Monday, July 16, 2012

Galau Pra-Nikah

Postingan ini didedikasikan buat sodara/sodari yang akan memasuki gerbang pernikahan :)

Jadinya panjang, so bacanya yang semanget yak! :D

Udah lama saya pengen nulis tentang topik ini, tapi ketunda-tunda akhirnya terlupakan :P Keinget lagi pas tempo hari saya baca tulisannya my pren Lia Stoltzfus yang bagusss banget. Silakan baca di sini ya…

Berkaca dari pengalaman, biasanya ini nih yang ada di pikiran para calon penganten:

Galau.
Bimbang.
Takut salah melangkah.
Masih belum sreg, belum ‘yakin 100%’.
Senang dan excited sih, tapi…. -banyaaaak banget tapinya, bener apa betul? ;)
Apa sebaiknya ditunda aja ya?


Di film2, kita dicekokin drama yang serem2: ‘salah pilih suami/istri’, krn menikah pas dimabuk cinta, padahal cinta sejatinya ternyata sahabatnya sendiri (inget film Ayat-ayat Cinta? Atau Kuch Kuch Hota Hai?); atau ditinggal di altar karena pasangan mendadak batalin menikah (inget film Runaway Bride?); atau setelah menikah suami dan mertua baru keliatan belangnya, meneror dan menyiksa sambil morotin hartanya si istri (ini mah sinetron banget, maap saia ga ada referensi judulnya heheheh..)

Trus kalo denger cerita, tingkat perceraian meningkat, baik di kalangan orang biasa, public figure, tua atau muda, udah lama nikah atau baru nikah, bahkan di antara para pemuka agama sekalipun. Duh hati jadi miris dan ciut ga sih dengernya?

Sebagai orang yang udah been there, done that alias udah pernah ngalamin bergumul dalam membuat keputusan menikah, saya bisa bilang bahwa: GA YAKIN 100% ITU WAJAR. Sangat wajar. Coz keputusan menikah adalah salah satu keputusan terbesoarrr dalam hidup. So ga boleh salah dong… Saya malah ragu-ragu, apa bener ada orang yang 100% yakin bahwa keputusan menikah dg calonnya adalah keputusan yang benar.

Kenapa saya bilang ga yakin 100% itu wajar? Karena kita manusia ga tau masa depan. Dan kita manusia takut sama apa yang kita ngga tau. Itu udah sifat dasar. Kita takut & nervous pas hari pertama kerja, atau kalo harus masuk ke komunitas baru, sebagian besar karena kita ga tau bakal ngadepin apa.

Meskipun ragu-ragu itu wajar, bukan berarti bisa diabaikan begitu aja, hayok maju terus pantang mundur, HAJAR BLEH! Sama sekali bukan.

Kalo hubungan kalian dirasa belum mantep, atau belum ada restu dari keempat ortu, atau masih ada ganjelan /masalah besar (misalnya masalah agama, belum ada penghasilan tetap, beda visi misi, masih ada masalah keluarga atau hal-hal lain yang prinsip), adalah bijaksana utk bener2 mempertimbangkan kembali keputusan buat menikah. Bukan berarti kalo ada masalah2 di atas ga mungkin bisa menikah, tapi dengan masalah2 prinsip yang belom teratasi, bakal jauh lebih sulit ngejalanin pernikahan.

Karena PERNIKAHAN TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH. Pernikahan justru membawa masalah.
LHO? Serem amat sih…

Saya bukan nyumpahin, cuma mau meluruskan, karena banyak orang memutuskan menikah utk ‘menyelesaikan masalah’. Misalnya masalah ga direstui, terus nekad kawin dan nikah, jadi para ortu mau ga mau KUDU MAU merestui. Terpaksa.

Ada juga yang memutuskan utk menikah supaya bebas dari keluarga asal yang terlalu mengekang.
Ada juga yang menikah utk dapetin bantuan finansial (kawin ama rentenir kaleeee…).
Ada juga yang menikah utk menaikkan status atau menyembunyikan aib.
Macem-macem dah.

