karena itu, hidup kami menjadi sebuah perjalanan menggenapi tujuan (purpose) yang sudah Tuhan rancangkan bagi kami.

Setiap anak Tuhan adalah anggota tubuh Kristus, dengan tempat dan peran yang berbeda-beda.  Allah dengan segala hikmat-Nya memanggil dan menempatkan anak-anak-Nya ke tempat mereka masing-masing. Dengan atau tanpa persetujuan mereka. Sengaja atau tidak disengaja.

Tentu setiap anak-Nya diberi-Nya kehendak bebas, untuk memilih apakah mereka bersedia atau tidak bersedia mengambil perannya masing-masing. Dalam kedaulatan-Nya, ke-mahakuasaan-Nya, dan jalan-jalan-Nya yang tidak dapat terselami oleh pemikiran manusia, segala rancangan-Nya terwujud, tanpa kecuali dan tanpa keliru, walaupun banyak anak-Nya tidak bersedia memenuhi panggilan mereka.

Melayani Tuhan memang dapat dilakukan di mana saja, melalui pekerjaan apa saja, bahkan pekerjaan duniawi sekali pun. Medan yang “sulit” tidak serta merta menjadikan sebuah pelayanan lebih berkenan kepada Tuhan. Posisi yang tidak menyenangkan tidak otomatis menjadikan pelayanan itu lebih bernilai di mata Tuhan. Seperti halnya tubuh memerlukan begitu banyak sel berbeda untuk dapat berfungsi dengan baik, demikian juga tubuh Kristus memerlukan banyak orang berbeda untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Sebagian dipanggil untuk menjadi pemimpin, sebagian lainnya bertekun melayani di grass root, mungkin kepada satu dua orang saja. Sebagian dipanggil untuk melayani di kota besar, sebagian lainnya di pedalaman. Sebagian dipanggil untuk bersaksi di mimbar gereja, sebagian lainnya bersaksi di posyandu atau pos hansip. Di rumah sakit, kantor pemerintah, perusahaan besar maupun warung kecil, semua menjadi bagian dari satu tubuh Kristus.

Lalu mengapa kami memutuskan untuk melayani di kota kecil ini, sebut saja Skg?

Seperti syair lagu “Tanah Airku”:

meskipun banyak negeri kujalani, 
termasyhur permai dikata orang, 
tetapi kampung dan rumahku, 
di sanalah kurasa tenang

demikian juga kami selalu merindukan kampung halaman dan keluarga besar. Ada rasa bersalah yang tidak terkatakan jika berada jauh dari keluarga saat kehadiran kami sangat diperlukan. Ada kepedihan saat kami berusaha menghibur anak kami yang merindukan sepupu, kakek atau neneknya. Ada rasa kesepian, ada pula kesusahan saat bantuan sangat dibutuhkan.
Kampung halaman menawarkan rasa nyaman istimewa yang tidak dapat ditawarkan oleh tempat lain di dunia.

Tapi hidup bukan tentang kenyamanan, bukan tentang keinginan, bahkan bukan tentang kebahagiaan.

Hidup adalah perjalanan menggenapi tujuan.

Apakah tujuan Tuhan bagi kami?

Terus terang kami sendiri belum yakin. Karena kami belum tiba di tujuan akhir.
Setelah berbulan-bulan bergumul, berdoa, bertanya-tanya, dan didoakan oleh banyak orang, kami merasa Tuhan memanggil kami ke Skg.

Go where the need is greatest.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7:13-14

Bukan, bukan berarti pilihan lain akan menuju kebinasaan. Bukan juga artinya orang yang memilih jalan berbeda akan menuju kebinasaan. Ayat ini bagi saya pribadi berbicara tentang tidak menjadikan kenyamanan sebagai dasar untuk memilih.
Instead of staying in comfort zone, go where the need is greatest.

Maka kami pun sepakat memilih Skg.
Sebuah kota kecil yang tidak menjanjikan kelimpahan materi.
Dan tidak terlalu dekat dengan kampung halaman.
Sebuah rumah sakit yang sangat membutuhkan kehadiran SpAn.
Dan beberapa kesempatan melayani, baik keluarga, teman, pasien, para hamba Tuhan.

Sebuah pilihan yang sungguh tidak mudah. Khususnya jika mempertimbangkan perasaan orangtua kami, dan tawaran pekerjaan lain yang dengan berat hati harus kami tinggalkan.
Namun, firman Tuhan berkata, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”, Amsal 16:9. 

Tuhan memanggil kami, maka kami turut.

Monday, May 25, 2015

For the First Time

Saya lanjutin postingan lop setori ya.
Kalo mau baca kisah awalnya, silakan ke sini.

Jadi siapa orang yang waktu itu lagi saya doain?

Alkisah beberapa minggu itu ceritanya saya lagi ngecengin seseorang. Seperti saya bilang tadi, status jomblo ngenes bikin saya galau, jadinya begitu nemu bachelor yang eligible dikit langsung deh ngebet bin kebelet. Waktu itu juga ada temen yang ngomporin dan memfasilitasi dengan gencar, jadinya bikin saya makin gimana gitu.

Namanya co-ass tuh ya, stressnya banyak, jadi kalo ada bahan buat seru-seruan langsung disambut dengan gegap gempita. Tau sendiri dong, gebetan kan bikin hidup lebih berwarna, hahaayy... :D  Nah gebetan serius-serius-engga itulah yang lagi saya doain. Urusan pasangan hidup buat saya adalah masalah yang amat sangat penting, dan sejak ABG saya udah terbiasa untuk doain and cerita sama Tuhan segala rasa yang ada di dada (hoek...) sampe hal-hal yang paling sepele sekali pun. Jadi dibawa dalam doa tidak sama dengan jatuh cinta atau gimana gitu.

Setelah sepakat saling mendoakan, saya dan Ivan menjalani hari-hari seperti biasanya. Gak pake perjanjian didoain berapa lama, pokoknya sampe saya yakin aja bahwa emang dia beneran pasangan hidup yang Tuhan sediain buat saya. Bener-bener serius ya, kaya diajak kawin aja wkwkwk....

Beberapa minggu berjalan, saya ajak Ivan kenalan ama ortu saya.
Begini ceritanya:

***
(Note: Mr. Sut = Papa Lia; Mrs. Sut = Mama Lia)

“Rumahnya di mana?” tanya Mr. Sut.

Sang pemuda yang bernama Ivan itu berpikir keras dengan groginya. “Eee.... eee... di.... mana itu ya........ eee....... Lupa, Oom...” jawabnya sambil tersenyum putus asa, keringat bertetesan di pelipisnya.

Mrs. Sut tak bisa menyembunyikan senyum geli, dan berusaha memalingkan wajahnya. Lia Sut yang welas asih berhasil meredam tawa di balik hembusan nafasnya yang hanya sedikit terlalu keras. Beruntung tidak terlontar suara semburan yang tidak sopan.

Mr. Sut tak bergeming, menatap dingin sedikit bingung. “Lupa?! Ah...! Masa alamat sendiri bisa lupa?!”
Mr. Sut seolah tak menyadari tatapan berbingkai kacamata tebal di bawah alis matanya yang nyaris tak nampak itu cukup untuk meluluhlantakkan nyali seorang pemuda yang tengah berusaha merebut hati putrinya. Belum lagi kumisnya yang melintang rapi, yang disemirnya dengan rajin semenjak uban mulai bermunculan. Seulas senyum kecil di bibir tipisnya yang dimaksudkan untuk sedikit melenturkan suasana rupanya tidak banyak membantu.

Keringat di pelipis si pemuda menetes lagi. Dan lagi. Ini lebih menyeramkan daripada yang dia perkirakan sebelumnya. Syukur tadi dia sudah menyempatkan diri untuk buang air kecil sebelum datang kemari. Kalau tidak... bisa terkencing-kencing pula... Duh. Kukira dia cuma bercanda waktu memperingatkan bahwa papanya galak. Kalau saja Lia lebih menekankan keseriusan informasi itu, sesalnya dalam hati.