Pernikahan memang bisa mengubah keadaan. Tapi biasanya tidak bisa menyelesaikan masalah.


Yang udah merit mungkin tau ya, betapa susahnya menyatukan 2 hati, 2 pikiran, dan 2 kepala yang semuanya beda. Plus menyatukan 2 keluarga besar, keluarga asal suami & keluarga asal istri. Menyatukan kebiasaan2 yang beda. Pola pikir, nilai-nilai, dan segunduk beda-beda lainnya. Tahun-tahun pertama pernikahan biasanya menjadi masa2 adaptasi yang ‘seru’ :P Belom lagi kalo udah ada anak. Tambah ribet, dijamin!

Lantas apa mendingan ngga usah nikah aja? Ya bukan gitu.


Yang saya mau bilang adalah, kalo udah ngelewatin PERSIAPAN YANG MATANG, you should brace yourself and go for it. Kuatkan hati dan jangan takut buat melangkah maju.


Persiapan yang matang kek gimana sih?

Wah bisa-bisa saya rempong kalo kudu mereview semua teori tentang persiapan pernikahan.

So, saya bakal sebut intinya aja di tulisan ini, secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (Proklamasi kali…):

1. Sudah sama2 berdoa dan dapetin jawaban doa bahwa Tuhan memang menghendaki kalian menikah. Mungkin ini yang paling susah ya. Tau dari mana bahwa ini kehendak Tuhan? Feeling doang apa beneran Tuhan udah jawab? Ini akan butuh penjelasan di satu postingan blog tersendiri :P

 
2. Udah melalui masa perkenalan yang cukup. Cukup = 1-3 taon, idealnya, tapi ini menurut saya doang hehehe… Saya pernah denger and setuju banget sama perkataan yang bilang bahwa setelah 2 taon pacaran/courtship, saatnya membuat keputusan, apakah akan menikah atau putus. Karena kalo seudah 2 taon you still don’t have a clue if you two should tie the knot, this probably isn’t a healthy relationship, atau hubungan ini belum berhasil dibina dengan mantap, (atau mungkin juga kalian mulai pacaran terlalu dini, belom cukup umur utk mikirin nikah :P). Dan kalo udah lewat 2 - 3 taon, apalagi 5 taon dst, hubungan pacaran masih jalan tapi ganjelan prinsipil yang ada belom juga terselesaikan, akan semakin susah utk membuat keputusan berpisah. Karena keburu males utk start over with someone new (kudu mulaiin dari awal lagi: naksir2an, usaha pedekate, abisin waktu utk penjajakan, dst), atau udah males banget mikir ‘tanggung jawab kekeluargaan’ alias sungkan ama keluarga besar dan handai taulan yang udah telanjur kenal baik dg pasangan kita. Nantinya setelah kamu start over dengan pasangan&relationship yang baru, biasanya akan lebih susah buat pasangan barumu ini utk ngerasa secure, karena ‘riwayatmu doeloe’ dengan mantan yang kelewat lama&udah dalem. Again, ini ga ada dasar yang kuat, cuman hasil pengamatan dan renungan pribadi doang ;)

3. Udah menyepakati prinsip-prinsip dasar untuk hidup bersama setelah menikah (contoh: udah sepakat bahwa setelah merit/punya anak istri akan tetep kerja atau jadi ibu RT; akan tinggal terpisah atau gabung dengan keluarga asal; visi&misi 5-10 tahun ke depan; dan sejenisnya).

4. Kedua pasangan udah dewasa. Artinya udah siap menjalani hidup dengan tanggung jawab sebagai orang dewasa: mampu menyelesaikan masalah secara dewasa (ga sedikit2 minta tolong ortu: “Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Matius 19:5), dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, istri/suaminya, dan kelak anak-anaknya.