Dengan susah payah, Ivan mengumpulkan fokus dan memeras otak mengingat-ingat alamat rumahnya. Tak berhasil. Akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk tidak jaim. Lagipula melupakan alamatnya sendiri sudah merusak segala imej yang ingin dibangunnya. “Saya bener-bener lupa Oom... grogi...” katanya sambil tersenyum memelas.

“Memangnya baru pindah rumah? Udah berapa lama tinggal di sana?” tanya Mr. Sut yang selalu kritis dan logis, mencoba memahami sudut pandang pemuda itu.

“Udah lama kok Oom... Nggak baru pindahan. Saya nggak inget nama jalannya rumah saya. Saya inget jalan di sisi kanannya itu jalan A, sisi kirinya jalan B, sebelah sananya jalan C, tapi saya nggak inget rumah saya di jalan apa...." jawabnya.

“Ooo... Ya sudah,” timpal Mr. Sut datar, sambil mengalihkan pandangannya ke layar TV yang menyiarkan berita sore.

“Saya pamit dulu, Oom... Saya mau ajak Lia keluar sebentar, boleh Oom?” tanyanya sambil harap-harap cemas.

“Ya udah. Ati-ati,” jawab Mr. Sut memutuskan untuk sedikit basa-basi dan berbelas kasihan.

“Pergi dulu ya, Pah... Mah...”, Lia pamit kepada orangtuanya.

“Permisi, Tante...”, pamit si pemuda kepada Mrs. Sut, yang dijawab dengan, “Yuk...” serta bonus senyum manis lengkap dan anggukan kepala ramah, untuk membesarkan hati pemuda malang itu.
***

Itulah kisah pertama kali Ivan ketemu sama camer, wkwkwkwk... it was hillarious and memorable. Begitu keluar rumah menuju motor, saya dan Ivan ngakak segede-gedenya, dan surprise, Ivan mendadak inget alamat rumahnya huahahahh... saya tawarin balik lagi ke dalem rumah, tapi Ivan dengan ngeri menolak dan buru-buru make helmnya, ngajak saya cabut.

Itu juga pertama kalinya kami pergi berdua, nge-date gitu ceritanya, cieehh.... Kami naik motor menuju ke mall Istana Plaza, rencananya mau beli kado buat teman yang berulang tahun, lalu kami mau mampir ke rumahnya buat ngasih kado itu.

Dalam perjalanan pulang dari mall, tiba-tiba seorang petugas polisi lalu lintas meniup peluit dan meminta kami berhenti. Yap, kami ditilang! No kidding, pikir saya... Hasn’t there been enough drama for one night?

Rupanya motor butut cinta-nya Ivan gak nyala dong lampu depannya. *tepokjidat*  I didn’t know then what I know now, that this guy is magnet for all kinds of dramas. Gak ngerti kenapa dan bagaimana, tapi kapan pun dan di mana pun, di sekelilingnya kok banyaaakkk banget cerita-cerita yang bikin jidat berkerut bingung dan mulut melongo. Kok ada ya orang model begini... oh well... menerima apa adanya itu mahal harganya, jendral! Wkwkwk...

Dan ternyata oh ternyata... SIM-nya Ivan pun udah mati, begitu juga STNK-nya. Scratch the phrase “drama magnet”, change it into “drama king”. Ckckck... saya sampe geleng-geleng kepala. Ini adalah salah satu geleng-geleng kepala saya yang pertama berkaitan dengan urusan drama, dan jelas bukan yang terakhir, hihihi... makin ke sini perasaan malah makin kenceng geleng-gelengnya -.-‘  Kadang-kadang geleng-gelengnya dengan takjub dalam arti cukup negatif, tapi sebagian besar sih takjub netral, hahaha...

He’s just one of the funniest, silliest guys ever.  Dia orang yang (pada umumnya) gak bisa jaim. Sekalinya berusaha jaim, pasti keliatan banget, dan end up ngancurin imejnya sendiri, lebih parah daripada gak jaim sekalian :D But mostly dia orang yang apa adanya, cenderung rada gak tau malu. Kepo (banget) dan sering keceplosan. Hobi nonton reality show, quiz, sampe infotainment wkwkwkw...  In these long 13 years, he has evolved into a wonderful, faithful, committed, loving husband and father that our son and I cherish and are so proud of. He loves us and takes care of us unconditionally, sacrificially. And I have been loving him more and more ever since. :)

Segini dulu ya, pemirsa... Kapan-kapan disambung lagi, kalo yang baca masih berminat ;)

Monday, May 18, 2015

When I Fall in Love

Semasa muda banget dulu (sekarang muda sedikit :P), saya termasuk orang yang rada dodol di urusan relationship. Sampe umur 20an, saya masih single binti jomblo. Bukan jojoba (jomblo jomblo bahagia), apalagi high quality jomblo, saya lebih cenderung ke arah jomblo ngenes. Jangan salah, yang naksir sih banyak banget ada lah, tapi gak pada sampe menyatakan cinta tuh.

Sobat saya sampe pernah nuduh, saya ini kelewat suka public figure (misalnya Tom Cruise, sebelom dia aneh2), sampe masang kriteria yang imposibel buat cowo di dunia nyata :O Tapi tentu aja tuduhan itu tidak benar.

Kriteria saya padahal sederhana aja loh: (1) cinta Tuhan dan (2) diterima sama ortu. Plus beberapa kriteria standar lain yang masih bisa dikompromiin, seperti tidak merokok, enak diajak diskusi, bisa ngejagain saya, suka baca dan nonton, dan kalo bisa sih sama-sama dokter supaya nyambung kalo diskusi.

Saya mulai kuliah tahun 1996. Sampe lewat masa kuliah sepanjang 8 semester, saya masih aja jomblo. Doa sampe nungging udah dilakukan. Memperluas pergaulan udah, sampe desperate minta dikenalin sama an eligible bachelor, ampuuunnn malunya kalo inget itu sekarang... @.@ Jangan ditiru ya, pemirsa cewe!

Alkisah tersebutlah seorang pemuda bernama Ivan –tsaaahh...–

Pertama kali ketemu Ivan pas saya masuk kuliah dan mulai OSPEK. Dia senior 1 tahun di atas saya. Pertemuan itu buat dia sih gak berkesan apa-apa, tapi buat saya berkesan sekali. Bukan apa-apa, waktu itu kan semua mahasiswa baru disuruh ngumpulin sekian ratus tanda tangan senior, nah Ivan adalah salah satu senior yang sok-sok ngancem ntar bakal ngetes apa saya inget namanya, dan kalo pas dites saya lupa, tanda tangannya bakal dia coret. Sebagai mahasiswi nan polos dan lugu saya kena dikerjain, buru-buru saya hafalin nama dan mukanya. Yang minta dihafalin namanya bukan cuma Ivan, tapi juga beberapa orang senior lain. Jadinya saya suka pengangguran ulang-ulangin nama and muka-muka mereka, takut dites, wkwkwk..... *bener2 terlalu lugunya*
Dan tentu aja yang bersangkutan sama sekali gak inget pernah nyuruh gitu >:(

Sekian lama kuliah, kami gak bisa dibilang berteman, kenal dari jauh doang.
Zaman kami kuliah dulu, kami dibagi dalam beberapa kelas. Saya dan Ivan jarang banget sekelas, baik kuliah teori maupun praktikum.

Tahun 2000, kami bareng-bareng wisuda S1, bergelar Sarjana Kedokteran, lalu melanjutkan co-ass di rumah sakit pendidikan. Nah program co-ass ini terbagi dalam 2 rangkaian, yaitu K1 dan K2.
K1 terdiri dari stase atau rotasi di bagian yang non-tindakan (non-operatif) seperti Anak, Penyakit Dalam, Saraf, Kulit dan Kelamin, Jiwa (di rumah sakit jiwa), Radiologi.
K2 terdiri dari stase yang full tindakan, seperti Bedah, Ob-gyn, Mata, THT, Gigi dan Mulut, Forensik.
Selama menjalani stase, kami dibagi dalam kelompok-kelompok, terdiri dari 6 orang. Stase di bagian mayor (Anak, Penyakit Dalam, Ob-gyn dan Bedah) dijalani dalam 12 minggu, dan stase minor dalam 4-6 minggu.

-BTW ini mau bahas kisah cinta apa kurikulum sekolah kedokteran ya-

Semasa co-ass di K1, lagi-lagi kami gak pernah stase di 1 bagian yang sama.
Pertengahan tahun 2002, barulah kami stase bareng di bagian bedah. Waktu itu kelompok saya udah minggu ke-8 (dari 12 minggu), sedangkan kelompoknya Ivan baru masuk.

Beberapa hari sebelum masuk stase bedah, malem-malem Ivan datang ke RS, mau ngambil buku2 dan diktat2 lungsuran dari temennya yang baru selesai stase bedah. Waktu itu saya lagi jaga malam di IGD, sekitar jam 7 malem mata saya yang pake softlens iritasi, tapi kacamata dan perlengkapan lain saya simpan di ruko. Ruko adalah RUang KO-ass, letaknya di bagian belakang RS. Jarak dari IGD-ruko bedah lumayan rada jauh juga, kaki saya udah pegel akibat beraktivitas nyaris sejak subuh. Malam masih panjang jadi saya hemat tenaga, apalagi saya kalo jaga malem bawaannya suka didatengin kasus-kasus seru. Kalo biasanya jarang ada kasus bedah kepala, saya pernah dalam semalem dapet 2 kasus bedah kepala, belum termasuk kasus lainnya.

Anyway, karena ruko dikunci dan kuncinya dipegang sama ko-ass jaga (yaitu saya), datanglah Ivan ke IGD. Pas tau dia mau ke ruko dan dia bawa motor, saya seneng dong, lumayan ada tebengan. Nyampe di ruko, ternyata barang yang Ivan cari gak ada. Saya saranin dia telpon ke temennya, tapi tanpa dengan malu2 Ivan bilang pulsanya abis -.-‘

Jadi mau minjem HP en pake pulsa gue, gitu? – karena saya cewe jomblo yang berbudi luhur, saya ngomong gini dalem hati doang.
Lagi pula emang ngenes karena dulu saya ada HP tapi jarang dipake. Jarang nelpon maupun ditelpon, jarang nerima maupun ngirim sms. Telpon ke HP kan dulu masih mahal ya, jadi buat ngobrol biasanya pake telpon rumah. Pulsa HP sampe bertumpuk-tumpuk karena zaman dulu kan kudu isi pulsa sebelom tenggat waktu tertentu, supaya tetep aktif.

So, dengan manisnya saya kasih pinjem deh HP saya. Kelar itu, sekalian Ivan menuju gerbang keluar RS, saya nebeng lagi sampe IGD.

Sepertinya saat itulah Tuhan teringat kepada kami *garing* :P
Atau mungkin saat itu planet-planet berjajar segaris atau ada asteroid tabrakan di luar angkasa *lebih garing!* Wkwkwk...

Ivan bilang sih gak begitu inget malem itu, tapi herannya saya inget meskipun daya ingat saya terbilang jelek. Mungkin karena pulsa HP yang kemakan lumayan banyak ya, huahahahah...
Yang jelas our paths suddenly crossed on that fateful night and have gradually merged into one ever since :)

Hari Senin berikutnya, Ivan mulai stase bedah bareng saya.
Di tempat kami, stase bedah adalah stase yang dianggap paling berat di antara semua stase yang lain. Paling berkesan pokoknya, bittersweet banget. Co-ass bedah biasanya kulitnya bertambah putih, muka tirus dan langsing, soalnya jarang ketemu matahari dan supersibuk. Berangkat ke RS sebelom matahari terbit, pulang jauhhh setelah matahari terbenam. Jam 6.30 seluruh co-ass bedah udah berbaris rapi untuk diabsen via telpon oleh kepala bagian Bedah, the famous dr OH, SpB.

Jam 6.30 gak terlalu pagi dong ya? Tapi kami masing-masing punya “buku ijo”, yaitu buku tugas segede majalah, yang saban hari kudu ditulisin rata-rata 8-10 lembar kalo lagi beruntung, kalo lagi sial ya dikalikan 2. Buku ijo ini juga dikumpulkan jam 6.30 teng. Padahal beberapa halaman dari tugas ini biasanya baru didapetin tengah malem atau subuh, yaitu kalo co-ass jaga gak bisa jawab atau dapet tambahan tugas. So, semua orang kudu dateng pagi2 banget buat ngelengkapin buku ijonya masing-masing dengan tugas terbaru.

Selain buku ijo juga ada buku lain seperti buku laporan operasi, dan tugas2 lain, bahkan tugas menggambar prosedur bedah atau alat tertentu. So, mornings for us were VERY hectic and stressful. Ruko dipenuhi teriakan garang, buku dan barang berhamburan di mana-mana, co-ass panik nyari bukunya yang keselip, ada yang sibuk ngingetin sekian menit lagi sampe waktunya absen, dll. Rempongnya nyaingin rumah ibu muda beranak kembar 7.
Itu baru hari biasa. Di hari visite besar, yaitu hari Selasa, kondisinya lebih gawat lagi, kayak film2 thriller! *yang ini bukan lebay*

FYI, di bagian bedah berlaku hukum ALL OR NONE. Jadi kalo 1 orang dapet tugas atau gak bisa jawab, maka SELURUH co-ass bedah, kudu ngumpulin tugas yang sama. Kesalahan 1 orang ditanggung bersama.
Selain itu, seluruh tugas yang dikumpulin juga kudu SAMA PERSIS, sampe ke titik koma-nya. Jadi semua tugas biasanya disortir dan dikerjakan dulu oleh satu tim kecil yang bikin 1 master jawaban, kemudian disalin sama seluruh co-ass lain.

Selama stase bareng, tentunya setiap hari kami ketemu. Kadang-kadang kami bertugas di bangsal yang sama, atau dapet jadual jaga malem yang sama.
Lama-lama, walopun lagi tugas di bangsal yang beda, saya selalu ketemu dia. Sampe suatu ketika, saya mulai ngerjain tugas akhir bagian bedah, saya jadi sibuk bolak-balik ke perpustakaan. Saya heran kenapa Ivan juga sering nongol di perpustakaan, padahal co-ass minggu awal biasanya gak sempet ke perpustakaan.

Karena polos, saya sama sekali gak kerasa bahwa dia ngasih perhatian lebih. Dan karena saya judes dan gak luwes, pas nyadar dia selalu ada, bukannya peka dan mikir saya malah nanya tanpa tedeng aling-aling, “Perasaan loe ada di mana-mana deh, mahahadir gitu. Jangan-jangan elo membuntuti gue ya?”

Saya nanya gitu dengan cueknya sambil cengengesan, soalnya saya beneran 100% bercanda. Ivan yang terpana denger pernyataan saya, tapi dia ngeles, bilang saya aja yang kegeeran. Ya udah deh, lewat. Saya sama sekali gak merhatiin lagi bahwa dia emang sering ada di tempat di mana saya berada.

Setelah 2 minggu, suatu sore selesai jam kerja di bagian bedah, saya lagi beres-beres di ruko, siap-siap nulis tugas hari itu, terus pengennya sih pulang cepet. Ivan lagi-lagi ngikutin saya, sampe ikut mondar-mandir di ruko.

“Loe ngapain mondar-mandir, ngikutin gue lagi ya..,.” sindir saya dengan teganya.

“Ih enggak kok,” Ivan jawab. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”

Saya rada tercenung, saya pikir wah ada masalah apa lagi nih para co-ass bedah. “Ya udah, ngomong aja atuh.”

“Gak bisa di sini.”

“Jadi mau di mana?”

“Ya di mana aja,” Ivan mulai rada gugup.

“Lah, aneh amat... masa di mana aja tapi bukan di sini? Tentang apa sih? Ada masalah ya?”