5. Sadar bahwa hidup ini dinamis, tidak statis. Segala sesuatu berubah (keadaan akan berubah, dan yup, suami/istri pun PASTI AKAN BERUBAH, baik fisik/mental/spiritual). Perubahan itu bisa ke arah yang lebih baik, bisa juga ke arah yang lebih buruk. Bersiaplah menyesuaikan diri dengan perubahan dan terus maju dengan optimis meskipun ada perubahan.

6. Komit untuk menjalani peran sebagai suami/istri sesuai “kodrat”nya:
“Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Efesus 5:25;
“Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.” Kolose 3:18.

7. Ingatlah bahwa marriage is for a lifetime. Once you enter it, there’s no way out, sampai maut memisahkan. Divorce might seem to be a choice, but seperti halnya menikah tidak menyelesaikan masalah, demikian juga bercerai tidak menyelesaikan masalah. Sesaat tampaknya seolah-olah perceraian akan menyelesaikan masalah/menghilangkan beban-beban tertentu. Tapi perceraian juga menabur banyak benih-benih dosa & masalah di kemudian hari. “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel” Maleakhi 2:16a.


Kalo entar mentok karena ada masalah megadahsyat yang tak tertanggungkan lagi begimane dong??
Terus terang saya ga tau jawabannya, kudu nanya ke konselor or hamba Tuhan kali :P
But satu hal yang pasti, we have a mighty God who will carry us and our marriage all the way through. Yang penting banget dari awal mindset kudu di-setting dulu, to NEVER CONSIDER DIVORCE AS A WAY OUT. Pikiran yang berbunyi “merit aja dululah, entar kalo ada masalah tinggal cerai” kudu DIHAPUS bersih2 dari pikiran kita. BIG NO NO. PAMALI. TABU. HARAM!

8. Em… apa lagi ya? Belom kepikir, to be continued aja ya di tulisan selanjutnya tentang MARRIAGE :P


Biar mantep, saya anjurkan supaya para calon penganten baca sendiri buku-buku YANG WAJIB DIBACA selama membina hubungan dan sebelum menikah. Contohnya:
1. Lima Bahasa Kasih – Gary Chapman
2. Love for A Lifetime (saya lupa judul Indonya, kalo ga salah Cinta Kasih Seumur Hidup) – Dr. James Dobson

Banyak temen saya yang juga merekomendasikan buku-buku ini, tapi baru sebagian yang saya baca, so ga berani bilang wajib deh. But sebaiknya sih dibaca juga, buat “bekal”, siapa tau ada beberapa buku yang bisa ngejawab pertanyaan yang mengganjal di pikiran :)
1. Sacred Marriage – Gary Thomas
2. This Momentary Marriage – John Piper
3. Love Must Be Tough – Dr. James Dobson


Hidup penuh liku-liku (jadi lagu dangdut deh halaaah…), ga tau kapan nanjak, kapan turun, kapan belok kiri or belok kanan. Kaya naik roller coaster. Dalam kegelapan total :) Tapi selama kita naik roller coasternya bersama Tuhan, hidup berjalan bersama Tuhan, menikah di dalam Tuhan dan menjadikan Dia sebagai yang terutama dalam hidup pernikahan kita, we can trust Him. He will be there along the way. Pasang baik-baik sabuk pengamannya, merem kalo takut, and ENJOY THE RIDE!

Ga ada jaminan bahwa di depan sana semua bakal indah terus. Bakal penuh pelangi dan bintang, ga ada hujan atau panas matahari. Bunga-bunga di mana-mana, ga ada ulatnya. Malah sebaliknya, yakinlah bahwa di depan sana pasti ada banyak tantangan. But we know He holds the future. Buang aja segala kuatir, taroh di bawah salib. Have faith that with Him, you & hubby/wife will make it through. Just walk together, by faith, not by sight.