“Iya,” katanya misterius.

“Masalah apaan?”


“Yaa... gak bisa diomongin di sini lah....” katanya sambil senyam-senyum ga jelas, bikin saya penasaran, lumayan sedikit ngebales pedesnya sindiran saya tadi wkwkwk....

Ugh kurang asem nih anak, pikir saya. Jangan2 cuma mau ngerjain gue deh... “Alah masalah masalah apa sih... Loe bohong ya, mau ngerjain gue ya?”

“Idih, engga kok, beneran!” katanya.

“Napa, loe grogi gitu, jangan-jangan loe suka ya sama gue?! Hahahah...” ledek saya sambil ketawa sadis.

Ivan langsung merah mukanya, tergagap dan salting. Kalo aja di sana ada orang yang cukup peka yang ikut ngeliat adegan itu, mungkin kepala saya udah ditoyor saking dodolnya.

Abis saya bilang gitu Ivan dieeeeemmmmm seribu bahasa, gak sanggup ngomong lagi.
Walah, saya jadi guilty feeling. Saya pikir, beneran ada masalah deh ini kayanya. Hati saya mulai mencelos, siap2 denger problem akademis co-ass bedah.

“Yuk, sambil jalan aja,” ajak saya sambil bawa barang buat ditaruh ke mobil.

Di parkiran, saya buka pintu belakang mobil Suzuki Escudo biru tahun 1999 (info gak penting banget :P Biarin atuhlah, suka-suka saya hihihi...). Di bagian dalam kacanya bergoyang-goyang gantungan imut Snoopy dan burung kuning kesayangannya, Woodstock. Setelah naruh barang, saya bersiap dengerin curhatan. “Mau ngomong apa?” tanya saya lembut dan penuh pengertian. :)

“Aku... SUKA SAMA KAMU.” Katanya sambil menatap saya lurus-lurus dan tersenyum gugup.

HAAAHH....?!?!!
*geledek di siang bolong pun kalah ngagetin dah*

Ini kalo di komik-komik Jepang/Korea nan lebay, udah digambarkan dengan tampang begini:



(Gambar diambil dari http://imgbuddy.com/anime-shocked-expressions.asp)

Kalo di film India, udah pake musik dramatis, layar TV menyorot close up muka saya dan muka Ivan bergantian, berulang-ulang dan berlebihan.

But karena itu kenyataan, dan saya punya refleks yang cukup baik, setelah beberapa detik melongo kaget, saya berhasil bernapas lagi, dan menjawab, “Makasih...”

Sambil dalam hati mikir, matek gue... Ini beneran ya... Mana tadi udah gue ledekin kayak gitu... *tepokjidat* 
Aduh Mama sayangeee...ampuni kelakuan anak gadismu...

Lagian mana ada orang ditembak bilang terima kasih? >_<

“Jadi?” Ivan nanya setelah beberapa saat yang sangat canggung berlalu.

??? “Jadi apa?” tanya saya bingung.

“Jadi jawaban kamu apa?”

“Oh... Sebenernya gue lagi doain orang lain... “ kata saya (terlalu) jujur.
“Gue doain elo dulu ya...”

“Oh... Aku sih udiah doain kamu. Ya udah sekarang kita sama-sama doain ya. Kita liat nanti Tuhan bilang apa.”

Hari itu saya nyetir pulang dengan perasaan gak keruan, soalnya itu pertama kalinya ada cowo yang “nembak” (kasiaaan deh gue wkwkkwwk).
Dan cuma sekali itu doang, sampe sekarang belom ada lagi cowo laen yang berani nembak (tentunya :P).

To be continued di next post ya... udah kepanjangan...

Baca lanjutannya di sini: http://nataliasetiadi.blogspot.com/2015/05/for-first-time.html

Saturday, May 9, 2015

Calvin and Hobbes

Beberapa bulan yang lalu saya nemu comic strip Calvin and Hobbes yang ini:
(gambar ini saya ambil dari Pinterest)



Rasanya gimana sih bacanya?
Kalo saya jadi sedih. Sedih banget karena saya tau persis ironi dari kisah Calvin yang ini.

Buat yang gak familiar sama komik Calvin and Hobbes (di beberapa negara Eropa judulnya Alvon and Poppes), saya ceritain dikit duduk perkaranya ya... :)

Calvin ini anak cowo berumur sekitar 6 taun (udah sekolah kelas 1 SD kalo ngga salah) yang super kritis, super kreatif, pinter, dan badungnya minta ampun. Dia punya boneka harimau kesayangan yang ukurannya lumayan gede, namanya Hobbes. Nah dalam imajinasinya Calvin, Hobbes ini beneran idup, dan ukurannya lebih gede daripada badannya Calvin. Si Hobbes ini sama badungnya sama Calvin, partners in crime gitu deh.

Sejak masih ABG culun dulu, saya udah suka banget sama komik ini, sampe subscribe ke website nya, dan saya saban hari dikirimin 1 comic strip Calvin and Hobbes di inbox email.

Dulu saya bacanya fun-fun aja, saya takjub sama kepinteran dan imajinasinya dan geli sendiri liat kebadungan dan segala trouble yang ditimbulkan oleh Calvin.

Pas mulai kerja di pedalaman, otomatis saya gak bisa lagi baca-baca komik ini. Setelah bertaun-taun vakum, tempo hari saya mulai suka liat-liat pinterest, dan nemu lagi komik ini. Maka cinta lama pun bersemi kembali... :P
Only this time, saya bacanya dari sudut pandang berbeda, sudut pandang seorang mama. Lebih tepatnya, seorang mama yang punya anak kayak Calvin.

Asli, pas nemu dan baca lagi beberapa ceritanya, sekarang saya malah jadi lebih takjub. Baru ngeh kalo kisah Calvin itu bisa juga terjadi di dunia nyata (well less dramatic in reality lah ya, tapi beneran asli mirrrriiiipppp bangeett, Calvin and Hobbes tuh kok ampir kaya our true story!). Now I see Calvin’s Mom and Dad with a newfound sympathy of a parent who shares similar battlefield on daily basis.

In many ways, si D and Calvin rada-rada mirip. Well si D gak se-’badung parah’ kayak Calvin lah, kalo si D bisa nyaingin Calvin mah bukan Bill Waterson yang bikin komiknya, tapi Natalia Setiadi huehehehehehhe... namanya komik, tentu udah dibikin semenarik mungkin biar pembaca seneng kan.

Biar rada kebayang, berikut ini saya kasih contoh beberapa cerita Calvin yang berasa déjà vu banget buat kami. Sekedar info, pas saya kasih liat ke papanya D, sampe ngakak-ngakak geli dia, saking miripnya cerita-cerita ini sama our true story :)







Kisah tentang “monkey head stew” adalah salah satu cerita Calvin yang paling berkesan buat saya, soalnya itu true story di rumah kami, bedanya cuma papanya D selalu menyambut setiap menu dengan gegap gempita, bagaimana pun bentuk dan namanya hahaha... Kan si D juga picky soal makanan, suka ilfil gitu sama menu sehari-hari yang saya masakin, bosen kali ya...

Jadinya kalo dia tanya “hari ini masak apa?” atau di meja makan dia tanya “itu apa, Mah?” saya suka iseng jawabin dia yang aneh2 hihihi.... Misalnya bakso goreng saya kasih nama “Galactic Meteor”, ngikutin istilah di koleksi Animal Kaiser cards-nya. Atau pernah juga masak bakmoy, tapi demi ngeliat si D ilfil bin bosen liat bakmoy, saya ngarang aja bahwa itu bukan bakmoy, tapi BOYOY (garing banget, maklum dadakan dan lagi mati gaya). Si D gak terkesan sama sekali sih sama “boyoy” (harus dilafalkan secara sengau ya, wkwkwkwk...), tapi dia udah keburu bingung mensinkronkan bakmoy yang diliat di matanya sama boyoy (sengau) yang didengar di kupingnya. Nah waktu bengong itu saya pake buat kasih instruksi seberwibawa mungkin “ayo cuci tangan, terus makan”, yang dia turutin tanpa sempet protes hahahaah.... Binggow! V^_^V

Mungkin pembaca udah tau ya, bahwa ADHD bisa diterapi dengan obat (yang di komik Calvin pertama yang saya share di atas itu Calvin sebut “pills”). Obat ini biasanya membantu ngurangin hyperaktivitas, bikin anak lebih fokus, ngurangin disctraction, juga ngurangin letupan emosi berlebihan atau perilaku membangkang.
Singkatnya, bikin si anak lebih kooperatif dan mampu berfungsi seperti yang diharapkan.

Jangan salah, orangtua anak-anak ADHD umumnya harapannya gak muluk-muluk. Liat anak kaleman dikit, main tanpa berkelahi, gak pake tereak2 kelewatan, atau berhasil ngabisin makanan sepiring tanpa perlu diingetin berulang-ulang aja udah seneng banget... (At least saya sih) gak kepikiran pengen anak juara atau dapet piala, atau jadi tokoh utama pentas drama whatsoever. Kalo malem pas mau tidur, dia bisa beresin mainan, gosok gigi, ganti piyama tanpa pake drama ala sinetron aja udah considered a good and peaceful night, yang gak akan luput dari pujian dan ucapan terima kasih karena sudah memberkati mama-papa dengan ketaatannya.
Sedangkan kalo di sekolah, berfungsi seperti yang diharapkan itu adalah berhasil kerjain worksheet-nya pada waktunya, seperti temen2nya, atau bisa main dengan rukun. As simple as that.

Sayangnya, sebagian (SEBAGIAN kecil aja ya, gak semuanya) orangtua suka mengeluh bahwa dengan obat anaknya jadi terlalu diem, kayak nggak jadi dirinya sendiri. Hehehe.... manusia emang susah puas ya, dikasih hyperaktif salah, pas kelewat diem juga bingung sendiri :P Tapi saya sangat mengerti, bahwa kalo liat anak biasa lari-lari, manjat-manjat, berceloteh keras-keras dengan riang gembira (walopun terkadang sangat mengganggu), mendadak jadi kalem, tenggelam keasikan baca buku atau main origami sampai lammmmaaaaaa, emang bikin ortu takjub dan kuatir sendiri saking takjubnya.

Beberapa kasus yang ekstrim malah nyebut2 anaknya jadi kayak zombie lah, atau mematikan kreativitas anak, as depicted in the 1st comic strip di box paling akhir. Scene ini digambarkan dengan warna black n white suram, Calvin lagi kerja worksheet dengan sangat fokus, sampe-sampe Hobbes digambarkan kembali jadi boneka harimau, bukan harimau idup seperti imajinasinya yang biasa.
Can you now see the irony more clearly? :-/
Tapi di sisi lain, secara statistik sih sebagian besar anak ADHD terbantu dengan obat.

Di salah satu grup special needs yang saya ikutin, saya pernah ketemu seorang dengan ADHD yang sekarang udah dewasa. Dia struggling banget selama masa kecilnya, sampe-sampe dia sangat menyayangkan pilihan ortunya untuk gak kasih obat-obatan. Terlepas dari kecenderungan anak untuk menyalahkan ortunya, saya bisa bayangin sih kesusahannya orang ini. Sampe terpukul banget dia begitu tau bahwa sebenernya ada obat yang berpotensi mengurangi kesulitan akibat ADHD-nya, tapi ortunya memilih untuk gak nyoba.
Memang obat ini juga banyak efek sampingnya, dan banyak ortu yang milih cara herbal, alternatif, dan pendekatan non-obat. Tapi setiap kasus beda, setiap kondisi anak ADHD, situasi keluarga, keuangan, dan kemampuan orangtua beda, jadi gak bisa juga kita maksain suatu pilihan tertentu. Saya percaya semua ortu pasti ngasih yang menurut mereka paling baik buat anak-anaknya.

Sebagai penutup, ini saya kasih foto stuffed animal kesayangannya D.
It is to D just as Hobbes is to Calvin.
And YES, it is also a stuffed tiger! :D
Didn’t you believe it when I said Calvin and Hobbes is almost like our true story? ;)


Friday, May 1, 2015

"Apakah Engkau Mengasihi Aku?"

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepadanya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus pula kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Yohanes 21:15-17

Sejak dulu, baca perikop ini bikin saya mengernyit. Ga ngerti kenapa Yesus kudu mengulang pertanyaan ini sampe 3x. Ga terlalu ngerti juga kenapa Petrus musti sedih denger pertanyaan ini. Saya kirain karena alasan yang personal: Petrus yang abis menyangkal Yesus 3x, diminta ngulang pernyataan kasihnya kepada Yesus 3x juga. Di Alkitab segala yang 3x itu biasanya penting.

Minggu lalu saya dapet pencerahan. Pencerahan yang cerraaahhh banget,
dari aplikasi Renungan Harian di HP android (e-RH), tanggal 16 April 2015, ditulis oleh bapak Hiendarto Sukotjo.

Ternyata, dalam pertanyaan Yesus yang pertama, kata kasih yang dipake adalah AGAPE, atau kasih tanpa syarat yaitu “mengasihi walaupun”.
Dan dijawab oleh Petrus dengan kata PHILEA, atau kasih bersyarat yaitu “mengasihi jikalau”.
Pertanyaan Yesus yang kedua masih menggunakan kata AGAPE, dan lagi-lagi dijawab oleh Petrus dengan PHILEA.

Petrus berbeban berat dengan rasa bersalah karena telah menyangkal Yesus. Padahal sesaat sebelum Yesus ditangkap, Petrus berkata bahwa dia rela memberikan nyawanya bagi Yesus (Yohanes 13:37).
Petrus menjawab dengan philea, karena merasa belum mampu mengasihi Tuhan dengan kasih agape.

Tuhan pun paham.
Pada pertanyaan-Nya yang ketiga, Yesus bertanya menggunakan kata PHILEA.
Yang kemudian dijawab Petrus juga dengan PHILEA.

Sekarang saya mengerti mengapa Petrus menjadi sedih saat mendengar pertanyaan Yesus yang ketiga.
Ngebayanginnya aja udah bikin hati “nyeesss...”, terharu banget.

DIMAKLUMI dan DIPAHAMI, terlebih lagi DITERIMA APA ADANYA itu dahsyat rasanya.

Setelah Petrus menyangkal Yesus, dia kembali ke profesi lamanya sebagai nelayan. Perikop di atas terjadi pada saat Yesus menampakkan diri untuk ketiga kalinya, yaitu kepada Petrus dan beberapa murid lain yang sedang menangkap ikan bersama Petrus. Adegan yang terjadi persis sama dengan adegan ketika Petrus pertama kali bertemu Yesus: mereka mencari ikan semalaman tetapi tidak mendapat seekor ikan pun, kemudian Yesus menyuruh mereka menebarkan jala di sebelah kanan perahu, lalu jala mereka menjadi sangat penuh dengan ikan sampe susah ditarik.
Déjà vu.

Hampir sama dengan Petrus, Yudas Iskariot juga mengkhianati Yesus. Tetapi kisah Yudas berbeda:

Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka: “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!” Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. (Matius 27:3-5)

:(

Petrus dan Yudas sama-sama menyesal, dan sama-sama didera rasa bersalah yang tak terlukiskan. Petrus berusaha coping dengan cara bekerja, kembali menjadi nelayan, sambil tetap berkumpul bersama beberapa murid yang lain. Sedangkan Yudas tenggelam dalam rasa bersalah, tidak berani mendekati murid-murid lain, tidak berani bertobat, merasa tidak layak diampuni, dan memilih jalan pintas dengan bunuh diri.

Apakah kelemahanmu membuatmu patah semangat?

Apakah iblis sering mengungkit masa lalumu yang kelam untuk membuat kamu merasa tidak pantas melayani Dia, tidak layak menjadi pengikut-Nya?