Saya berdoa buat kalian semua yang akan memasuki pernikahan, semoga baca tulisan ini jadi dapet pencerahan (bukan tambahan kebimbangan wkwkwk… or kalo pun ada kebimbangan, semoga itu kebimbangan yang membangun ya). Kalo ngga dapet apa2 mah kasian deh lu, udah panjang2 baca sampe sakit mata :P

"Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam* terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian. Di atas semuanya itu, kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyukurlah."
Kolose 3:13-15

 
(* kata dendam ini dalam versi bahasa Inggrisnya adalah grievance, yang artinya a cause or reason for complaint, atau bahasa prokemnya GANJELAN alias UNEG-UNEG)

12 comments:

  1. sacred marriage en this momentary marriage tuh bagus budok. gue uda baca. jadi gue yang wajibin aja yah ;p hihihihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah... Iyaa deh nurut aja gue ama ibu Lia eS yg udh lebih senior (dlm konseling2an) :D
      gue br bc sebagian yg This Momentary Marriage, iya bagus bgt. Justru g ambil rekomendasi2 ini dr elu bu wkwkwk..

      Delete
  2. Men are from Mars, Women are from Venus juga buat gua sih ngebantu. Ga fokus ke marriage sih, tapi perbedaan2 dasar antar pria dan wanita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mel, my most diligent commenter :)
      Kepikir jg sih nyantumin Men Are Fr Mars, Women Are Fr Venus. Tp g krg sreg krn g bkn typical woman n kebeneran hubby jg bkn typical man sesuai di buku hihihi... Kok bs ya... Tp iya sih bener perlu jg dibaca ya (along with other books yg ngebahas perbedaan cara pikir cewe&cowo. G pernah baca bk sejenis yg singkat,ringan&lucu bgt,tp lupa judulnya). So, setujuh dah mel! :)
      PS. g br tau tyt bs jg comment dr HP,kebeneran lmyn lancar koneksinya, horee ;D

      Delete
  3. Makasih Nath ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih jg udh baca Thris, my pren :) Senang aq... ;)
      Enjoy jalan dg our Lord Jesus Christ dlm smua persiapan, smg dilancarkan jalan&dimantapkan langkahnya. Amiinn...

      Delete
  4. yank aku setuju bgt buku"lima bahasa kasih " di wajibkan dan kudu di baca...karena buku itu sangat bs membantu untuk memberikan jalan keluar dalam menyelesaikan konflik dalam membina hubungan

    ReplyDelete
  5. Yuhu.. Hunny, surprise nemu comment kamu :) Kirain dr sapa, kok namanya sama ama nama kita, hahaha...
    Thanks ya... ^.^

    ReplyDelete
  6. Like this :) Mantap ulasanx Nath.... utk melangkah ke gerbang pernikahan memang perlu persiapan matang.... yg "PRINSIP" memang perlu dipegang....ditambah ada damai sejahtera dalam menjalani semuax. Sy yg udah 'nyemplung' dah merasakan apa yg Nat blg n SETUJU. DOA mjd yg utama. Mantap Nath buat sharingx..byk diberkati (tu ttg Ibu RT ^_^). Semangat menulis Nath...JBU

    ReplyDelete
  7. Haiii Nopay! :D Seneng baca comment-nya. Thanks ya udah nyempetin baca plus ngedrop comment segala.
    Iya jadi ibu RT buanyaaakk pergumulan ya Nov, apalagi yg merantau kaya kite2 :)
    Makasih udah nyemangatin, jadi tambah semangat nih hehehe... Baca2 lagi ya kalo sempet!
    JBU2, my dear sister in Christ!

    ReplyDelete
  8. Thanks ya.. Membangun sekali.. :)

    ReplyDelete
  9. terima kasih 1 bulan lagi saya memasuki gerbang pernikahan kata2 yg sangat membuat tenang semoga selalu begitu seterusnya

    ReplyDelete

Ayooo silakan berkomentar.... :)