Apakah kamu merasa lemah dan terus menerus terjatuh dalam dosa yang sama sehingga iblis berhasil menipumu untuk tidak usah bertobat lagi karena Tuhan udah bosan mengampuni dan memaklumi kamu?

Apakah kamu kecewa dengan keadaan dunia dan merasa hidupmu tidak berarti lagi?

Apakah dosa seksualmu di masa lalu membuat kamu tidak bisa menikmati keintiman dengan isteri/suamimu dalam pernikahan sah yang sudah diberkati Tuhan?

Atau adakah peperangan batin lain yang kamu perjuangkan siang malam tanpa sepengetahuan orang lain?

Tuhan paham.
Dia bertanya kepadamu dengan PHILEA, bukan AGAPE.
Dia menerimamu apa adanya, sinful and all.
Dia paham bahwa kita berdosa dan lemah.
Pengampunan yang Dia sediakan TIDAK TERBATAS.

Ingat apa pesan Tuhan kepada Petrus setelah Dia bertanya?
“Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Tugas yang begitu penting Tuhan percayakan kepada Petrus.

Lalu apakah yang Petrus lakukan?
Lalu Petrus pun mengasihi Tuhan dengan AGAPE.

Saat Petrus menjawab Yesus, 3x dia hanya mampu menyebutkan philea. Tetapi sepanjang sisa hidupnya, Petrus menjalankan tugasnya menggembalakan domba-domba Tuhan. Malah di akhir hidupnya Petrus menjadi martir, mati disalib seperti Yesus, bahkan dalam keadaan terbalik, karena dia merasa tidak layak disalibkan dengan cara yang sama seperti Tuhannya.

Petrus DIMAMPUKAN untuk mengasihi Tuhan dengan AGAPE.

Roh Kudus yang sama juga ada di dalam hidup kita, para pengikut Yesus di masa kini.
Kuasa-Nya masih sama dahsyatnya, juga akan memampukan kita untuk melakukan apa yang kita pikir tidak mampu kita lakukan.

Karena “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

***

Catatan:

Di Alkitab bahasa Indonesia dari LAI maupun bahasa Inggris versi King James, kita gak bisa lihat perbedaan kata kasih yang dipake dalam ketiga pertanyaan Yesus.

Di Alkitab bahasa Inggris versi Young’s Literal Translation, kasih agape disebutkan dengan kata “LOVE” dan kasih philea disebutkan dengan kata “DEARLY LOVE”, jadi keliatan bedanya.

Setelah Petrus menjawab dengan philea, Yesus juga 3x berpesan, “Gembalakanlah domba-domba-Ku”, yang dalam versi Young’s Literal Translation ketiganya juga dibedakan dengan kalimat “Feed my lambs”, “Tend my sheep”, dan “Feed my sheep”.
Kalo untuk bagian ini saya ga punya penjelasan, jadi yang bisa menjelaskan tentang ini, please do share with us ya ;)

Sunday, April 26, 2015

Walau Ku Tak Sempurna

Beberapa bulan belakangan ini self-value/self-image saya lagi di titik nadir. Iblis rajinnya kebangetan nyerangin saya. Kreatifnya juga bukan main, segala hal besar maupun kecil bisaaa aja ujung-ujungnya ke sana.

Inikah rasanya krisis sepertiga baya? (Kembarannya krisis separuh baya)
@_@

Lagi galau bin frustrasi, waktu saat teduh saya
dapet ayat ini:
Psalm 35:3: Say unto my soul, I AM thy salvation.

Saya sangat diberkati oleh ayat ini dan pembahasannya, sampe-sampe dapet enlightenment yang bikin saya breakthrough. God is so awesome. Betapa banyak hal-hal kecil yang tampaknya gak berarti ternyata jadi puzzle pieces yang sangat signifikan di tangan Tuhan.

Saya pake aplikasi Alkitab berbagai versi di HP android, dan di dalamnya ada beberapa bahan saat teduh. Salah satunya ya yang saya bahas ini. Sama sekali gak ada keterangan apa-apa tentang penerbit maupun penulisnya, jadi saya cuma bisa kasih info bahwa bahan saat teduh ini berbahasa Inggris dan bahasanya rada-rada antik-puitis-rumit gitu, saya sering gak ngerti :P

Anyway, di Mazmur 35 ini ceritanya raja Daud lagi perang, dan dia berdoa kepada Tuhan, meminta supaya Tuhan mengingatkannya, bahwa Dia adalah keselamatan Daud.

Sobat saya Sarah Eliana pernah membahas nama yang Tuhan pake buat memperkenalkan Diri untuk pertama kalinya kepada Musa, yaitu YHWH atau Yahweh atau dalam bahasa Inggris I AM. Baca tulisannya yang bagus banget di http://www.sparrows-rubies.blogspot.com/2014/11/sebelum-abraham-ada.html

Saya takjub karena Mazmur 35:3 dalam bahasa Inggris juga menggunakan frase “I AM”, yang menggambarkan TUHAN Allah yang Mahadahsyat yang menjadi keselamatan Daud, sebagai encouragement yang Daud minta dari Tuhan.

Pertanyaannya, KENAPA Daud berdoa seperti itu?

Karena Daud RAGU.

Raja Daud yang disebut sebagai “a man after God’s own heart” atau “berkenan kepada Tuhan”, yang nulis ratusan mazmur, puisi dan nyanyian buat Tuhan, yang sedih maupun senang selalu nyari Tuhan, marah pun dia curhat sama Tuhan, dan salah satu raja terbesar yang pernah ada di Israel, bisa ragu-ragu juga ya?

Somehow penyingkapan ini menyentuh hati saya. Daud aja bisa (dan boleh) ragu-ragu, apalagi saya.... Wah saya sering bukan cuma ragu-ragu, tapi juga down, putus asa, bermuram durja, negative thinking, marah-marah gak jelas, bete, dan seterusnya. (Stop sebelom terbuka aib lebih lanjut :P).

Doubt doesn’t make us less christian.
Keraguan Daud gak bikin Daud kurang berkenan kepada Tuhan.
Demikian juga kelemahan atau sifat jelek saya gak membuat nilai saya berkurang di mata Tuhan.

Tuhan sudah memberikan Roh Kudus di dalam diri kita orang percaya. Roh Kudus memberi kita kuasa Ilahi. (Baca tentang Roh Kudus di sini, tulisan ini mencerahkan pemahaman saya.)

Kuasa ini bukan kemampuan supranatural buat gagah-gagahan membalas orang jahat, atau membela diri dari orang jahat. This divine power is the power that enables us to PERSEVERE in hardship, to TESTIFY God’s grace even in my worst moments, to stay FAITHFUL in my weakness, and so on.

That’s why although I am in my worst condition, the Holy Spirit enables me to respect my husband as God commanded. Jadi mestinya meskipun lagi bete berat, saya gak jawabin suami/anak dengan judes binti ketus :P Bukan karena saya wanita yang oh sungguh saleh, tapi karena Roh Kudus akan memampukan saya, ASAL saya memilih untuk merespon dengan benar.

Although I’ve been misbehaving, I am still able to bless the poor and help the needy, because of the Holy Spirit.

Jadi, jangan ketipu tuduhan iblis seperti:

“Ah sifat jelek kamu muncul lagi, Tuhan kecewa kali ya...”

“Suami mustinya ngerti kalo kamu lagi bete, mending diemin aja dia daripada ntar jadi ribut...” *plus paket bisu tujuh hari tujuh malem*

“Did you just lose your cool again? Your poor daughter, she’ll follow your angry style...”

“Ngapain berbuat baik di luar kalo di rumah jadi batu sandungan. Munafik....”

My bad behaviour may not please God, but it doesn’t make Him love me less.
I may be misbehaving this morning, but it doesn’t mean I cannot do good and loving things or serve the poor and the needy.
Screw the devil, none of us is perfect! And being imperfect shouldn’t stop us from doing His will, or serving His purpose.

Allah mengasihi kita bukan karena kita layak dikasihi, tapi karena itu emang sifatnya Dia.
“Karena Allah adalah kasih “ (1 Yohanes 4:8)

“Roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41, Markus 14:38)

Makanya di dalam diri kita, selalu ada peperangan batin. Roh yang penurut ingin kita melakukan yang benar, sesuai yang diajarkan Roh Kudus kepada kita. Tapi daging kita yang lemah bikin kita susah melawan kecenderungan-kecenderungan kita yang jahat. “...di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” Roma 7:18-20

“Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.” Mazmur 103:14

Tuhan tau kita ini debu, Dia tau kita bakal jatuh bangun. So, kalo jatuh, ga usah putus asa. Yuk bangun lagi, biar kondisi lagi jelek, mari kita memilih merespon dengan benar, seperti yang Roh Kudus gerakkan di dalam diri kita, karena Roh Kudus juga yang akan memampukan kita.

Wednesday, April 22, 2015

Our Daily Grins eps.19

Sunday, lunch time, at a restaurant.

Tengah2 makan, D berdiri, muterin meja makan menuju ke tempat mama duduk, dan berbisik:

D: Maw, D tau apa itu "waris".

M: (Mikir bbrp detik, lalu "aha moment", ngerti klo anak ini bermaksud ngomong satu kata yg menurut dia jorok dg berbisik2 supaya ga ditegur. So mama decided to minimize potential harm.)
Iya, mama jg tau, "waris" itu warisan, barang yg ortu kasih ke anaknya, biasanya klo ortunya meninggal.

D: Haah?! *bingung badai*
*mikir*
Ih, bukan Maaw.... waris itu yg di pantat itu looh... yang berdarahh.... *lupa ngomong pelan2*

M: *pura2 asik ngobrol aja sama Papaw supaya ga usah ngebahas wasir di saat makan*

D: Maaw... Maw... apa dong itu, yang berdarah di pantat? *seperti biasa, pantang menyerah*

M: Nanti aja ah di mobil baru mama kasih tau...

D: Uuuhh...

Beberapa menit kemudian.

D: Oh! WASIR! Iya D inget sekarang. Wasir, ya kan Paw? Wasir kan, yang berdarah di pantat itu..., hiiyy... jijik ya Paw...

M: -.-'

P: *ngakak sampe aer mataan, rupaya dr tadi gak ngeh tentang topik yg diributin anaknya*

P & D ketawa ngekek2 bareng membahas wasir.

M: *makin speechless*


Such is our typical meal time. Or many other time, for that matter. Funny, yes? Frustrating? You tell me... :)

Monday, March 9, 2015

Elia dan janda histeris :D


Tempo hari saya baca firman Tuhan di 1 Raja-raja 17:7-24, kisah tentang Elia dan janda di Sarfat. Kisah yang terkenal ya. Sang Janda yang 2x dapat mujizat karena iman dan ketaatannya.
Atau benarkah begitu?

Cerita ini terjadi pada waktu bencana kekeringan dan kelaparan melanda Israel selama 3,5 tahun. Di awal masa kekeringan, Elia kabur dari raja Ahab yang jahat, dan tinggal di tepi sungai Kerit, di mana Elia secara ajaib dipelihara Tuhan dengan cara dibawakan makanan oleh burung-burung gagak. Selang beberapa waktu, sungai Kerit pun kering, dan Elia disuruh Tuhan pergi ke Sarfat, Tuhan bilang dengan jelas bahwa Dia sudah memerintahkan seorang janda untuk memberi Elia makan (ayat 9).  Anehnya, di ayat 12 setelah Elia meminta diambilkan minuman dan makanan, janda itu kok jawabnya gak kayak orang yang udah nerima perintah dari Tuhan ya. Dia ini gak paham, enggan nurut atau pura-pura gak tau? Malah pake bilang mau mati segala.

Setelah Elia bilang bahwa persediaan tepung dan minyaknya gak akan pernah habis sampai hari Tuhan menurunkan hujan ke Israel lagi, barulah wanita itu nurut.  Saya curiga (sifat buruk yang gak patut ditiru ya, pemirsa... hahaha) dia ini nurut beneran karena beriman dan terinspirasi dan takjub karena udah menerima janji Tuhan, atau karena penasaran mau membuktikan bener apa enggaknya omongan Elia. Kelaparan udah sedemikian parahnya sampe nyawa udah terancam, gak ada ruginya mengorbankan segenggam tepung dan minyak terakhir, kalo tarohannya adalah persediaan tepung dan minyak yang tidak akan pernah habis! Wow banget gak sih kalo sepanjang kekeringan dan kelaparan dia punya persediaan yang gak bisa habis?!

Dan setelah wanita itu melakukan bagiannya (taat memberikan tepung dan minyak alias makanan terakhirnya kepada Elia), maka Tuhan pun melakukan bagian-Nya dan menepati janji-Nya.

Selang beberapa waktu, anak wanita itu sakit parah sampe udah berenti napas. Simak gugatan wanita itu kepada Elia di ayat 18: “Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?”
Dalam Alkitab versi King James, kalimat “menyebabkan anakku mati” adalah “to slay my son”, yang berarti wanita itu menuduh kedatangan Elia-lah yang membunuh anak itu.

Bingung saya. Ini wanita yang iman dan ketaatannya sering dipuji dan dikotbahkan, kok responnya gini. Jangan lupa bahwa dia sudah dan masih menikmati mujizat tepung dan minyak yang gak habis-habis. I mean, come on! Di dunia ini cuma ada segelintir orang yang ngalamin pengalaman supranatural yang begitu riil. Bukannya respon yang (menurut saya) lebih wajar adalah tergopoh-gopoh manggil Elia buat sembuhin anaknya? Bukannya bencana itu tempo hari juga udah hampir merenggut nyawanya dan anaknya?

Lagipula dia juga nuduh kedatangan Elia adalah untuk mengingatkan kesalahannya. Apa dia ada dosa tersembunyi dan merasa tertuduh dengan kedatangan seorang hamba Tuhan ke rumahnya?

Kemudian Elia minta supaya anak itu diberikan kepadanya (ayat 19). Keliatannya wanita itu cuma buang muka (hehehe.... yang ini asli bayangan saya doang), gak mau kasihkan anaknya ke Elia, soalnya di kalimat berikutnya tertulis “Elia mengambil anak itu dari pangkuan perempuan itu, ...”. Saya cek di terjemahan-terjemahan lain, keterangannya sama.

Oh beginilah kelakuan wanita yang lagi BETE berat. Iya gak? Kelakuan saya sih iya suka kayak gitu wakakakka.... *ngaku*
Mungkin wanita itu histeris ya, sampe gak terkendali lagi responnya. Bisa dipahami sih, secara suaminya udah meninggal, sekarang anaknya semata wayang (hampir) mati juga.
Sekedar info, kalo di bahasa Indonesia, istilah janda berlaku buat seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya atau bercerai dari suaminya, tapi kalo dalam bahasa Inggris, istilah widow itu khusus buat istri yang ditinggal mati suaminya, kalo cerai itu disebutnya divorced, bukan widow.

Setelah anaknya secara mujizat hidup kembali, wanita itu bilang, “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar.”
Haah? Gak salah nih? Ke mana aja bu...? Bukannya sekian lama disediain makan secara mujizat? Kok baru sekarang dia yakin bahwa Elia tuh beneran nabinya Tuhan dan firman yang disampaikan melalui Elia itu benar. Jadi selama ini dia masih ragu, atau emang gak percaya, atau gimana? Kenapa gak percaya, padahal udah dapet mujizat? Lebih heran lagi, kenapa dapet mujizat kalo gak percaya?
Soalnya kalo saya baca mujizat-mujizat yang dibuat oleh Yesus, sebagian besar mujizat berakar dari iman. Berulang-ulang Yesus bilang “Imanmu menyelamatkanmu.”
Yesus tidak membuat banyak mujizat di tempat di mana iman masyarakatnya kurang: “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” (Matius 13:58)

Janda yang membingungkan...........

Mungkin Tuhan mau ngajarin saya, bahwa dengan segala kelemahannya pun janda Sarfat bisa dipakai oleh Tuhan. Ya, bahkan seorang perempuan tertekan yang histerisan dan berani menggugat Tuhan dan hambaNya sekalipun. A woman at her worst condition and situation.
Jangan lupa bahwa sebelumnya, di awal cerita, ketaatan janda Sarfat kepada janji Tuhan walaupun ternyata masih dia ragukan, patut diacungi jempol.

Satu hal lagi yang saya pelajari, janji Tuhan beneran YA dan AMIN. Bahkan gak tergantung iman atau percaya enggaknya kita. Kalo Dia udah kasih janji, Dia akan genapi, NO MATTER WHAT.
Janji Tuhan dengan memberikan mujizat tepung dan minyak yang tidak habis membawa janda Sarfat melewati bencana kelaparan. Mujizat-Nya yang kedua bahkan Dia berikan meskipun janda itu tidak berespon dengan benar dan masih meragukan Tuhan. Dan kisahnya diabadikan di Alkitab, sampe sekarang, lebih dari dua ribu tahun kemudian, masih menginspirasi kita.

Saya bukannya bilang bahwa kita bakal dapet mujizat dan janji Tuhan meskipun kita gak beriman dan gak berespon dengan bener loh ya... Pakem yang bener adalah iman dulu, baru mujizat turun, seperti yang Yesus bilang.
Yang saya mau bilang adalah bahwa kuasa Tuhan TIDAK BISA DIBATASI oleh respon kita yang gak bener atau oleh ketidakpercayaan kita. Janji Tuhan diberikan buat siapa aja yang Dia mau, orang percaya maupun orang yang belum percaya, dan AKAN DIGENAPI, apa pun yang terjadi.
Hanya alangkah baiknya kalo kita yang udah menerima anugerah-Nya tidak mengeraskan hati, beriman, dan memberi respon yang benar.
APALAGI kalo dapet juga janji dan mujizat! Udah dapet jackpot gitu, kalo masih juga bete dan gak percaya mah sungguh TER-LA-LU. :)

Tuesday, January 13, 2015

Resep Sosis Rumbai Aglio Olio ala Mamaw



2-3 sosis gendut (sy pake bockwurst)
100 gr spagetini (spageti yang agak kecil; bukan yg angel hair ya)
3 sdm extra virgin olive oil
1 siung bawang putih, geprek, cincang
1/4 siung bawang bombay, potong dadu kecil
1/2 sdt mixed herbs (oregano, thyme, rosemary, bebas sesuai selera)
Garam, merica
1/2 tomat, potong dadu kecil (optional)
Seledri iris halus (optional)

Cara membuat
1. Panaskan air di panci sedang.
2. Sosis dicuci bersih, potong 3 bagian seperti di foto no 1. Biarkan sampe gak beku lagi
3. Kalo udah gak beku, tusuk2 dg spagetini. Klo saya sosis yg ujungnya bulet saya tusuknya gak sampe nembus, biar kayak ubur2 gitu. Sosis potongan tengah sy tusuk spageti sampe nembus. Liat foto no 3 supaya jelas.
4. Rebus spageti beserta sosisnya. Ati2 putus...
5. Setelah al dente, tiriskan.
6. Di pan agak besar, tumis olive oil, masukkan bawang putih, bombay, biarkan sampe kekuningan. Masukkan bumbu2 dan tomat+seledri kalo pake. Boleh kasih sedikit air rebusan spageti tadi kalo dirasa terlalu kering. Kalo dah wangi spageti yang udah ditiriskan. Aduk perlahan2 sampe bumbu meresap.

Ini bisa juga buat bekal skul anak. Mayan buat ngobatin matgay alias mati gaya ;)

NB. Buat yang bertanya2, menu ini akibat diet yang ancooorrr selama liburan natal taun baru heheheh... Masuk th 2015, kami lagi mereview ulang dietnya D. Please wish us luck, or better yet, pray for us... ;)

Sunday, December 14, 2014

The Day the World Stopped Spinning

It started and almost ended like any other day.
Right at my last task of the day –helping my boy prepare for bed-, he complained that his leg hurt. As he often falls and scrapes his knees due to his heavy-duty movements, I was ready to dismiss the complaint. Until he came to me to show me the part where he hurt. His right knee. A bump in his right knee. Not a swelling, but a hard lump. A lump the size of a chicken egg. Part of my training as an MD taught me to always compare left and right for physical examination of the limbs, and in this case, the right knee was definitely different from his left. That was quite a disturbing finding. My thoughts went back to my few years of hospital work, when I saw many cases of debilitating illness in children. All of which weighty and disheartening.

With alarming match, the signs pointed to possibility of an unpleasant growth. The hard, dense, fixated, tender mass was awfully suspicious. My heart was gripped with fear.

Now parenthood is unanonimously loaded with worries. Some of which are negligible. You worry when your kid won’t eat, you worry when your kid won’t poop, you worry when your kid has curved legs, and so on.  When your kid bleeds from her nose, you wonder if it is some blood abnormality. When your kid has rash you wonder if it’s haemorrhagic fever. When your kid puke and pass watery stool to the point of dehydration, you wonder if he’s going to survive. Our hearts are no longer in its safe place the moment you are blessed with a child.
Many of those worries don’t make it to reality, of course. Worries are just worries, unpleasant as they are.

But from experience, I knew first hand that some of those worries really did become reality. Or rather, became your worst nightmares.
I have seen parents sat by their children’s hospital beds, holding their helpless little hands. Or helped the nurses take off  yet another sheet full of blood or vomit, or held their beloved little bodies down by force, so that they could get proper treatments.
Some of them mercifully and miraculously got happy endings.
Others had to go home carrying their dead children’s limp little bodies, failed to comprehend why the world outside went on like nothing happened, while their world was falling apart.
I have held a broken mother’s in my arms, crying with her and dumbstruck by her story, “The 4 of us, my husband, myself, my daughter and my son came to this land in a transmigration program. Now only 3 or us will go home. Who would have thought, we came here just to lose our dear son.” All the while, her husband was swaying their dead boy’s body for one last time. The nurses said it already took too long, but I told them to let them be.

So some worries are unreal. But to those who happen to get the actual grave diagnoses, they are very much real.

So what’s the story of my boy’s knee lump?
As I did a little research, reading textbooks, and other resources, my finding seemed gloomy. I really, really hoped it wasn’t a bone mass, because bone masses are rarely benign, especially in children. The age, the gender, the location, all were really suspicious. Now my fear grew significantly more intense.
I fell on my knees before God. All I could do was beg in tears, “Please, Father, no... Please let this cup pass away from me...”  And in a brief moment, somehow I could relate to Jesus’s prayer in Gethsemane. “But Thy will be done, not mine...” this last sentence came with another surge of tears, and less wholeheartedly uttered.

The God that I worship is unmistakably good. But it is His fondness of processes, sometimes seemingly merciless processes, that I often find too daunting for my liking.
Will this be another one of those nerve-wrecking  processes? No....

We decided to take D to evaluation the next day. We prayed and prayed and begged for a good result.
Through X-ray we found out that the lump was not a bone mass. We still don’t know what that is, and we will need further evaluation. But our worst fear has lifted. The cup mercifully did pass away. Thank God.

Many would think that this is just another stupid parental over-anxiety. I had a friend bluntly stated I was beyond exaggerating.
Well I guess one can only see my point if he’s been diagnosed with cancer, or other grave or unexplained illness.

The anxiety seems silly alright. But the consequences are real. The fear of the unknown is also very real.

In this fallen world where anything dire can happen, I choose to see it from a humble perspective: a mere creation’s point of view. A human being who is powerless, vulnerable, and totally dependent upon her Creator’s mercy. Because this perspective allows me to surrender to God’s sovereignty. To entrust the unknown into His loving hands, wisdom, and plans. Plans of peace and not of evil.

Thy will be done.

“For I know the thoughts that I think toward you, saith the LORD, thoughts of peace, and not of evil, to give you an expected end.” Jeremiah 29:11